SISI GELAP PUAK MELAYU

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Seorang pemulung, karena tak punya uang, kebingungan mengubur jenazah anaknya. Ia menggedong jenazah itu, sementara orang lalu-lalang seperti tak terjadi apa-apa. Seorang nenek ditemukan tewas lantaran kelaparan. Dua peristiwa ini terjadi di Jakarta. Di tempat-tempat lain, ada juga berita tentang gantung diri siswa SD gara-gara ia belum bayaran uang sekolah. Ada juga berita tentang sebuah keluarga yang mengalami lumpuh layu. Mereka menerima nasib begitu saja, karena tak ada biaya untuk berobat. Masih tak jauh dari Jakarta, beberapa anak mengalami busung lapar.

Sederet kisah lain tentang kemiskinan dan kelaparan, kini telah menjadi berita yang tak lagi mengejutkan. Bagaimana mungkin, kemiskinan dan kelaparan bisa terjadi di Jakarta dan kota di sekitarnya. Jakarta, kota yang bergelimang uang dan kemewahan itu, justru menyimpan kisah kemiskinan dan kelaparan. Itulah realitas paradoksal. Dan ketika tragedi kemanusiaan itu diangkat menjadi berita, masyarakat seolah-olah disadarkan, bahwa kepedulian kita terhadap masyarakat sekeliling, telah pudar, rasa kemanusiaan makin tersisih oleh berbagai kesibukan mengejar uang, reputasi, dan entah apa lagi. Jangan harap bantuan pemerintah. Lupakan pula Dewan Perwakilan Rakyat, karena mereka pun sudah lupa pada nasib rakyatnya sendiri. Bagaimana mungkin kenyataan itu terjadi di Indonesia, negeri yang konon kaya-raya, gemah ripah loh jinawi, dengan gotong-royong sebagai sokogurunya?

Kalangan pers bisa mengangkat peristiwa itu menjadi berita. Itulah salah satu wujud tanggung jawab sosialnya: mengangkat sisi kemanusiaan untuk menyentuh sisi kemanusiaan yang lain. Sastrawan, dengan caranya sendiri, tentu juga punya komitmen yang sama ketika ia dihadapkan pada problem sosial yang mengenaskan. Ia juga bermaksud memotret realitas sosial ketika realitas itu menggelisahkannya. Dalam sejarah sastra Indonesia, kita bisa menemukan berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat kita: tentang kemiskinan dan kelaparan, tentang penganiayaan dan pemerasan terhadap nasib rakyat kecil. Di situlah sastra menempati fungsinya sebagai potret sosial zamannya. Sastra memang bukan berita pers, tetapi fungsinya sama saja ketika sastra bermaksud menyentuh rasa kemanusiaan.

Sekadar menyebut beberapa nama, periksa saja cerpen-cerpen Muhammad Ali, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, atau Joni Ariadinata. Mereka banyak mengangkat kehidupan wong cilik dengan berbagai problemnya. Mereka mengangkat sisi gelap kaum yang tersisih, meski sesungguhnya kehidupan kaum yang tersisih itu berada di sekeliling kita. Hidup di antara kita. Dan kita kerap lalai, bahwa kita ikut bertanggung jawab atas nasib mereka.
***

Kini, dari pojok yang jauh, dari tanah Melayu, satu nama muncul dengan mengusung problem sosial masyarakat di sekitarnya yang miskin, lapar, dan teraniaya. Cara bertuturnya meyakinkan. Olyrinson, sebuah nama yang aneh dan terasa asing. Apakah ia juga mengangkat kehidupan gembel dan kaum gelandangan sebagaimana yang dilakukan Muhammad Ali dan Joni Ariadinata? Atau petani miskin dan kehidupan wong cilik seperti yang banyak kita jumpai dalam cerpen-cerpen Ahmad Tohari?

Olyrinson yang datang sebagai salah seorang warga puak Melayu coba mengangkat sisi gelap dan kegetiran warganya. Nurani kita, pembaca seperti diguncang. Ia laksana menuntut pentingnya rasa kemanusiaan ditumbuhkan. Kenyataan pahit masyarakat di sekitar adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan kita. Olyrinson coba memotret kehidupan warga Melayu yang kere dan tersisih oleh tipu daya atau serangkaian teror penguasa. Mereka berkutat mempertahankan hidup yang terus- menerus dilindas tangan raksasa kekuasaan yang justru menguras kekayaan alamnya. Mereka terpaksa mencampakkan harga diri dan hukum yang berlaku, hanya lantaran tak ada pilihan untuk bertahan hidup. Maut di tenggorokan atau masuk penjara, pada hakikatnya sama saja ketika ia menyadari bahwa hidup tak punya pilihan lain. Mereka selalu dihimpit ketidakberdayaan lantaran tanah garapan, lahan penghidupan, habis dilindas roda industri. Mereka kerap tak dapat membedakan batas tipis antara kelaparan dan merenggang nyawa. Keduanya sama saja. Maka, tak ada lagi penderitaan buat mereka jika penderitaan itu sendiri telah lama lengket menempel dan menyatu dalam kehidupan keseharian mereka. Jika kemiskinan dan kelaparan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka, lalu di manakah tempatnya penderitaan?

Berbagai persoalan itulah yang secara realis diangkat Olyrinson dalam hampir semua cerpennya. Sungguh, kita dibawa memasuki kehidupan masyarakat Melayu yang paradoksal. Di satu pihak, Melayu penuh dengan mitos sejarah kebesaran masa lalu, kekayaan alamnya?hutan dan minyak bumi?yang kaya dan berlimpah. Tetapi, di pihak lain, warga Melayu tetap sekadar penonton yang dengan segala tangis-getirnya, melihat semua kekayaannya diangkuti, dibawa ke mana dan entah oleh siapa, dan tiba-tiba saja tampaklah di hadapan mereka, nyawa anak-istri sebentar lagi lepas. Tak ada lagi sesuatu yang dapat dimakan untuk hari itu dan hari esok. Mereka sadar, ketika perut tak dapat lagi diajak kompromi, maut menunggu di depan mata. Itulah salah satu kekhasan cerpen-cerpen Olyrinson. Mengajak kita ke dunia yang di dalamnya, kemiskinan, kelaparan, dan penderitaan seperti sudah menyatu sedemikian rupa.

Keseluruhan cerpen yang terhimpun dalam buku ini, tak pelak lagi merepresentasikan kegelisahan Olyrinson atas kegetiran nasib warga puaknya. Di sana, ada Emak yang teraniaya, Abah yang terpenjara atau mati tersengat aliran listrik, ibu yang tak pulang-pulang sementara adik mati dalam gendongan, atau serangkaian kisah tragis lainnya yang terasa asing dan jauh, namun tokh tetap mengganggu kenyamanan hati nurani kita. Terkadang kita merasakan, empatinya berubah menjadi tangis memilukan, terkadang pula berubah jadi kemarahan yang tak tersalurkan. Ia seperti marah pada sesuatu yang ia sendiri tak dapat melawannya. Tetapi justru dengan begitu, nurani kita dipertanyakan. Bukankah warga puak Melayu itu pun masih saudara kita juga yang menuntut tanggung jawab kita sebagai warga bangsa?
***

Sebagai cerpenis sesudah generasi BM Syamsuddin atau Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunas MA Jabbar, Olyrinson tergolong pendatang baru, meskipun ia kerap memenangkan tempat terhormat dalam beberapa lomba penulisan cerpen. Gaya bertuturnya yang jernih, penuh empati, dan terkadang seperti menggugat rasa kemanusiaan kita, memberi keyakinan, bahwa sosok Olyrinson masuk kategori cerpenis yang menjanjikan. Mencermati tema-tema yang diangkatnya dan keberpihakannya pada nasib wong cilik, saya teringat pada apa yang pernah dilakukan Ahmad Tohari. Tetapi, dalam soal kemiskinan yang coba disuguhkannya, bayangan saya melayang jauh pada nasib yang sama yang dialami warga India, sebagaimana yang pernah ditulis Mulk Raj Anand atau Romen Basu.
***

Sesungguhnya banyak hal menarik yang menjadi kekuatan dan kekhasan antologi cerpen ini. Secara tematis, tentu saja antologi ini ?harus diakui?telah ikut memperkaya tema cerpen Indonesia kontemporer. Mengingat gayanya yang realis, Olyrinson seperti berjalan sendiri di antara deretan cerpenis seangkatannya yang cenderung mengabaikan gaya itu. Dengan demikian, antologi cerpen ini, terasa seperti asing dan aneh sendiri.

Saya gembira membaca antologi cerpen ini, meskipun kadangkala dibuat jengkel oleh tema-temanya yang seperti menohok dan menggugat rasa kemanusiaan saya.

Bojonggede, 15 Juni 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *