Mimpi Buruk Sastra di Sekolah

Soni Farid Maulana
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

ADA hal yang menarik diutarakan penyair Sunda, Nita Widiati Efsa, dalam diskusi kecil-kecilan dengan penulis mengenai pelajaran sastra Sunda/Indonesia di tingkat SLTP dan SMA. Menurut dia, belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan. Berkaitan dengan itu, dalam mengemban tugas sebagai guru bahasa dan sastra Sunda/Indonesia, seyogianya guru tersebut dituntut untuk memiliki pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang kehidupan itu sendiri. Continue reading “Mimpi Buruk Sastra di Sekolah”

Memajukan Sekolah tanpa Diskriminasi

Lailiyatis Sa’adah*
http://www.jawapos.com/

SECARA ideal, sekolah adalah rumah kedua bagi anak didik. Namun dalam realitasnya, tidak jarang sekolah justru menjadi tempat ”menakutkan” yang membuat siswa tidak nyaman di dalamnya. Tentu saja, ada banyak faktor yang mengakibatkan kondisi yang memprihatinkan tersebut. Salah satu di antaranya mungkin apa yang oleh Paulo Freire disebut dengan ”dehumanisasi pendidikan”, yaitu tempat pendidikan layaknya penjara, yang memosisikan siswa sebagai objek dan guru sebagai subjek. Continue reading “Memajukan Sekolah tanpa Diskriminasi”

Alexander Sergeyevich Pushkin (1799?1837)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=374

KEPADA PENYAIR
Alexander Pushkin

Pantangkan penyair, mengharap sanjung yang ramai.
Riuh tepuk mereka sebentar mati gemanya;
Lalu kaudengar putusan timbangan Pak Tolol
Dan ketawa halayak yang bikin hati patah;
Tapi andai kau teguh, tak guncang dan sederhana,
Rajalah engkau dan nasib raja hidup sendiri. Continue reading “Alexander Sergeyevich Pushkin (1799?1837)”

Bahasa ยป