Rosalia de Castro (1837-1885)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=293

DARI: OP.CIT.
Rosalia de Castro

Hari tentram,
Udara panas-panas-dingin,
Dan hujan turun
Pelan dan bisu;
Dan selagi aku bisu
Meneguk tangis dan mengeluh,
Anakku, mawar mungil itu,
Matanya ditutup maut.
Damai dan sepi terekam dikeningnya, kala
Pamitan dengan ini dunia.

Sungai-sungai pada kelabu; kelabu
Pohonan dan gemunung, abu-abu;
Kabut yang meliputinya, kelabu,
Dan abu-abu gemawan yang berarak di langit.
Seluruh bumi berliput sedih kelabu,
Itu warna usia tua.

Kadangkali redup-redup bangkit desau
Hujan; dan angin
Yang bertiup di pohonan, melulung dan mengeluh,
Demikian aneh, hampa dan perih bunyi
Ratapnya, seakan orang menyeru si mati.

{dari Puisi Dunia, jilid I, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1952}

Rosalia de Castro Murguia, lebih dikenal Rosalia de Castro (24 Feb 1837 – 15 Juli 1885), menulis dalam bahasa Galisia. Sosok penting pergerakan romantis gallegan yang kini dikenal Rexurdimento (renaisans), bersama Manuel Enriquez Curros dan Eduardo Pondal. Puisinya ditandai ‘Saudade’, kombinasi hampir tak terlukiskan nostalgia, kerinduan juga melankolis. Tanggal ia menerbitkan kumpulan puisi pertama Cantares Gallegos (Galician Lagu-lagu), 17 Mei 1863, diperingati setiap tahun sebagai D?a Letras das Galegas (Hari Sastra Galician), hari libur resmi Otonomi Komunitas Galicia, serta didedikasikan teruntuk penulis penting bahasa Galisia sejak 1963. Seorang penentang kuat penyalahgunaan wewenang dan pembela hak-hak perempuan. Menderita kanker rahim hingga meninggal dunia. Citranya muncul pada uang kertas 500 peseta Spanyol. Berdiri bersama Espronceda, Zorrilla serta Gustavo Adolfo B?cquer, dimercu jaman romantik Spanyol {data ditambah dari //en.wikipedia.org/}
***

Tatkala musibah datang, sapaan warna alam menyapu menekan udara, memperuncing detak nadi menggenapi rekaman.

Cahaya pucat buram dasar hati, memahat ingatan serupa diiris belati, dada mengkal menggapit luka dalam sunyi.

Kepada sekawanan burung-burung terbang dimaknai melayat, semua bertolak mengikuti perasaan, hingga matahari terbit seolah-olah terbenam seharian.

Lebih perih seperti berhianat tapi bukan, lantaran restu-Nya, manusia tinggalkan bayang kehidupan bersama air mata kekekalan.

Hanya membawa damai ganjil melihat kepulangan, melewati sisi jalan berbekal kepasrahan, membisu sedalam kesadaran.

Sungai-sungai pemikiran tak mengalir landai, surut di ladang-ladang tak ditumbuhi pohonan, kala batu besar runtuh atas air terjun tiada penghuni, kecuali kesaksian embun telinga nun jauh.

Begitu Rosalia membangun sajak-sajak dari kedalaman tidak terukur, tangan menggerayangi gelap, duga tiada tertanda hadir tiba-tiba kerisauan merajah.

Dinaya kegaiban alam ditarik kekuatan tiada tampak, tetapi sungguh terasa, hukum kalbu mengikuti firasat.

Pandangan hidup berangkat dari perjuangan, sesal pun hadir tercurah mewakili, meski berasal sebersit harapan.

Tumpukan abu tak bersimpan bara, sepi menunggu datangnya badai memusnahkan segala enyah, sirna sebelumnya jadi anganan mimpi manusia.

Andai datang tiupan hayat, namun tak berselang lama, dari redupnya pandangan, keganjilan kuat lengket di dada kelam, masih merasa kepedihan.

Lekas berkehendak menghardik pergi kebahagiaan, sebab tidak menginginkan pergantian.

Dari sajak Rosalia, memancang tinggi aliran romantik, seperti menanam keyakinan, bahwa kalbu diselimuti kenangan, serupa tradisi puisi sulit dilukiskan.

Hanya kematangan waktu menggumuli peristiwa, kelak menuntunnya, laksana pengabdian hidup memberkati.

Seumpama selingkar kalung mutiara di leher jenjang seorang putri, sedari persembahan pangeran takdir, memberkati tahta kejayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*