Santa Teresa (1515-1582)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=323

Santa Teresa (1515 – 1582), penyair wanita Spanyol yang cenderung mistik (seorang rahib biara Karmelit) keturunan bangsawan, namun penuh perhatian terhadap kesengsaraan masyarakatnya. Diumumkan sebagai seorang keramat tahun 1622 oleh Paus Urbanus VII. Bauhpenanya bersifat langsung keluar dari dasar kalbu, bahasa dipergunakannya pergaulan penduduk Kastilia Lama.

SAJAK
Santa Teresa

Jangan biar apapun
Merusuhmu atau mengeri;
Segala benda berlalu,
Hanya Tuhan abadi;
Jadikan sabar pedoman
Dalam hal apa saja;
Siapa punya Tuhan,
Tak kan bakal sengsara;
Tuhan semata, padalah.

{dari Puisi Dunia, jilid I, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1952}

Wanita itu bumi bersimpan air, menyuburkan hayat dengan pengetahuan, darinya akar-akar kesadaran tertanam melahirkan buah-buahan, bunga-bunga menebarkan warna serta keharuman.

Di bumi, seluruh insan berasal darinya, kabut pagi menuju dataran tinggi, awan-gemawan laksana kerudung memayungi gelisah; keteduhan, kesejukan makna teruntuk meresapi keabadian.

Kesantausaan hayat atas restu pemilik kecantikan, yang menjelma penciptaan keindahan nafas-nafas terejawantah keayuan, laku bermuara ke lautan hikmah.

Demikian ketenangan malam tidurkan persoalan siang, mata teduh menentramkan mata-mata gusar, sedang bibir-bibir ditumbuhi senyum, mekarnya menaburkan kebahagiaan.

Di sini perempuan menyeimbang peredaran alam, yang menyelimuti pekabutan mitos, terus tumbuh di ubun-ubun setiap insan memikirkan kejadian.

Jika hujan mulai reda di padang wengi, hewam-gemewan malam keluar dari cela-cela tanah, bersahut-sahutan menembangkan puja.

Peristiwa hayat digubah hingga tiada yang tak bernilai, semua larut serupa bayang ditelan malam, kesungguhan khusyuk menjulang, bahwa tuhan pemilik perbendaharaan.

Sunyi sepi memberi pengajaran sendi-sendi tulang kehidupan, dengan kasih sayang tulus, takkan rapuh jalinan ruh ke batas kubur.

Dialog saling bergayuh, sambutlah kalbu, darinya jalan terlihat lapang, antara hidup-mati tiada sekat ruangan, penuh harum ketenangan, meski berseliwer keramaian.

Saat kalimah datang dari lampau jauh, hinggap penuh santun membuka khijab mendenyutkan fikiran, di kala bersila menanti yang datang.

Atau pergi sebagai tanda kehadiran hening penghayatan, duduk berdiam menghadapkan diri berhikayat.

Hari-hari diruapi derita tak bakal ke batas sengsara, kepurnaan luka bathinnya ada madu tercecap lama, begitulah kembara mendapati pengajaran, petapa bersabar dalam goa bathiah.

Tanda-tanda merasuk menjelma daging mendetak kata mendedah menterjemah usia, kalau hidup hanya lewat, kenapa saling membunuh sesama.

Tidakkah menuangkan kendi dalam gelas berisi air, untuk diminum kerongkongan hampir pecah, demi kesunyian menerima fitroh masing-masing di dunia.

Tak bakal dimengerti, kecuali pemahat dinding waktu tiada tampak oleh mata, tapi sungguh terasa adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *