Puisi-Puisi Rio Fitra SY

http://www.korantempo.com/
LIMA UMPAMA

1.umpama air deras, tempat mula semua hanyut dan meneruskan genangan mencari jalan alir hingga tak ada arus yang tersangkut dikait kayu

2.umpama tongkat, tempat segala condong disanggah bersandar bagi bakal tumbang dan patah dari rebah yang akan menegakkan bunyi pecah

3.umpama cermin, tempat setiap malu menjadi retak setiap bayang memantulkan telanjang saat binatang menampakkan badan

4.umpama tupai, tempat pulang segala lompat menyelesaikan batas pisah hingga pohon tak pandai merentang jarak

5.umpama titian, dua seberang ditemukan agar mereka tahu cara berlepasan

Padang, 2009

RUANG BUTA

mata lampu yang nyalang,
benarkah sudah kausigi ruang buta itu?
kemarin ia menyampaikan raba
ke seluruh rupa
dengan hasrat yang ditutup pejam
agar persetubuhan dengan cahaya
melahirkan remang bayang
bersandar di dinding ruang

Padang, 2010

LUBANG

bila kelak jalan sempit ini kian mengakar
meloloskan kaki sekaligus menjerumuskan pijakan
sediam apakah harus dilalui agar bisa menjadi rahasia?
barangkali seperti kelana
semakin ditempuh semakin jauh

sudahkah ditimbun tanah ini dalam peta?
aku mencari-cari
tapi aku hanya menemukan kelam
untuk mengubur sebongkah tanda
hingga tak dapat lagi kukeluarkan segunduk isyarat
kuterima saja penggalian
sebagaimana galian menerima kedalaman

Padang, 2009-2010

TEMALI

sekadar ulur, kau pun menjalari jalur
merentangkan pengukur
selebar pangkal, kau pun menjengkal
mencari ujung hitungan panjang:
berapa banyak meluncur
angka yang salah dijumlah?

jengkalmu meminta tangan
belajar berdoa
menampung di sorga

siapa yang tak sungkan mengunduh buah
dari batang pohon yang di situ?
sedangkan aku malu-malu bertanam biji
dan memanjatkan simpul niat
sebagaimana pahala seorang penjaga
dan pinta seorang penggoda

kau pun terpikat untuk menarik diri
menjadi bentangan
membuat jarak menjadi tegang

Padang, 2009-2010

SEPASANG SAKU

tanganmu apalagi tanganku
begitu ragu menaruh genggam
setiap kali mampu bertaruh
setiap yang sukar ditakar
jadinya segala yang kita sentuh
kita terima dengan sebuah salam
menciptakan jabat yang sebentar

mestinya kita percaya masih tersisa
sekeping denting ketika mengeruk dalam-dalam
tapi kita tak pernah tahu kapan mestinya peduli
pada yang melompong atau berhuni
betapa sedikit selalu kita sebut tipis
demi tebal agar disebut kantong

Padang, 2010

*) Lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Bergiat di Komunitas Ruangsempit dan Teater Noktah di Padang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *