Sara Teasdale (1884-1933)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=425

LAGU MALAM DI AMALFI
Sara Teasdale

Kutanyai langit gemintang,
Apa yang dapat kuberi kasihku.
Jawabnya padaku: Senyap melantang,
Senyap diluhur.

Kutanyai laut mengarang
Yang menelan anak nelayan.
Jawabnya padaku: Senyap melantang,
Senyap mendalam.

Wahai, ia dapat kuberi ratap
Atau hiburan suatu nyanyian,
Tapi betapa memberinya senyap,
Selama hayat dikandung badan.

Sara Teasdale (8 Agus 1884 – 29 Jan 1933) penyair Amerika, lahir dan mendapat pendidikan di kota St. Louis. Sering keliling Eropa, juga Timur Tengah, menetap di New York 1916. Himpunan sajaknya yang pertama, Sonnets to Duse. Sifat kentara sajaknya, pendek tetapi tajam, lincah memainkan kata-kata yang digerakkannya, atas alunan irama gemulai. Buahpena terkenalnya, Flame and Shadow (1920), berkenaan isi meningkatnya usia, semakin dalam fikirannya, tentang jaman akan datang, juga perubahan dibawa pertukaran tahun. Seperti Emily Dickinson, ucapannya ringkas namun mengagumkan. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953}.

Berpuisi ialah seni berbahasa, memancarkan keindahan cahaya kata, demikian pula sosok wanita, santun berwibawa.

Manakala keduanya terangkum, kelembutan bertumpuk, kabut mengendap memakmurkan buliran embun mata, yang penyapa di pepagian dunia.

Ketika Teasdale memanjangkan rambut ikalnya, kekuatan ditambah dinaya kesabaran, merawat tabah berkibar, menggendarai masa di atas kapal.

Berlayar menyeberangi lautan bathiniah, menyibak gelombang menelan ombak, menyapu awan nun jauh tertinggal.

Hidup dilewati sampai dasar kebeningan, pandangan tegap ke depan tiada goyang keraguan, selain cubitan kadang sesayupan.

Pudar kembali menekan kencang, melapangkan dada serentang sayap-sayap elang, mengapung menikmati perikehidupan.

Dan setiap kata memiliki nafas-nafas, seperti pendaran cahaya memantul di dinding kaca;

barangsiapa malafalkan dengan kemerduan mesra, akan diperoleh keremajaan sentausa.

Keayuan langgeng tak terbantah, sebab sajak mampu mengangkat aura dari kedalaman jiwa, meski sedang pekat putus asa.

Kini haturkan diriku, terjemahkan karya Teasdale di atas, dengan biasa dalam tradisi sorogan kitab klasik.

Jikalau ada kekenesan, anggap sedang kutaburi pemanis gula asli, guna tak pekat penalaran saja, tetapi ada alunan sukma, meski sulit dimengerti.

Begitu ringan melangkah difahami, dengan kalbu keikhlasan, demi waktu kuharap mematangkan.

Malam di Amalfi, Teasdale pertanyakan langit gemintang, akan lagu paling pantas dikumandangkan, bagi persembahan.

Namun hanya senyap melantang diluhur tulang;
jawabnya masa di sisi tenggang. Yang bangkitkan hantu-hantu kerinduan, dari abad silam-semilam.

Ada menggeliat di sebalik kesadaran;
perasaan menelusup lembut membuka kelambu kenangan, seakan pintu jendela terbuka lebar menggenapi.

Lentik bebintang mencipta percakapan tiada habisnya, menampung luapan. Ku kira kelembutan kalbu setelah direbus peristiwa hitam, melantak tanjung karang rontok segala keinginan.

Teasdale diselimuti hawa dingin sulit dilukiskan, tapi sangat kentara pada degupan jantung sepi, menggerayangi sekujur kesendirian surgawi.

Terus bertanya dalam tangis kesedihan tegar mendalam, nirwana bathinnya menjadi puing-puing berserakan, air matanya berjatuhan, bulir-bulir garam kepedihan.

Getaran tubuhnya gemeretakkan tanah merah dusta di negeri pewayangan, ditelan bumi sesengguhan tiada tertahan.

Atas jawaban senyap melantang menggemakan ceruk keperihan segala harapan. Namun, ketika menghirup nafasan kembali, hawa sedap malam meremajakan nurani kemanusiaan.

Hadir keriangan ganjil jiwa Teasdale, menyerupai bocah meloncat keluar, berhamburan menuju pelataran, melihat ibunda pulang dari pasar.

Betapa kecewa mengetahui tiada oleh-oleh, meski sekadar kembang gula, senyap rapuh membuatnya berguling-guling di tanah.

Kesadaran dikandung badan melebur sejumlah ujaran moyang. Dirinya menyaksikan keterusterangan berpuisi, yang kelak diwedarkan nafasan penghayatan.

Sunyi masa, mengombak sepanjang rambut ikal panjang menyusuri anganan, menggalang ingatan kerinduan.

Sedang senyumanmu, selalu menebarkan bau-bau ketulusan kembang keabadian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *