Huusss Puusssss, Tardji, Tobatlah!

Saut Situmorang boemipoetra.wordpress.com Kalok kita memang serius berusaha mendekonstruksi Sejarah Indonesia Versi Orde Baru maka salah satu dari Sejarah Indonesia tersebut adalah Sejarah Sastra Indonesia. Dekonstruksi atas Sejarah Sastra Indonesia hanya bisa More »

PEMBENARAN DAN TAMPARAN

Sofyan RH. Zaid * triknews.net Jauh sebelum “Sastra(wan) Generasi Facebook” karya Maman S Mahayana (Kompas, 22/04/2017) yang menggempa(r)kan itu, saya pribadi tidak pernah share puisi di facebook. Kalau pun share puisi, pastilah More »

Martabat Sastra(wan) Facebook

Zulfaisal Putera Banjarmasin Post, 30 April 2017 Apa yang salah dengan karya sastra dan sastrawan di Facebook (Fb) ? Apa karena Fb adalah media yang bebas bagi siapa pun untuk menampilkan karya More »

Sastra Internet vs Sastra Koran-Majalah, Lagi, Maman S Mahayana?!

Saut Situmorang * boemipoetra.wordpress.com Membaca “catatan kebudayaan” Maman S Mahayana, “Kritikus dan Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia”, di Kompas 22 April 2017 cuma membuat saya geleng-geleng kepala saja. Karena tulisannya More »

SASTRA(WAN) GENERASI FACEBOOK

Maman S. Mahayana * Kompas 22 Apr 2017 Fenomena baru dalam sastra—terutama puisi— Indonesia kini sedang terjadi: lahirnya sastra(wan) generasi Facebook. Keberadaan dan peranan media sosial macam FB–juga Whatsapp—membuka jalan lempang bagi More »

Monthly Archives: March 2010

Bukan Kutukan Hujan

M Anshor Sja?roni
http://www.jurnalnasional.com/

Akila melongok langit, mendung tebal menggelantung di atas cakrawala seperti arak-arakan kelelawar memenuhi bentangan langit. Nampaknya malam bakal turun lebih cepat. Gelap memenuhi ruangan kamar Akila. Tidak lama lagi hujan bakal turun.

Akila melihat jam dinding kamar, lima belas menit lagi pukul lima. Akila sedang menunggu seseorang. Seorang lelaki yang bakal menikahinya. Sebentar lagi lelaki itu akan muncul di kelokan jalan raya, menuju rumah Akila. Lelaki itu berjanji bakal datang sore ini. Dia ingin mengenalkan diri pada ibu Akila sekaligus melamar Akila.

Menggunting Dingin Pesisir

Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/

Setiap menerbangkan layang-layang, aku ingin menjadi layang-layang. Tubuhku bisa mengambang, terbang bebas di udara, lalu memandang ke hamparan laut lepas, dengan pantai-pantai yang terjal. Bisa memandang luas pedusunan dan bukit-bukit kapur. Aku ingin terbang, seperti burung-burung.

Mungkin sejak aku di rahim ibu, aku sudah ditakdirkan untuk memiliki keinginan itu. Ibuku sendiri pernah berkisah, bahwa ketika ia mengandungku ia ngidam makan daging burung dara hutan. Burung dara yang tidak punya rumah dan hidup di hutan-hutan di sebelah desa. Ayahku pun bersusah payah mencarinya, karena untuk mendapatkannya memang tidak mudah.

Bertemu Penyair Semarang

Budhi Setyawan
http://budhisetyawan.wordpress.com/

Dalam acara dinas ke Semarang November 2008, saya telah rencanakan untuk silaturahmi dengan beberapa penyair Semarang. Namun rupanya banyak penyair yang tidak bisa bertemu. Mas Triyanto Triwikromo sedang sakit flu berat, sedangkan mas Handry TM dan Gunoto Saparie sedang ada pekerjaan yang sangat urgen berkaitan dengan deadline berkaitan dengan tugasnya di media. Akhirnya saya hanya bia bertemu dengan Timur Sinar Suprabana di Taman Budaya Raden Saleh. Bertemu di sebuah ruangan, kami mengobrol tentang beberapa hal tentang sastra. Juga pertemuan penyair di Solo beberapa waktu lalu, di mana saya tak hadir karena lagi banyak pekerjaan.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
Lembar-Lembar Cahaya

Lembar cahaya
dibuka satu demi satu
menyibak rahasia
ke rahasia berikutnya

Dayang-dayang malam
mengipasi bumi dengan hujan buatan:
hujan bintang-bintang,
dan serbuk cahaya bulan

Puisi-Puisi Dwi S. Wibowo

http://sastrasaya.blogspot.com/
Sebab Malam Tlah Berganti Nama
:sarkem

dalam gelap
aku selalu takut
meniti batang bambu
yang berjajar di muka parit

sebab malam tlah berganti nama

Puisi-Puisi Pringadi AS

http://reinvandiritto.blogspot.com/
le mois

bulan menggelinding. jatuh di sixth avenue, taman peluru
diego. malam pedro. santo-santo yang kembali dari malam paskah
telur-telur berwarna merah muda. bulan di antaranya, sembunyi
dari peluit wasit yang botak kepalanya. o, collina kah ia? tidak. ia
tengah di italia, memahat patung dengan besi-besi terapung di
teluk meksiko. tetapi ia pulalah yang mengusir malaikat yang bertanya
adakah kau lihat bulan menggelinding kemari?