Debussy: Sang Pendobrak Romantik

Ismi Wahid*
http://www.tempointeraktif.com/

Saban Sabtu sore sepanjang Maret ini, Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengadakan kuliah umum yang membahas tentang musik klasik hingga kontemporer. Materi kuliah disampaikan oleh pengamat musik Suka Hardjana. Pada pekan kedua, materi yang disampaikan bertajuk Musik Klasik dan Romantik, serta Impresionisme.Berikut rangkuman materi bagian ketiga.
***
Pada abad 19, musik Romantik sebagai karya seni yang menuntut ekpresi dan kebebasan memang sedang marak-maraknya. Musik pada zaman itu menjadi falsafah seni, bahkan melebihi karya sastra.

Namun tak demikian bagi Claude Achile Debussy (1862-1918). Berbeda dengan para pendahulunya, ia justru banyak menampilkan gagasan-gagasan baru dalam setiap permainan pianonya. Setiap permainan pianonya selalu ia beri argumen dan penjelasan analisis tentang ide barunya dalam musik. Pembelajaran musik pada masa lalu yang lebih didominasi naluri dan bakat telah ditinggalkan. Menurut dia, musik sudah harus dialihkan secara metodologis dalam disiplin pendidikan.

Debussy adalah komponis Pascaromantik asal Prancis yang membelokkan dominasi besar arus Klasik-Romantik yang berpusat pada gaya Jerman-Itali sepanjang hampir 200 tahun. Bagi dia, klasisme dan romantisisme adalah format yang terlalu formal dan kaku untuk dikembangkan. Kritiknya kepada para komponis pendahulu di era Klasik dan Romantik, “Disiplin hidup harus ditemukan dalam kebebasan, bukan dalam formula falsafah masa lalu yang sudah usang dan hanya berguna untuk mereka yang percaya takhayul.”

Mulanya, Debussy memuja karya Beethoven dan Wagner. Namun, ia justru berbalik menjadi penentangnya. Bagi dia, musik adalah penghiburan, bukan beban. Ia memang menjadikan alam sebagai sumber perilaku, tapi tak memperlakukannya sebagai obyek, justru subyek.

Debussy menjadi titik balik dan figur utama pencair musik Romantik. Ia disebut-sebut sebagai pelopor aliran Impresionisme. Tapi dalam bukunya, Monsieur Croche Antidillettante (1921), ia berkelit dari sebutan itu. Debussy tak ingin menjadi bagian dari arus besar aliran musik apapun, agar naluri bermusiknya bisa bebas dan terjaga.

Ia sengaja mengaburkan format maupun struktur musik yang saat itu berlaku. Seperti menghindari penulisan komposisi musik dalam format besar, seperti simfoni, konserto, sonata. Ketika ia menulis opera Pelleas et Melisande (1902), pendekatan struktur, bentuk dan teknik sama sekali berbeda dengan kaidah musik Klasik maupun Romantik.

Bagi Debussy, struktur Klasik dan Romantik telah gagal dan menemui jalan buntu. Sehingga hanya ada pengulangan struktur dalam bentuk yang berbeda. Debussy memilih menulis karya yang lebih pendek untuk menghindari pengulangan-pengulangan, tapi juga padat dan berisi.

Untuk mencipta warna musik dan suara lain, ia tak hanya pergi ke wilayah negara tetangga di Eropa Barat, tapi ia juga pergi ke timur dan selatan yaitu wilayah Balkan, Rusia dan Mediterania. Sistem nada pentatonik dan zaman Antik juga tak luput dari perhatiannya. Adapun sistem nada kromatik mayor dan minor yang menjadi konsep dasar musik Eropa, secara keseluruhan ditinjau kembali olehnya.

Pada forum World Expo Paris tahun 1889, Debussy sangat terkesan dengan tarian dan gamelan Jawa. Permainan itu dijadikannya acuan suasana impresionistik dalam karya-karyanya. Karya Debussy yang banyak dikenal, antara lain, Prelude al Apres-midi d un faune, La mer, Estampes, Suite Berganasque, Images, dan Premiere Rhapsodie.

Yang jelas, langkah Debussy membuka mata banyak komponis di Eropa: masih banyak suara lain di luar dunia mereka yang patut menjadi perhatian dan menjadi inspirasi bagi penciptaan musik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *