Dongeng Bahagia dari Sebelah Telinga

Gunawan Tri Atmojo
http://suaramerdeka.com/

TAK pernah terlintas sedikit pun di benakku untuk mengusut kekeliruan penciptaan apalagi sampai menyalahkan Sang Pencipta atas segala yang menimpaku, karena aku yakin, bahwa Ia memang Maha Sempurna. Bahkan ketika Ia menciptakan mahkluk kurang lengkap sekali pun, aku percaya ada kesempurnaan di balik ketidaklengkapan itu. Tuhan tak mungkin lupa menyisipkan kebahagiaan di garis tangan. Semua sudah tersurat dengan akurat dalam bingkai takdir. Ya, takdir. Aku selalu merasa nyaman bila mendengar kata itu. Kata itu selalu dapat melipur lara dengan caranya sendiri yang sederhana.
Aku diciptakan dengan ketidaklengkapan kecil di tubuhku. Aku terlahir hanya dengan satu daun telinga. Daun telinga kananku sempurna sedang daun telinga kiriku mengerut hampir menutupi lubang telinga. Aku menyebutnya ketidaklengkapan kecil karena masih banyak kutemui orang-orang dengan ketidaklengkapan yang lebih dari aku. Ketidaklengkapan orang-orang itu, bagiku, sungguh merenggut sebagian dari hidup mereka sedang ketidaklengkapan yang kusandang hampir tak ada pengaruhnya dalam kehidupanku sehari-hari. Aku tak kehilangan fungsi utama telinga karena masih dapat mendengar dengan baik. Hal ini membuatku makin yakin dengan kebesaran Sang Pencipta dan memetik sebuah pelajaran berharga bahwa Ia menciptakan manusia berbeda-beda agar ada yang masih bisa bersyukur. Seperti ketika orang-orang menemukan ketidaklengkapan pada tubuhku, tentu di hati mereka terpantik rasa syukur karena diciptakan lebih lengkap daripada aku. Tak akan ada tangis karena kondisi fisikku ini. Aku tak akan memusuhi cermin ketika melihat kembaranku di depan sana menyandang ketidaklengkapanku. Seperti janjiku pada diriku sendiri, aku akan selalu berusaha bahagia.
Tentu ada kelebihan lain yang disematkan Sang Pencipta di tubuhku yang membuat segalanya jadi terasa impas. Wajahku cantik dengan raut bulat dan kulit bersih kuning langsat. Rambut panjang sepinggang yang selalu terurai. Aku begitu menyukai rambutku ini dan tak mungkin memangkasnya jadi potongan pendek. Selain serasi dengan bentuk wajahku, rambut panjangku ini dapat menyamarkan telinga kiriku. Hal ini kulakukan bukan lantaran malu dengan kenyataan berdaun telinga kurang sempurna tapi karena aku juga harus menjaga kenyamanan orang lain. Sebisa mungkin aku harus membuat nyaman pandangan orang-orang di sekitarku. Itu adalah salah satu tanggung jawabku sebagai customer service di tempatku bekerja. Selain itu, otakku juga lumayan cerdas yang mampu dengan cepat merespon perkataan dan perbuatan orang lain.
Dengan kondisi telinga yang tersamar rambut panjang, aku tampak tak ada beda dengan perempuan normal lainnya. Beberapa laki-laki datang silih berganti dalam hidupku. Mereka datang menawarkan cinta dengan segenap alasan dan rayuan yang kebanyakan tak masuk akal, tapi aku yakin mereka adalah lelaki hidung belang yang tidak mengerti kondisi fisikku selengkapnya dan hanya menginginkan romansa berahi sesaat. Mulai dari rekan sekantor ketika masa awal aku bekerja, klien, baik yang masih bujangan atau yang sudah beristri, sampai pada orang yang sama sekali baru kutemui.
Laki-laki yang muda selalu berkata ingin mencari pendamping hidup. Lelaki yang sudah berkeluarga selalu berkata bersedia menceraikan istrinya. Adapun laki-laki yang belum kukenal ada yang bilang, ?Aku terobsesi dengan perempuan yang berbicara dengan telepon menempel di telinga sebelah kanan, terkesan seksi.? Mereka mengatakan rayuan itu dengan nada yang sama. Kesamaan lainnya adalah mereka sama-sama lari ketika melihat telinga kiriku.
Ada kenikmatan tersendiri bagiku ketika melihat mereka meninggalkanku. Prosesinya selalu hampir serupa. Aku membuat suasana sedramatis mungkin. Kuberi mereka kesempatan mengajakku makan malam ?setiap pendekatan selalu butuh makan malam? lalu di tengah keromantisan menikmati hidangan makan malam, sengaja kusibakkan rambut yang menutupi telinga kiriku sambil mengajak lelaki di hadapanku bicara. Sengaja aku ingin menunjukkan pada mereka telinga kiriku. Dan reaksi mereka sungguh luar biasa. Ada yang kesulitan menelan makanan yang sudah terkunyah di mulut, ada yang bengong lalu minta izin ke toilet dan aku yakin mereka akan muntah di sana, ada yang tiba-tiba gugup lalu segera berusaha menjaga sikap, dan seperti biasa setelah makan malam berakhir tidak ada lagi yang menghubungiku. Aku menikmati setiap ekspresi terkejut dan tindakan mereka. Aku menamai kebiasaan ini sebagai Prosesi Jati Diri dan menganggap ritual ini sebagai humor penghibur yang akan memompa semangatku menghadapi hari esok.
Sebenarnya ritual ini berawal dari rasa kekecewaan yang mendalam. Aku pernah dikecewakan dengan cara ini. Dulu aku pernah jatuh cinta pada seorang lelaki dan lelaki itu juga membalas cintaku. Mungkin itu salah satu saat terbahagia dalam hidupku yang ?harus bahagia?. Kami menjadi sepasang kekasih. Kejadiannya pun hampir serupa. Setelah makan malam di sebuah restoran kami memutuskan untuk jalan-jalan menghabiskan malam. Di tengah jalan, hujan turun dengan deras. Kami pun memutuskan untuk menginap di sebuah motel. Di kamar motel, kami sudah basah kuyup. Aku berusaha mengeringkan rambut panjangku dengan handuk. Tiba-tiba kekasihku itu menghampiriku. Dengan lembut, ia ikut membelai rambut panjangku yang basah. Aku berusaha menepis belaiannya karena aku tak ingin ia melihat telinga kiriku. Aku belum siap memperlihatkan telinga kiriku padanya dan kukira ia juga belum siap dengan kenyataan ini. Aku menahan napas ketika dia bersikeras ingin mencumbu telingaku. Mula-mula di telinga sebelah kanan. Aku dengar napasnya tak beraturan dan degup jantungku berdetak lebih kencang. Kemudian saat yang kucemaskan datang, bibirnya melewati tengkukku beralih ingin mencumbu telinga kiriku. Ia sibakkan rambutku. Kemudian diam. Kulihat ia terperangah seperti melihat setan dan tidak meneruskan aksinya. Aku tahu nafsu berahinya mendadak padam.
Ia lantas minta izin membeli rokok di warung yang berada di sebelah motel. Dari jendela kamar motel di lantai dua, aku lihat kekasihku itu bergegas ke jalanan. Ia berlari tanpa memedulikan hujan. Mataku mengikutinya sampai bayangannya hilang. Sejak saat itu aku tak pernah melihat kekasihku itu lagi. Saat itu hatiku sungguh tersayat, mungkin sakitnya jauh lebih hebat dibanding hujatan talak.
Kini aku telah menyulap kekecewaan ini menjadi hiburan. Aku anggap setiap lelaki yang mendekatiku tak beda dari kekasihku yang pengecut itu. Dan sejauh ini, anggapanku ini terbukti benar. Tak ada laki-laki yang dengan ikhlas menerima kekuranganku. Selalu saja tak ada kelanjutan setelah mereka melihat telinga kiriku.
Apapun yang terjadi, aku tetap menikmati hidupku, tapi tidak kedua orang tuaku. Mereka ingin segera menimang cucu dari aku, anak tunggal mereka. Kedua orang tuaku adalah orang Jawa tulen. Sifat kekolotan orang Jawa masih mengalir deras dalam diri mereka. Mereka menganggap perawan tua sebagai aib. Mereka ingin aku segera menikah karena usiaku sudah hampir tiga puluh tahun. Aku mengerti perasaan mereka tapi aku juga berharap mereka memahami perasaanku. Memang tak pernah terjadi pembicaraan secara langsung perihal pernikahan apalagi perjodohan, tapi dari canda mereka, aku tahu bahwa mereka begitu berharap aku segera menikah. Mereka selalu mengatakan bahwa seorang suami akan menggenapkan kehidupanku yang sudah mapan dan jika sudah semakin mapan maka hidup akan berjalan pelan dan menyenangkan. Semoga mereka juga tidak melupakan betapa susahnya mencari pasangan bagi perempuan bertelinga seperti aku.
Tidak dapat kumungkiri keinginan kedua orang tuaku lama-kelamaan menjadi tekanan bagiku. Aku mulai sedikit serius dengan setiap laki-laki yang berusaha mendekatiku. Awal keseriusanku ini masih berakhir sama getirnya. Setiap laki-laki masih tetap lari setelah melihat telinga kiriku. Hingga akhirnya lelaki yang kesekian datang juga.
Nama lelaki itu Karna. Lelaki berumur tiga puluh limaan yang sederhana dan tidak meledak-ledak. Kelewat sederhana untuk kehidupan kota zaman sekarang. Aku bertemu dengannya secara tak sengaja di sebuah seminar mengenai kesehatan telinga. Kebetulan ia duduk di samping kananku dan kami pun ngobrol untuk sekadar basa-basi. Ternyata obrolan ringan itu merupakan awal bagi hubungan serius kami. Karna orang yang menyenangkan dan berpengetahuan luas. Yang paling kusukai darinya adalah kesediaannya menjadi seorang pendengar yang baik. Selama ini aku selalu berhubungan dengan laki-laki yang sibuk menceritakan dirinya sendiri padahal aku juga ingin didengarkan dan itu membuatku merasa diperhatikan. Karna telah membuat awal yang mengesankan, mungkin aku juga, sehingga kami sepakat bahwa ini bukan pertemuan terakhir kami.
Setelah seminar itu, hubungan kami terus berlanjut. Beberapa kali kami bertemu dan merasa hati kami bertaut. Setiap kali teringat Karna, hatiku mendadak menjadi riang. Namanya mengingatkanku pada cerita wayang yang selalu didongengkan Bapak untuk mengantarku tidur ketika aku masih kecil. Karna adalah kakak tiri Pandawa yang membela kubu Kurawa tapi bukan itu atau pilihan hidupnya yang menarik perhatianku. Aku tertarik karena Karna dilahirkan lewat telinga oleh ibunya, Dewi Kunti. Sedang ayahnya adalah seorang dewa yakni Betara Surya. Dongeng dari Bapak itu sampai kini selalu menjadi pemicu semangat bagiku, seakan mengajakku untuk memiliki kebesaran hati seperti Kunti yang melahirkan Karna lewat telinga. Kebetulan kami sama-sama bermasalah dengan telinga. Tapi Bapak lebih menginginkanku sebagai Subadra, istri Arjuna yang lemah-lembut, yang lebih mencerminkan sosok wanita Jawa.
Kini dalam kehidupan nyata aku bertemu dengan Karna. Tak bisa kumungkiri benih cinta mulai bertunas di hatiku. Satu hal yang masih dan selalu mengganjal hatiku, Karna belum mengetahui ?sesuatu? di telingaku. Aku masih ragu apakah ia dapat menerima kekuranganku sementara dari hari ke hari aku semakin dalam mencintainya dan takut kehilangannya.
Hari ini tepat ulang tahunku yang ketiga puluh. Lampu kuning bagi status lajangku. Malam nanti kami berjanji akan merayakannya dengan makan malam. Seribu trauma dan kenangan buruk menyerangku tapi aku bertekad akan menunjukkan Prosesi Jati Diri padanya. Tak peduli apapun reaksinya, aku akan menerimanya sebagai kado ulang tahunku.
Hati telah kutata, perasaan telah kusiapkan, bibir telah kumerahkan. Malam itu Karna datang tepat waktu dan mengucapkan selamat padaku. Aku tersenyum tapi ada yang memburu di jantungku. Kami segera menikmati makanan yang telah dipesan. Aku membuka percakapan ringan dan sebentar lagi harus memulai aksiku menyibak rambut bagian kiri. Kulihat wajah Karna tenang dan berwibawa. Kupikir sebentar lagi wajah itu akan menjadi pucat.
Tapi ternyata aku salah besar. Bahkan sampai dengan jelas kuperlihatkan telinga kiriku tepat di wajahnya, reaksinya tetap tidak berubah. Ia malah tersenyum dan justru aku yang menjadi cemas. Dengan isyarat, ia memintaku memejamkan mata. Aku tahu ia mengambil sesuatu dari balik bajunya. Lalu kudengar ia memintaku membuka mata.
Di hadapanku, kulihat sebuah kado sebesar bungkus rokok. Ia memintaku membukanya. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat isi kado itu. Sebuah telinga kiri asli dalam plastik. Ia tersenyum melihat keterkejutanku dan berkata dengan penuh keyakinan, ?Maukah kau menjadi istriku, Badra??
Aku hampir pingsan mendengar ucapannya barusan. Aku tergeragap tapi segera kututupi dengan mengajukan pertanyaan mengenai muasal telinga dalam kado itu. Karna dengan tenang menjawabnya, ?Telinga itu baru sore tadi kuperoleh dari pasienku dan ia mengizinkan aku meminjamnya untuk meyakinkanmu. Kau hanya tahu aku seorang dokter tapi pembicaraan lebih lanjut seakan tak penting lagi dalam keintiman kita. Aku adalah dokter khusus penyakit kusta. Setiap hari aku menghadapi pemandangan yang dianggap orang lain menyeramkan. Semoga dengan selembar telinga kiri ini, kau bersedia jadi istriku. Maukah kamu, Subadra??
Aku terharu mendengar ucapan Karna. Kukembalikan kado telinga itu kepadanya. Dengan kado itu, aku dapat mengukur kebesaran hatinya. Dia telah meyakinkan aku dengan caranya sendiri. Kurasa keajaiban hidup hanya terjadi sekali dan aku menjumpainya saat ini. Dengan berurai air mata, kuterima pinangannya.

Solo, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *