G. J. Resink (1911-1997) di Kaliurang, Yogyakarta

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=449

SULING DI KALIURANG
G. J. Resink

Seruas bambu merintih tinggi
semata-mata untuk rembulan,
yang nun di Timur, dari tepi
di balik lapis kejauhan,
dekat Klaten kira-kira,
mengambang: bunga-kemerahan
disepuh rintih seruling duka.

Telah lemas nafas bunyi ini;
rongga jiwa memuput isi
dan pada hembus penghabisan,
putih dan tinggi tegun rembulan
di atas kawah gemerlapan
karena gunung mengirai api.

Semua istirah malam ini,
sampai bulan pagi pelan
berdiri ditumpuk pegunungan,
dimana Borobudur setumpak maja

Lalu lurah pun berbegas kemari
dari desa di kejauhan
dan rusuh tergores pada mukanya,
kala ia berkata: “Ada bayi
mati semalam. Demikian
konon kabarnya.”

Gertrudes Johan Resink, lahir di Yogyakarta 1911, dari keturunan Belanda dan Jawa. Belajar di Sekolah Tinggi Hukum, Batavia. Tahun 1947 sebagai Guru Besar Hukum Tatanegara. Setelah penyerahan kedaulatan 1949, masuk kewarganegaraan RI. Di tahun 1950 menjadi guru besar sejarah modern, sejarah diplomasi, selain mengajar Hukum Internasional UI. Dalam dunia sastra Belanda dikenal sebagai penyair. Berhubungan kesusasteraan Indonesia sejak jaman Pujangga Baru dan Angkatan 45. Resink tertarik pengarang Inggris keturunan Polandia, Joseph Conrad (1857-1924) yang pernah berlayar di perairan Nusantara. Profesor lajang sampai akhir hayat ini memperhatikan seniman asal Prancis, Claude Debussy (1962-1918) yang memperkenalkan nada musik Jawa dalam komposisi musiknya. Sajaknya termuat di majalah De Fakkel dan Orientatie terbitan Indonesia, juga sering menulis di De nieuwe stem. Pada Vrij Nederland, terbit sajaknya bertitel Breuklijnen. Resink meninggal di Jakarta 1997. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, susunan M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1952}
***

Aku bayangkan kejadian di ubun-ubun Resink, kala menuliskan sajak itu. Maka izinkan diriku mengarunginya:

Pepohonan bambu menjulang tinggi di Kaliurang tengah malam. Jemari dedaunannya menari-nari, penuh derita merintih.

Menyayat-nyayat bayangan. Hanya kepada bulan, pekabaran kembang di kejauhan, diantarkan angin membawa perasaan dalam.

Ada ikatan nasib bathin insan bersatuan gayuh dinaya, meresap melalui kaki-kaki tegak bersaksi, mendenyut-denyut ke aliran sungai alam pertiwi.

Kejelasan firasat purna dalam jiwa, keakraban memenuhi muara makna. Mengurai pengertian sejumlah penggalan kata. Menyiratkan keayuannya khasana puitika ke pelbagai bahasa.

Nafas-nafas bencah tanah air berhembusan keluar masuk, melewati hidung serta mulut anak-akaknya.

Pengabdian tulus membawakan bunyi-bunyi langgam budaya, menuju lereng lembah keadaban. Mendaki jalan berliku perbedaan pemahaman.

Tebing-tebing curam perseteruan dilalui, sekabut penalaran menanjaki dataran tinggi pengetahuan.

Sampailah puncak peradaban, keilmuan berbaur dinaungi bulan memancarkan cahaya hikmah, atas persuntingan nilai-nilai dalam kawah candradimuka.

Pergolakan serta benturan faham menandaskan jaman kian matang, atau terpuruk di jurang pertikaian perang.

Takkan pernah lekang dari muka bumi semakin merentah, menuju kehancuran umat manusia.

Ada bangsa begitu tinggi peradabannya, pula ada sedang. Ada jaman agung pencapaiannya, pun ada sekadar, atau malah merosot menerjuni kejahiliaan.

Pastinya pesona gemerlap kian semarak, namun membuyarkan keadiluhungan bathin sebelumnya.

Ada nan tergerus manakala usia menua; ketakjelasan pandang diartikan universal. Kesilapan dimaknai percepatan perubahan. Lantas kelupaan difahami puncak pencapaian.

Pada dasarnya tidak saling akrab mengenal, manakala kepentingan pribadi jauh diutamakan, sedari kebaikan melestarikan warisan nenek moyang.

Tampak masa depan benar-benar kelam, sehitam mendung menggantung di ubun-ubun pegunungan. Saat hujan deras membanjir, meledakkan untahan lahar dari kawah mendidih.

Benturan batu-batu meremuk. Kilat sambaran petir halilintar mengamuk sebadai debu, menumbangkan pohon-pohon pemikiran.

Nurani alam berontak tak terkendali. Bukan ujian tapi petaka, atas ulah tangan manusia sendiri yang terbuai nikmat duniawi.

Hingga lupa pencarian jadi diri, tangisannya sebentar gerimis. Kesedihan sebatas benda-benda, tentu sulit ditemukan jalan kembali.

Dan tiupan seruling bambu menandaskan kehakikian hayati, kepada kedalaman hati sanubari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *