Ke Ujung

Rieke Saraswati
http://suaramerdeka.com/

MAKA anak lelaki itu berjalan dan menyalakan televisi dengan remote. Gambar sepia menguakkan suatu tempat yang begitu dekat. Mitya dan Sang Pendidik.
Siapa namamu?
Mitya menjawab dengan gugup, D.. d .. d .. dmitry. Tubuhnya menggigil hebat. Kerongkongannya terpecut seolah diremukkan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat.
Sang Pendidik menggelengkan kepalanya, sedikit mendecit. Ia membalikkan tubuh Mitya ke samping dengan sabar, mengangsurkan tangan kanannya ke belakang kepala Mitya. Perlahan tubuh Mitya oleng seakan memainkan gerakan mundur yang sangat lambat. Sang Pendidik memiringkan sudut bibirnya. Ia gigit bibir bawahnya dengan gigi atas, tetap percaya dengan keajaiban. Ia menginstruksikan Mitya untuk mengangkat kedua telapak tangannya ke depan, memekarkannya, dan mengejatkannya keras-keras seolah-olah tegang. Mulanya pelan, lama-lama ia makin kuat mengejangkannya. Sorot matanya amat tekun. Ia mengibaskan poni rambutnya yang menutupi mata, bersiap menyurutkan arus gentar.
Konsentrasi. Tensi berpusat di kedua tanganmu. Mereka tak bisa digerakkan meski kamu mencobanya mati-matian. Tensi itu akan berpindah ke kepalamu dan bicaramu. Sang Pendidik mendehem-dehem, lalu meminta Mitya untuk mengikuti kata-katanya setelah hitungan ke tiga. Odin, dva, tri.
Maka Mitya langsung melafal tanpa jeda, Ya mogu govorit.
***

SEGALANYA berubah menjadi hanya morse. Tak ada apa pun di luar sana yang mampu membikin kenangan, termasuk kepala mungil dedare yang menyembul dari liang bumi. Perempuan itu mengerti. Ia hanya perlu waktu untuk tak sekadar memahami.
Perempuan itu duduk di atas pagar berjeruji kayu sambil menyulut sebatang rokok. Bungkus rokok, yang dipegang di tangan kirinya, didominasi warna putih biru bertuliskan Parliament. Di hadapannya terhampar padang rumput, rumah-rumah kayu yang berimpitan, pohon-pohon menjulang. Ia duduk seperti menunggu jenuh, tapi ia sedang tak melihat dan memandang apa pun. Ia cuma bisa melintasi setumpuk imaji di dalam kepalanya yang penat: mayat-mayat perang, bayi perempuan, suami berbisa, mertua jalang, gayung, air, flamengo, banteng, cermin.
Seorang dokter muncul dari kejauhan sambil menenteng tas kerja. Tangan kirinya melambai-lambai, kemudian ia berlari-lari kecil, berteriak memanggil nama perempuan itu. Perempuan itu bergeming, tetap sibuk mengembuskan asap rokok yang menyeruak deras dari mulutnya yang terbuka. Tak mendengar respons, dokter itu berhenti mengeluarkan suara, kemudian berjalan lambat seperti seekor katung.
Sesampainya, dokter itu langsung meminta maaf kepada perempuan di hadapannya, bukannya menyapa. Aku telat dan lupa membawa resep obat itu, ujarnya dengan terengah-engah. Perempuan itu tetap membisu. Dokter itu tersenyum jahil, lalu duduk di samping perempuan itu. Mereka berdua saling menatap ke depan. Dokter itu terus berceloteh. Perempuan itu terus bungkam. Tak sampai empat detik, mereka berdua tersungkur di atas rumput. Pagar itu sudah terlalu lemah bagai seorang nenek. Dokter itu terpingkal, tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang jatuh bersama perempuan cantik, ucapnya. Perempuan itu bangun sambil mengumpat. Ia segera membersihkan bagian belakang bajunya. Kamu bahagia sekali hari ini, rutuknya kesal kepada dokter itu. Perempuan itu berjalan ke arah rumahnya. Melewati belit akar-akar. Melewati pohon alder yang rindang. Melewati rerumputan sedingin batu parit gunung. Melewati sumur berair jernih. Melewati anak sulungnya yang sedang berbaring santai di ayunan kain yang dikaitkan pada sebuah pohon lipa.
Dokter itu terus memamerkan gigi-geliginya yang bolong dan memekik nyaring, suatu saat nanti aku pasti berhasil membawamu ke Tomshino! Tawanya bergema ke seluruh penjuru seolah ada banyolan yang merayap-rayap ke kedua telinganya tanpa henti.
***

RUMAH cokelat. Dinding coklat. Lantai cokelat. Semuanya cokelat, kecuali Natalya dan kedua anak laki-lakinya.
Rumah itu kecil seolah hanya terdiri dari ruang tidur dan ruang makan. Ruang tidur pun kosong melompong, cuma memuat kasur tepos. Berbeda dari ruang makan yang agak meriah, disesaki berbagai macam perabotan. Di tiap sudut meja makan, ditancap vas kecil yang diisi serangkai bunga magnolia, petunia, begonia. Di belakang meja makan tertempel poster kusam bertuliskan huruf-huruf besar berwarna kuning dan putih. Bergambar seorang balita raksasa berambut ikal tampak samping. Dengan mengenakan pakaian tradisional yang cantik, ia melangkah di atas kota yang dibatasi sebuah sungai panjang yang lebar ?kota jadi nampak sekecil semut. Di meja makan, dua anak laki-laki sedang duduk tenang di kursi. Mereka menyantap semangkuk sereal. Salah satu dari mereka sedikit badung. Ia berhenti sejenak dari kunyahannya, memainkan gula-gula pasir, memindahkan mereka dari satu telapak tangan ke telapak tangan satunya. Ia lalu menerjunkan gula-gula pasir itu dengan ceroboh ke dalam wadah hingga berceceran di atas meja makan.
Perempuan itu berdiri termangu di pintu depan. Tubuhnya menghadap ke arah luar. Sebentar ia menengok ke belakang. Kedua anaknya masih makan, duduk manis berdampingan tanpa bertengkar seperti biasanya. Dari belakang mereka nampak seperti kembar siam. Kepala mereka yang sama-sama gundul sering membuat banyak orang terkecoh.
Matanya kembali ke depan. Matanya tak melihat. Matanya memandang.
Asap-asap membumbung tinggi sampai ke lengkung langit. Baunya seperti pesta daging barbeque. Burung-burung yang sedang bertengger di cabang-cabang pohon lekas melesat menuju ke kedalaman rimbun hutan. Mereka terbang berserakan tanpa hiruk-pikuk. Ia menutup mata, menikmati asap yang menebarkan harum. Ia membuka matanya kembali ketika sebuah jerit histeris menghantam pekak telinganya. Menghancurkan suasana yang hening itu. Matanya tiba-tiba sangat perih. Urat-urat darah tergores di bagian sklera.
Api-api berkobar kuning oranye, menjalari tumbuhan-tumbuhan hijau yang melambai-lambai kesakitan.
Ia memanggil nama anak-anaknya, kemudian menghambur keluar untuk melihat tempat kejadian. Tergopoh-gopoh kedua anak itu meninggalkan makanannya yang masih memenuhi setengah mangkuk. Mereka menggeser kursi terlalu keras dan terburu. Meja makan sedikit berguncang. Sebuah botol plastik bergoyang miring, berayun-ayun, lalu jatuh perlahan. Berputar-putar. Lambat laun diam tak bergerak. Putih susu tumpah menggenangi lantai.
***

ORANG-ORANG memanggilnya Natalya, Natasa, Natasenka. Papa memanggilnya Mocalka. Aku memanggilnya Mama.
Malam ini adalah malam perjamuan yang tak seorang pun menantinya.
Mama membawa segunung hidangan dari balik dapur yang sumpek: sop ikan, daging babi yang disiram saus tomat kental, daging ayam dengan jeruk nipis dan timun-timun segar di atasnya.
Tetangga kita telah kehilangan semuanya. Kita harus bersyukur, kata Mama, pada akhirnya menjelaskan apa arti perjamuan mendadak ini. Gelembung-gelembung kecil ludah menyembul di sudut bibir bila ia bicara. Menjijikkan. Aku langsung menunduk, adikku ikut menunduk. Nyeri bergumpal-gumpal di ulu hatiku. Aku melihat makanan-makanan yang tersaji sebagai sekumpulan belatung yang bengis. Mereka berdansa, mempersembahkan tarian yang sungguh gemulai di depan mataku. Perutku makin berkeriuk. Mulutku makin asam. Dari perutku keluar segala jenis beraroma kecut: air kekuning-kuningan, gumpalan kecil yang keriting, hijau yang acak, dan mereka. Belatung-belatung itu benar-benar keluar berantai dari dalam perutku.
Mama menatapku, mengernyitkan alis kanannya yang lebih tipis dari alis kirinya. Seakan tak peduli, ia mengambil korek api dari kantung samping daster putihnya, lalu menyalakan korek api dengan gerakan cepat yang terkesan berang. Lilin-lilin menyala, meliuk-liuk riang, namun terang tetap tak ingin mampir ke sini. Kulirik bulan yang menyembul malu dari balik tingkap jendela. Bulan diterobos selapis tipis kabut putih. Bulan tergarit cakar-cakar runcing milik para serigala yang senantiasa melolong di atas bukit. Larik-larik cahaya makin menyaru.
Mama mengamatiku lagi tanpa senyum. Matanya berpendar sayu. Ia kemudian bangkit berdiri dari kursi sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Aku mengikuti langkahnya yang tergesa, beranjak limbung ke kamar mandi. Pintu sengaja tak ia tutup. Aku diam-diam mengintipnya. Kukira ia akan muntah di wastafel, tapi ia melepaskan simpul rambutnya, menjatuhkannya ke lantai kamar mandi. Rambutnya tergerai, bergelombang dengan untaian ikal yang berantakan. Ia lalu membenamkan seluruh rambut serta wajahnya ke dalam bak mandi.
***

NATALYA memandang cermin. Ia tercengang memandang seorang perempuan tua: tubuh gembyornya mengenakan baju putih fluoresen, rambut pirangnya kusut-masai dan digelung seadanya, tangan kirinya diletakkan di depan dada. Di belakangnya pohon-pohon hijau menjerit, sungai-sungai krem meratap, dan awan hitam menggulung-gulung. Aku menjelma sebuah lukisan Renaissance.
Telepon berdering tiba-tiba. Deringnya persis hentakan salvo atau deru api. Deringnya tak pernah hanya senyap, sesenyap renik-renik hujan. Ia mengangkat gagang telepon dengan malas. Suara lelaki di ujung sana. Berat, serak, sedih.
Siapa ini, tanyanya dengan nada galak.
Aku, jawab si lelaki agak pelan, nyaris tak terdengar seperti bisik.
Ada apa dengan suaramu, Natalya mendadak cemas akan keadaan anak sulungnya itu. Mitya menjelaskan padanya kalau ia telah sakit selama berbulan-bulan. Suaranya tiba-tiba berubah tanpa sebab. Ia juga tak berbicara selama berbulan-bulan kepada siapa pun. Aku malah senang sebab bukankah kata-kata begitu abstrak. Terlalu lemah, tak pernah mampu mengekspresikan perasaan, ujarnya lagi.
Minumlah obat dengan teratur, nasihatnya lembut. Hatinya benar-benar bahagia.
Iya, sahut Mitya, lalu ia bertanya, kali ini dengan nada lebih pelan. Ma, tepatnya di tahun berapa Ayah meninggalkan kita bertiga. Dengan sangat hati-hati ia bertanya agar tak melukai hati ibunya.
Aku telah sama sekali lupa, jawab ibunya, sekarang kamu telah berumur empat puluh empat. Ah, bayangkan betapa lamanya itu!
Lalu bagaimana dengan insiden kebakaran besar itu? Natalya mendesah, dengarkan aku, aku tak mau mengingatnya lagi. Kamu selalu membuatku kesal. Ada apa sebenarnya, Mitya. Ceritakan padaku.
Telepon ditutup. Natalya masih menempelkan gagang telepon di telinganya. Jantungnya berdebar nyilu. Ia meletakkan gagang telepon, kemudian berjalan ke arah meja kecil berlampu remang. Ia segera mengambil sebuah buku, memakai kacamata silindernya yang berlensa miring, lalu dibacanya huruf-huruf pada sebuah halaman bergambar lelaki berjenggot.
Natalya mengusap kertas-kertas, menikmati waktu yang berdetak keras. Lama sekali. Lalu ia terpekur, berkelana sejenak ke belakang. Ia tahu penyakit anaknya sejak dulu, sejak kepala anaknya mencuat licin dari liangnya. Anaknya berbeda, karena ia selalu sadar akan kebebasan, keutuhan, kesemestaan. Penyakit itu membawanya begitu cekatan seperti kijang, meski setiap kata yang ia tuturkan kerap kali patah-patah. Di matanya, anaknya telah menyerupai elips yang sempurna. Hanya saja ia tak pernah tahu, anaknya kini seorang petarung yang tengah berjuang melawan lupa. Untuk sepenggal memori, sebelum waktunya telah tiba.
Telepon itu telah ditutup. Bunyinya masih memasung kedua lorong telinganya dalam-dalam. Bunyinya cukup ?klik?. Klik yang hanya senyap, sesenyap renik-renik air matanya.
***

MITYA berbaring lunglai di atas ranjang. Seekor burung mungil juga berbaring di sebelah kanannya. Empat hari lalu burung itu datang dari langit, menembus atap kamarnya, dan melayang turun ke kepalanya. Ia tersenyum, melirik teman barunya. Burung itu menatapnya, mencicit manja. Ia tersenyum lagi, menjumputnya, merasakan tekstur bulu-bulunya yang sehalus kapas. Perlahan ia mengangkatnya agak tinggi, berusaha melambungkannya, tapi burung itu bergeming seolah pingsan.
Di luar, suara-suara dua orang perempuan tak berhenti menikam kepalanya. Mereka saling berebut pajangan kincir-kincir angin, lampu minyak, dan seluruh isi gudang. Tamparan, makian, semprotan. Berturut-turut.
Seorang dokter bergigi bolong masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk. Wajahnya tegang, sangat tegang. Memerah. Dokter itu berjalan sempoyongan ke arahnya, lalu menempelkan telapak tangan ke keningnya. Panas, bukan hangat. Dokter itu tersenyum. Senyum yang samar. Mitya sadar kalau dokter itu telah menenggak banyak amunisi alkohol. Lalu dokter itu berbalik, menutup dan menggerendel rapat-rapat pintu kamar. Kunci telah berada di tangan sang dokter, dan ia tahu ia takkan dapat keluar kamar lagi untuk beberapa minggu. Ia menghela nafasnya yang sesak, menempelkan bulu-bulu burung itu di kelopak matanya yang memejam.
***

SIANG hari. Hutan tertidur lengang, menabur aroma jamur yang segar dan langka. Natalya tengah memasukkan potret-potret hitam putih seorang perempuan tua ke dalam laci kamar. Beberapa potret telah dilubangi ngengat dan memang sengaja dilubangi oleh jari-jari tangannya yang sebesar cerutu. Perempuan jalang, desisnya penuh amarah. Anak-anaknya, Mitya dan Yura, tengah bermain-main di dekat hutan lebat bersama segunung buku tebal tak bersampul.
Sebuah suara tiba-tiba bergaung lantang dari tengah hutan. Suara yang menyerupai geram gembong, meneriakkan nama mereka berdua. Suara yang akrab. Mitya menatap adiknya yang mematung bingung, lalu ia menajamkan kembali kedua telinganya, mendongak untuk mencari arah suara. Merasa putus asa, ia langsung mengejar arah suara disusul oleh Yura di belakangnya. Lelaki itu telah pulang, berpakaian militer yang kaku. Mereka bertiga berpelukan erat diselingi isak tangis.
Detik-detik berlalu cepat. Cahaya mulai meredup. Hutan mengguyur hujan.
Aku harus segera pergi lagi, ujar lelaki itu tanpa sanggup memandang dua anak lelaki di hadapannya. Titik-titik air menggenang di sudut matanya yang letih.
Ke mana?
Ke sana, jawabnya serak, menahan air mata. Wajahnya begitu deras oleh sesal.
Ke sana mana?
Ke ujung, anakku.

Juli 2009

Catatan:
Odin, dva, tri (bahasa Rusia): Satu, dua, tiga
Ya mogu govorit (bahasa Rusia): Aku dapat berbicara.
Mocalka (bahasa slang Rusia): ejekan untuk perempuan yang tidak menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *