Max Dauthendey (1867-1918)

Penyair Jerman yang Meninggal di Kota Malang

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=447

Tatkala insan dari tlatah jauh memasuki alam tropis Jawa Dwipa, meyakini keberadaannya, akan diserap suara-suara gaib.

Kehadiran suara merambahi sekujur badan jiwa, naluriah berkecambah meresapi aura keganjilan.

Nalarnya ditelan pusaran keagungan, yang dicari tapak kehakikian. Kesantausaan hayat ketulusan menebarkan budhi mengembangkan pekerti.

Mendapati restu leluhur atas bencah dipijaknya. Dinaya meruh didengarnya, bisikan tak terlihat namun sangat dekat, melebihi denyutan nadi.

Dibawa terbang menuju pengetahuan tak terhingga, pengajaran tiada di negerinya.

Hingga yakin nasib kata-katanya membuncah hadir, kala anak bangsa yang didiami melestarikan.
***

Ku persembahkan sastrawan Max Dauthendey, dari buku “Malam Biru di Berlin” penerjemah Berthold Damsh?user dan Ramadhan K.H., penerbit PT. Star Motors Indonesia, 1989:

Dialah penyair, pengarang prosa impresionistis, yang seringkali latar belakang karyanya eksotis. Dua kali menempuh perjalanan ke Asia, kedua di tahun 1914. Di tanah Jawa sebagai orang Jerman ditangkap tentara Belanda, sewaktu itu keadaan perang dengan Jerman. Karena terpaksa tinggal di Jawa dan merindu istrinya, Max Dauthendey meninggal di kota Malang. Marilah simak salah satu puisinya:

KEPADA CIKURAI

Oh gunung, yang nyundul angkasa,
Puncakmu nyaksikan jaman segala,
Engkau yang abadi, yang tak dapat menjadi tua,
Tahun-tahun yang berlalu tak mengganggumu jua.
Dan abad-abad yang lewat tiada pula kaurasa
Bila kau sejukkan dahi di angkasa.
Kau telah hidup waktu lelaki pertama
Merebut hati wanita yang semula.
Kau tetap akan hidup bila pasangan penghabisan
Lenyap pada peradaban penutupan.

Betapa penting kuanggap kesusahanku.
Betapa penting hari kemarin, hari ini dan esok.
Kau mengajar melihat jauh di atas keseharian,
Kau mengajar untuk percaya pada keabadian.

Garut 1915
***

Membacanya; tubuhku merinding kepercayaanku terbit, gunung paku bumi bagi orang Jawa, tertancap sudah sampai akhir masa.

Laksana badan dewata berkasih sayang diselimuti kabut dataran tinggi, melahirkan bulir-bulir iman kehidupan.

Menjadi kehendak sah tercapailah awan sebayang-bayang di mata, mengagumi pesona Dwipa.

Ukuran penerimaan nyata dari kehadiran naluri mengejawantah, disadap dirinya merindu rasa.

Jika pulang tak terbilang hari-hari di atas kapal, menyeberangi lautan derita asin garam angkasa.

Tentu merasakan air pertiwi ini betapa murni, bagaikan belaian ibunda bagi anak-anaknya.

Max diguyur derasnya perasaan, seakan lupa sekejapan seperti di negerinya sendiri.

Bathin teridamkan menggetarkan bulu-bulu, merangkum keseluruhan indra pengetahuan.

Aku saksikan kerling bola matanya pada gadis-gadis desa. Senyumnya membumi, sapaannya seperti panji-panji pujangga negeri ini.

Menorehkan kata-kata kalbu kemerah, melihat kaki-kaki lincah menanjaki pebukitan. Dirinya terpanah jantung blingsaran, rindu menggayuh.

Max masih khidmat mencium harum bunga, meski tangannya diborgol penjajah dalam penjara masa.

Mengabdikan seluruh kepada negerinya tercinta. Angin Dwipa kabarkan ketentramannya dilindungi dewata.

Jemari lembut begitu santun membelai kertas, demi mengguratkan selarik kisah. Atas segala deritanya, sampailah ke tanganku.

Pengelana yang setiap hari menuruti nafas kata dari ruh merubah maknawi, sedari getar sukma menetas balada.

Max tak kenali diriku, tapi percaya layangnya menuju naluri diugemi bencah ini, yang dirasa hingga tandas diakhir masa.

Adakah kegembiraan kali itu? Manakala dirinya menyatu getaran jiwaku. Auranya tidak kurang merambahi setiap kalbu.

Demi kabarkan negeri ini menyimpan angin semerbak wangi, anak-anaknya menghiasi kekisah penuh legenda.

Kata-kata Max menandaskan kesadaran hari-hari patut dikaji, selepas dijalani bagi tempaan lelaku jaman sejati.

Setatap mata elang mengeruk pengertian, yang hadir kesuburan faham bau kembang keadaban.

Menyaksikan kaum pribumi berjuang ke medan tempur, demi sedepa-depa ingatan sejarah;

darah air mata bumi putra, menjadi perhitungan kelak di kemudian hari merdeka.

Max tak menyangka di usianya baru enam tahun (1867-1918) di Jerman, pujangga agung tanah Jawa R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) meninggal dunia.

Dirinya seakan diawasi, lelangkah mungilnya diperhatikan; yang tertanda kali ini hembusan moyang terkisahkan.

Dedaun tropis gugur dihantarkan pulang, kering keemasan pengabdian, pepohon tegar bercerita jaman berulang.

Burung-burung menembangkan kepiluan dalam sangkar kepahitan, deritanya padaku, dan pada puncaknya berabadi.

Hatur salam dariku atas guruku, KRT. Suryanto Sastroatmodjo (1957-2007), semoga tuan bersahabat guyub dan damai di sisi-Nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *