Mpu Prapanca

MT Arifin
http://suaramerdeka.com/

?Ambeg sang maparah Prapanca kapitut mihati para kawiswarang para Milwamarnna ri kastawa nrepati dura pangiket ika lumra ing sabha Aning stutya ri jong bathara Girinatha…,? demikian bunyi Pupuh XCIV/ 1 kakawin Nagarakretagama, menerangkan bahwa orang yang dengan paraban Prapanca, tergerak hati menyaksikan para pujangga besar di negara, ikut mengarang madah pujian untuk Baginda: tanpa harapan akan tersebar merata di istana. Ia hanya bermaksud memuji Baginda Bhatara Girinata….

Mpu Prapana adalah pejabat tinggi agama Buddha (dharmadhyaksa kasogatan) dan seorang kawi (sastrawan terdidik) Majapahit era Brawijaya III, yakni saat berkuasa Dyah Hayamwuruk yang bergelar Sri Rajasanagara.

Beberapa syair dalam metrum kakawin gubahannya: Parwasagara, Bhismaranantya, dan Sugataparwawarmnana, di samping Tahun Saka dan Lambang. Ia juga membabar keris Ki Nagakumaja 9 dhapur seluman, luk-13, pamor bendhasagada khadam Nagabhuwana yang dipersembahkan kepada Hayamwuruk. Namun karya puncaknya kakawin berupa Nagarakretagama (Sejarah Pembangunan Negara), yang terdiri atas 98 pupuh dengan judul asli ?Desawarnnana? (uraian tentang desa-desa) dan digubah di Desa Kamalasana yang terletak di lereng gunung, pada September-Oktober 1365. Penyebutan kata Nagarakretagama hanya tercatat pada kolophon yang ditambahkan pada akhir teks karya sastra. Kakawin ini ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok (1894), dan jadi populer karena judul terbitan JLA Brandes: ?Nagarakretagama, Lofdicht van Prapanca opa koning Rajasanagara, Hayam Wuruk, van Majapahit, uitgegeven naar het eenige daarvan bekende handschrift aangentroffen in de puri te Tjakranegara op Lombok? (1902), dan terbitan terjemahannya oleh Prof H Kern (1905).

Nagarakretagama merupakan pujasastra, yakni suatu karya sastra yang digubah untuk menjunjung tinggi raja yang tengah berkuasa, dengan alasan cinta bakti kepada Baginda.

Karena raja adaah sang panikelan tanah (sang pelindung yang dihormati) sehingga syair-syairnya cenderung sarwanges dengan menghindari hal-hal yang negatif. Namun, berbeda dari metrum kekawin semacam yang biasanya digubah atas perintah raja yang berkuasa, Nagarakretagama justru ditulis atas inisiatif Prapanca setelah diberhentikan dari jabatan dharmadyaksa kasogatan (dalam usia muda), dan kemudian meninggalkan ibu kota menjadi seorang pertapa (kawi sunya) di pedesaan. Karena itu tidaklah tepat anggapan dari Berg (1965), yang mengira jika Nagarakretagama merupakan a priestly statement atau amandemen Prapanca yang fungsinya seperti Arjunawiwaha dan pujasastra Sanskrit lain.

Pada era itu, terdapat pula kakawin besar lain yang juga bersifat pujasastra, seperti karya Mpu Tantular: Arjunawijaya (Kemenangan Arjuna) dan Sutasoma atau Porussadasanta (Si Pelahap Manusia yang Ditundukkan). Kedua kisah dengan topografi India, sajiannya mengandung epik, didaktika agamis dan moralistik. Dibandingkan karya-karya Mpu Tantular, kekuatan Nagarakretagama terletak pada sajian mengenai masyarakat Jawa abad ke-14 sebagai contemporancity of evidence, yakni penulis adalah saksi mata dan jadi bagian dari peristiwa yang ditulis itu. Corak sosial dari diskripsi-deskripsi liris Nagarakretagama telah memberikan informasi tentang kehidupan istana Majapahit, roda pemerintahan, aktivitas kemasyarakatan dan sejarah Singasari.

Suatu gambar kesinambungan dan perubahan yang berkaitan dengan dimensi waktu dan ruang, serta aspek struktural dan proses-proses kesejarahan yang faktual. Fakta-fakta yang fragmentatif disusun dalam sistematika metrum kakawin, digubah dengan citarasa bahasa dan kidung bermutu tinggi serta indah.

Jika membandingkannya dengan kitab-kitab Babad Tanah Jawi yang sarat mitologi ?unsur sejarah hanya sebagai faktor sekunder? terasa sekali Nagarakretagama menyajikan uraian reportase mendalam dengan menempatkan sejarah sebagai faktor primer sehingga kakawin itu merupakan karya sastra sejarah tertua (bersama Serat Pararaton dan Tantu Panggelaran), yang keandalan informasinya dapat dibandingkan peninggalan prasasti dan piagam seperti termuat dalam Oud-Javaansche Dorkonde, di samping berita-berita dari sumber negeri China.

Yang menggelitik pula ternyata Prapanca adalah nama samaran dari penggubah metrum kakawin Nagarakretagama. Dalam pupuh XCVI/ I dinyatakan prapanca pra cacah panca, artinya prapanca adalah pra-lima buah, bercirikan pra-cacah (bicaranya lucu), pra-pongpong (pipi sembab), pra-cacad (mata ngeliyap), pro-congcong (ketawanya ngakak). Menurut H Kern, kata prapanca artinya kesedihan rintangan untuk laku utama (penyesatan, nafsu, kesombongan). Mengapa Prapanca dijadikan nama samaran? Jawaban muncul setelah dikaitkan dengan pancaksara (lima-aksara) yang ditulis Prapanca saat mengunjungi Taman Sugara.

Tatkala Slametmulyana mengontrol sinyal Nagarakretagama dengan Piagam Trowulan (kepingan III) dan Piagam Sekar produk era Hayamwuruk, menemukan nama dharmadhyaksa kasogatan Dang Acarya Nadendra. Nadendra (Nada-Indra) merupakan pejabat saat itu, yang namanya terdiri atas lima aksara: Na, Da, Na, Da, Ra. Simpulannya, Prapanca adalah nama samaran dari Dang Adarya Nadendra, putra dharmadhyaksa kasogatan Dang Acarya Kanakamuni. Penggunaan samaran Prapanca, dimungkinkan Nadendra tengah diliputi kesedihan akibat diberhentikan dari jabatan. Ia menjadi seorang pertapa di Desa Kamalasana, yang dalam karyanya sering pula memakai nama samaran Mpu Dusun. Suatu otoritas sastra tinggi sebagai antitesis sastra-kedhaton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *