Puisi-Puisi Ahmad Kekal Hamdani*

Di Eriberne

I
Di eriberne, rindu dan darah jadi batu
sunyi meminang terumbu dan kuali-kuali
yang tak tertampung perihnya

Di eriberne, kota asing dalam diriku
dimana rembulan pecah dan berwarna biru
yang sakit. kuigaukan jemarimu
melambai pada tikungan, dari setiap kemungkinan
tentang ingatan

Di eriberne, di kota dalam diriku
para serdadu dengan melepas sepatu
telah memeluk tiang-tiang jalan. jalan yang menulis
jalan-jalan berkesiur pada kenangan. jalan bahasaku padamu

II
Di eriberne, di kota yang tak siang itu
orang-orang menampung air mata
melipat tapak yang terkibas dan terlepas

Di eriberne, di jantung rinduku
kota dengan raut masa kanak
dan usia yang bergelayut sedih
di tiang lelampu
kelak kunyalakan namamu

Yogyakarta, 2009

Nama

Daun yang tanggal ketanah hendak mengenang seluruh pertanda
tentang keabadian, disana aku mencarimu lewat sebuah nama

Lewat nafas yang mengendus, membaca seluruh ayat
– jam dinding tak henti berdetak

Kamarku lebih sepi dari hatiku
aku mencarimu lewat sebuah nama

angin cemas, bulan terseok di pojok langit
aku lapuk digugur usia
kutemukan:
semesta membaca namamu di dadaku

Pamekasan, 2007

Daun Kering

Sehalai daun memutuskan untuk berpisah dari rantingnya,
angin yang tak mengenalnya, menerbangkannya menyusuri route ? dan
membelah udara, lalu terjerembab di comberan

Ia ingin pulang

Pamekasan-Sumenep 2007

Perempuan Kecil dan Nama Hari Sebelum Kamis Kelabu

Begitulah, seperti biasa ketika senja kuning lindap
ia teteskan nama-nama hari dari matanya itu ke sebuah buku
di mana biasanya dicatatnya juga peluhmu yang membatu
dan tak sempat melambai, di situ ia tanam ringkih tanpa suara
ia pendam mataair dari ricik hatinya:

Pelahan, dengan teramat ia begitu

Bangka, 2009

*) Salah satu buku kumpulan puisinya “Rembulan Di Taman Kabaret” terbitan PondokMas Publishing Yogyakarta, 2009.

One Reply to “Puisi-Puisi Ahmad Kekal Hamdani*”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *