Richard Wagner (1813-1883)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=418

Wilhelm Richard Wagner lahir di Leipzig, Jerman 22 Mei 1813 yang meninggal 13 Februari 1883. Seorang komponis berpengaruh, pakar teori musik serta penulis, paling terkenal karya operanya. Musiknya yang masih sering dimainkan ialah “Ride of the Valkyries” dari Die Walkure juga “Bridal Chorus” dari Lohengrin. Wagner merupakan tokoh kontroversial sebab inovasi musik, dramanya pula pendukung pemikiran anti-semitisme. Dalam sejarah musik, digolongkan komponis Zaman Romantik. Ayahnya pejabat kotamadya rendahan, meninggal enam bulan setelah kelahirannya. Agustus 1814, ibunya menikahi aktor bernama Ludwig Geyer. Geyer didesas-desuskan ayah Wagner sebenarnya, meninggal ketika Wagner berusia enam tahun, selanjutnya dibesarkan ibunya. {dari http://id.wikipedia.org/wiki/Richard_Wagner}

Walaupun Wagner terutama menulis opera-opera, namun dalam musik simfonis ia harus mendapat tempatnya juga. Pengaruhnya terdapat di semua bentuk. Musik romantik itu pokok acara, yang tak dapat kita bicarakan dengan tanpa menyebut Wagner; kalau tidak, hanya menyusun genre daripada menerangkan gaya serta jiwa dalam musik. Tristan adalah tipe dari pahlawan romantik dalam musik, seperti Werther dan René. Tiada nama yang lebih sering muncul dalam programa dari konsert-konsert simfonis kepunyaan Wagner. Sebetulnya orkes berperan utama dalam drama-dramanya. Dengan memasukkan alat-alat baru seperti tuba, ia memberikan bunyi hangat dan dalam. Gaya orkestralnya menandakan kepribadiannya, kita berkata “orkes dari Wagner” seperti kita berkata “orkes dari Bruckner,” “orkes dari Brahms”. Fragmen-fragmen simfonis, yang sungguh-sungguh dalam opera-opera Wagner banyak sekali: kita boleh katakan bahwa ia telah menulis simfoni demi tiap pahlawannya. Jadi Wagner sudah menyempurnakan dua genre: Prelude yang membawa kita pada kesuasanaan dramatis dan uvertur menjadi sintese simfonis dari opera. {J. Van Ackere, buku Musik Abadi, terjemahan J. A. Dungga, Gunung Agung Djakarta, tahun lenyap, judul buku aslinya Eeuwige Muziek, diterbitkan N.V. Standaard-Boekhandel, Antwerpen, Belgie}
***

Dengan mendengarkan musiknya, lebih mudah mengenal karakter suatu bangsa:
Apakah lembut berselubung semangat Jepang, beringas selaksa Rusia, tangguh sekuat Jerman. Berdaya jernih Prancis, Inggis yang keras atau senandung kebijakan dunia Timur?

Kala kudengar musik Richard Wagner, terbaca sisi kehalusan ganjil yang diteruskan penyair Nietzsche (1844-1900). Ada rayuan jebakan yang mengharuskan penikmat berhati-hati. Jika tak ingin tempat duduknya berpindah tiba-tiba tanpa terasa, di situlah dramanya.

Wagner membangun bunyi-bunyi kepurnaan, sekelebat sayap malaikat membebaskan ruh dari jerat kegelapan.

Sesosok pendekar putih penunggang kuda. Meliar berterbangan berirama puitis. Peristiwa santun pesonakan mata musuh, larut ke dalam takdir kebinasaan.

Kelembutan musik Wagner setajam kilatan pedang di rimba peperangan. Darah muncrat segulung gelombang memecahkan ombak ke bukit-bukit terjal karang.

Hasratnya bergema merangsek kemungkinan pada dinding angkuh masa. Irama purba didengungkan, demi mencapai kehendak perubahan di kandungan alam.

Ialah perasaan tega seolah tanpa sayang; senyuman dingin, lelangkah baja beringas. Firasat kemenangan senantiasa mendukung kesemangatannya menghebat.

Penyair Charles Baudelaire (1821-1867) pernah mengatakan: sentuhan hasil karya musik Wagner sangat menakjubkan, seakan sudah melihat alam surgawi.

Jiwa unggul keberanianlah memancarkan cahaya bening menghadapi soal, tekun menerjemah dentingan hayati. Menjelma alunan tak sekadar nafas. Tapi mampu membangkitkan semangat dari dasar terdalam, sehingga ruh-ruh lembut malaikat tunduk kecerdasannya.

Keunggulan hikmah hembusan nalar me-makluk-kan niat, mewarnai imaji menerbangkan harapan membentang jauh. Dengan sayap masih menyentuh lautan hasrat manusiawi.

Tempaan mental di medan perubahan melintasi awan. Didekapnya perih pertajam belati perasaan. Meruncing pandangan sampai bahasa keyakinan.

Ketika musiknya menuruni lembah kepahitan nasib, ada digembol di pundak kehormatan. Tidak puas perolehan menanjaki bukit-bukit, mendaki pegunungan sejarah berulang yang berbeda-beda.

Sambil mendengarkan musik Wagner “The Ride of the Valkyries” Die Walküre melalui You Tube, aku layarkan tulisan ini.

Menangkap lukisan keberanian di padang perang, menyalakan obor semangat pasukan. Membakar kemah musuh, berlaga bersegenap kemampuan. Mata jeli isyarat seperjuangan, kilatan senjata menebas ketentuan.

Peristiwa itu dinaungi punggung bukit kelam, serupa takdir musik keabadian. Hentakan keras kadang melenakan lawan. Jeritan memecahkan kendang telinga langitan.

Berbondong gemawan menghitam, mendukung hawa percaturan dalam rimba keberingasan memilukan kaum perempuan.

Sang kesatria berbagai strategi pengalaman, membakar amarah menyudutkan nyali musuh. Dan lolong srigala meneriaki lempengan lengan serta kaki-kaki terpenggal.

Darah muncrat membasahi debu, tubuh-tubuh tak bersimpan nyawa, gelimpangan satu-satu. Bau amis bangkitkan birahi kawanan burung terusik tidurnya.

Tiada tampak sesal di raut muka, tetap pertajam senjata berteriak menggusarkan lawan sampai ambang sekarat. Ialah kebencian merebut kehormatan lebih, menggulung dalam kesatuan warna peperangan.

Lantas seluruh arwah kesatria yang gugur, diberkahi keyakinan masing-masing. Membumbung kendarai iman ke tingkatan melampaui kebisingan.

Bau amis menjelma harum kembang. Darah mengalir menciptakan sungai-sungai demi pengelana kehausan, mencari nilai-nilai budhi pengertian.

Yang hidup meneruskan perjuangan dengan kembali menekuni keahlian memaknai hayat. Lalu hembusan kesadaran hadir sepagi-pagi mekarkan bunga-bunga.

Kebencian diganti sayang, dengki dihanguskan kasih. Melarut persaudaraan saling memahami fitroh. Kekasih menyayangi percepat kemajuan, wewarna langit paling bijak dirindukan bangsa-bangsa di muka bumi.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*