Senja Hari Draupadi

Saroni Asikin
suaramerdeka.com

(1)
SENJA jingga. Angin sejuk menguarkan amis darah. Draupadi berjalan menuju altar persembahyangan. Rambut panjangnya tergerai. Melambai-lambai. Aroma dupa yang mengambar tak mampu mengusir bebauan anyir dari Kurusetra. Sembari memberesi pedupaan, mulutnya melantunkan Sloka Siwa.
“Salindri, siang tadi apa kau lihat Bima mengayun-ayunkan gada menuju Kurusetra?”

Tak ada jawaban. Draupadi masuk lagi ke altar dan duduk pada sebuah bangku batu di sudut ruangan.

“Tak sabar rasanya mendengar tubuh Duryudana diremuk gada Bima. Dan si berangasan cabul Dursasana itu bakal tak bisa lagi mengumbar tawa mesumnya setelah tubuhnya dirajam-rajam dan diminum darahnya oleh Bima. Wow, kejam, bengis, dan sadis sekali, ya? Tapi sumpah sudah digaungkan di ruang dadu dulu, dan orang seperti Bima pantang mungkir dari sumpahnya.”

(2)
DRAUPADI terkikik. Salindri, kau di mana? Apa kau lagi di kamar anak-anak? Suruh Sutasoma ke sini. Dia pasti sudah tahu kalau sekarang ayahnya yang perkasa sedang memenuhi sumpahnya di Kurusetra. Ya, ya segera suruh dia kemari, Salindri. Aku ingin memeluk anak itu sembari menceritakan bagaimana mata ayahnya menyala merah menyaksikan ibunya ditelanjangi di ruang dadu. Aku ingat betul mata menyala itu.

Ya, ya, biar Sutasoma tahu bahwa hidup tak melulu dongeng indah seperti yang sering kauceritakan padanya, Salindri. Sutasoma, o Sutasoma, segera kemari. Ibu ingin bercerita bagaimana ayahmu Bima tak pernah mau melihat ibumu ini teraniaya. Dulu, dengan amarah terbuncah dia menendang bokong Jayadrata di Hutan Kamyaka dan mengirim Kichaka ke neraka.

Sutasoma, hanya ayahmu yang selalu berusaha melindungi ibumu ini sementara pamanmu Yudhistira melulu bicara tentang kesabaran, ketabahan, dan keadilan. Kata-kata itu terlalu asing untuk perempuan yang berkali-kali direndahkan martabatnya seperti ibumu. Kalau tidak dicegah Yudhistira, Jayadrata yang mau memperkosa ibumu itu pasti sudah palastra oleh tangan ayahmu. Dan di ruang dadu itu, ketika keempat pamanmu terbisu seperti sapi sakit yang mau dibawa ke pejagalan, ayahmu menggeram seperti banteng yang terluka. Bahkan pamanmu Arjuna yang sangat ibu cintai, maaf, bahkan lebih dari kecintaan ibumu pada ayahmu Bima, tak tergerak untuk membela. Dan dua paman kembarmu pun sama saja.

(3)
DRAUPADI terkikik sesaat. “Aih, aih Sutasoma tak usahlah kau merajuk setelah tahu bukan ayahmu yang lebih Ibu cintai ketimbang pamanmu Arjuna. Ini urusan hati orang dewasa. Nanti setelah besar, ya setelah besar nanti, kau bakal bisa memahami. Buktinya, ibumu tak membeda-bedakan rasa sayang dan cinta kepada semua anak yang ibu lahirkan. Aku tak menganakemaskan saudaramu Srutakirti hanya karena dia lahir dari benih Arjuna. Begitu juga untuk Pratiwinda, Satanika, dan Srutakama. Ayahmu dan semua pamanmu pun begitu. Saling mencintai.”

Draupadi mendesah panjang, “Ah, ngomong apa aku ini? Salindri, Salindri, bawa segera Sutasoma kemari. Aku juga ingin mengajaknya berdoa bersama untuk kelancaran jalan Bima melunasi sumpahnya.”

Seekor nyamuk mendengung di telinga kiri Draupadi. Geram perempuan itu mengusir binatang itu. Ah, nyamuk ini rupanya sudah tak mempan oleh bau wangi dupa. Tolol benar nyamuk ini, kenapa ia tak pergi saja ke Kurusetra. Di sana, ia tentu bisa berpesta darah dari mayat-mayat. Ah… mayat-mayat! Siapa sekarang yang tak jadi mayat? Siapa sekarang yang tak kehilangan keluarganya? Jangankan prajurit biasa, Karna yang perkasa pun sudah purna, juga Kakek Bisma, Guru Drona, Gatotkaca yang digdaya, juga Abimanyu anak Sumbadra yang elok itu pun harus palastra di medan laga. Siapa yang sebenarnya menginginkan perang ini? Duryudana? Yudhistira? Kurawa? Pandawa??
Draupadi tertawa kecil. Nyinyir. “Bukan pertanyaan yang gampang dijawab. Tapi aku, aku Draupadi, si Yadnyaseni, si Pancali ini memang menginginkan perang ini. Ya, biar saja Baratayuda ini kuanggap perangku pribadi.”

Terkikik lagi. Aneh ya? Kalau ini perangku, kenapa aku malah selalu di sini, bukannya di Kurusetra? Ah, mana ada perempuan boleh memanggul senjata?

Sudahlah, tak perlu mempersoalkan hal seperti itu. Yang jelas, perang sesama keturunan Barata ini sudah kuinginkan sejak di ruang dadu dulu, sejak diriku dijatuhkan martabatnya lebih rendah dari hewan piaraan. Setelah itu, tak sedetik pun dalam diriku bisa melupakan peristiwa itu. Apakah aku pendendam? Terserah apa kata orang. Aku perempuan, ya benar aku perempuan. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa perempuan tidak bisa berteriak di hadapan laki-laki. Lebih-lebih ketika diriku dihinakan.

“Hihihi, aku masih ingat muka-muka lelaki di ruang dadu itu ketika aku berteriak, Kalau tak ada lagi kebenaran dan keadilan di sini, maka semua kalian hanyalah kawanan perampok!”

Destarata yang buta tak bersuara. Kakek Bisma yang bijak itu menunduk memandangi lantai. Guru Drona terbisu di tempat duduknya. Dan Paman Widura pun hanya mendesahkan keluhan.

Aku marah kepada siapa ketika itu? Dursasana, si muka cabul yang berusaha membuka sariku? Duryudana yang pongah dan sombong yang tampaknya ingin membalas dendam karena pernah kupermalukan dalam Upacara Rajasuya dulu? Atau Destaratra yang buta itu? Atau Sengkuni yang terkekeh licik? Atau suami-suamiku terutama Yudhistira yang menjadikan aku sebagai barang taruhan? Suami-suami yang tertunduk kaku ketika mendengar istri mereka berteriak-teriak minta tolong. “Aku dihinakan di sini dan kalian mirip patung batu?? Ya, kepada suami-suamikukah kemarahanku ketika itu?”

(4)
DRAUPADI mendengus.
Hingga kini pun aku tak bisa menemukan jawabannya. Seorang perempuan yang sedang hendak diperkosa di hadapan puluhan laki-laki, di hadapan suami-suaminya yang kondang keperkasaannya tapi tak lagi berdaya bahkan terhadap sehelai rambutnya sendiri, ya punya apa perempuan seperti itu selain air mata dan teriakan marah yang sia-sia? Ya, punya apa perempuan yang sedang diperdaya selain sumpah serapah yang terus berputar-putar di udara hampa?
Yang jelas ketika itu aku tahu, suatu hari aku akan membuat perhitungan. Ya, perhitungan. Tak sekadar sebuah dendam, ini perhitungan, dan aku tak mau sesumbar kalau ini semacam karmapala.

Dan langsung atau tidak, Baratayuda ini wujudnya. Makanya saat Yudistira tetap bergming bahkan ketika Kurawa sudah menginginkan perang, aku marah dan berteriak padanya, Apa-apaan kau ini, Yudhistira? Ular kecil yang diinjak pun berusaha mematuk penginjaknya.? Tapi apa jawabnya, “Istriku, kita harus mengerahkan segala daya untuk mencegah perang ini. Biar saja Duryudana mengambil Indraprasta, dan kita cukup dengan lima desa saja untukku, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Tak bisa kubayangkan kepedihan panjang akibat perang. Aku tak sanggup menanggung nestapanya.” Ah, pengecut benar jawaban itu. Apa dia pikir aku menginginkan perang karena tetap ingin punya Indrapasta dan aku tetap jadi ratu di situ?

Tolol benar, sejak lahir aku sudah punya Pancala yang besar. Sejak lahir aku anak raja yang besar. Ah, apa Yudhistira tak pernah bisa merasakan mimpi buruk yang selalu menghantuiku sejak hari di ruang dadu itu? Dan brengseknya selain Sadewa, semua saudaranya setuju menolak peperangan dengan Kurawa. Tapi aku tidak. Sekali aku punya keinginan, pantang bagiku surut untuk hanya bisa terguguk di sudut kamar. Kukatakan pada suami-suamiku, ?Kalau kalian merasa bisa bertabah diri menjadi bulan-bulanan Kurawa, aku tidak. Sadewa aku yakin setuju denganku. Biar saja nanti yang maju ke medan perang hanya ayahku Draupadi yang tua, juga saudaraku Drestadyumna, juga anak-anakku dari kalian. Biar saja Pratiwinda, Sutasoma, Srutakirti, Satanika, dan Srutakama yang masih ingusan itu yang mau berperang. Tak malukah kalian? Oh, jangan lupa, Arjuna. Anakmu dari Sumbadra, ya si Abimanyu itu pasti sepakat denganku. Pasti dia mau berperang untukku.

“Itu juga yang kukatakan pada Sri Kresna, orang yang selama ini selalu mendengarkan keluhanku karena kami sebenarnya saudara dalam ikatan batin.”

(5)
DRAUPADI keluar lagi dari ruang persembahyangan dan meneriaki Salindri, “Salindri, kau dengar teriakanku? Ah, jangan-jangan ia masih sibuk mendongengi anak-anakku, mengulang-ulang kisah keperkasaan ayah-ayah mereka.”

Draupadi masuk lagi dan beranjak ke tempat penyimpanan rontal. Membalik-balik beberapa lembar, membawa beberapa tapi kembali lagi menaruhnya di tumpukan dan dia kembali duduk. Di luar, senja yang jingga mulai mengelam. Angin sejuk masih membawa aroma amis darah.

“Hmm, amis sekali bau darah dari Kurusetra ini. Pasti, ya pasti, sebagian berasal dari darah Duryudana dan Dursasana. Semoga saja Bima tak hanya ingat sumpahnya sendiri, tapi juga sumpahku. Dia tak boleh meminum habis darah Dursasana karena aku harus mengeramas rambutku dari darah nistanya. Keramas darah dari orang yang pikirannya melulu kecabulan? Wow, pasti sangat anyir.”

(6)
PETANG menjelang. Draupadi berteriak lagi pada Salindri, “Senja sudah mau jadi malam, Salindri. Bawa dian ke sini. Aku tak mau gelap-gelapan.”
Tak ada jawaban, akhirnya Draupadi beranjak ke belakang, dan terdengar lagi suaranya, “Sudah hampir malam. Apakah Bima sudah memenuhi sumpahnya? Kenapa belum juga ada kabar dari Kurusetra?”

Draupadi kembali lagi ke ruangan persembahyangan sembari membawa pelita, menaruh pelita itu pada sudut ruangan. Mulutnya melantunkan Deepa Shlokam.
Lalu dengan agak lunglai dia beranjak lagi ke bangku batu.

Lelah sekali rasanya hari ini. Mungkin perang inilah yang membuatku sangat kelelahan. Ah, tidak. Bukan semata perang ini saja yang membuatku seperti berada dalam persimpangan antara kehendak membenci dan mencintai.
Ngomong apa aku ini? Salindri, Salindri. Heh, sebenarnya sedang apa perempuan itu? Ah, biarlah. Biar saja dia. Biar saja aku di sini, ngungun menunggu kabar dari Bima. Suasana rembang petang ini selalu membuatku merasa rawan. Sejak kecil, aku tak pernah suka senja. Dan pada senja semuram ini nyatanya aku harus menunggu kabar dari medan peperangan. Huh, perang, perang, perang. Aku memang menginginkan perang ini. Tidak, tidak hanya sekarang aku terjebak dalam peperangan. Sejak aku dilahirkan, perang sudah berkecamuk dalam diriku. Perang yang dipicu oleh dendam ayahku Draupada pada Drona. Dan aku kini benar-benar kelelahan oleh kesumat dendam.

(7)
DRAUPADI tertawa.
Aih, buat apa lagi kuceritakan kisah kelahiranku yang tidak dari rahim seorang perempuan? Semua orang sudah tahu itu. Kisah itu sudah diulang-ulang orang dari Ekacakra hingga Maghada, dari hutan Kurujanggala hingga puncak Himalaya. Hanya kisah pahit kalau mengingat sebenarnya sejak aku lahir aku tak pernah memiliki diriku sendiri. Apalagi sebenarnya aku bukan anak yang dikehendaki ayahku. Dia hanya menginginkan kakakku Destadyumna untuk membuat perhitungan terhadap Drona. Dan itu sudah terbayar. Ah, mungkin tidak. Bukan kakakku yang membunuh orang sesakti Drona. Resi Guru itu sendiri yang menginginkan kematian setelah meyakini Aswatama anak kesayangannya benar-benar sudah mati. Kakakku mungkin hanya mengantarkan kematiannya saja. Ah, sudahlah. Kenapa omonganku melantur begini? Salindri, Salindri. Hhh! Bisa habis kesabaranku dimakan senja yang tak pernah kusukai ini.

Draupadi diam sesaat memandangi langit yang mulai berubah warna menuju kelam.

Senja seperti ini pula yang mengawali kisah keterikatanku kepada Pandawa. Aku ingat benar senja itu aku baru saja menyanyikan puja-puja ketika ayahku Draupada memanggilku. Pancali, anakku bunga padma kebanggaan Pancala, sudah saatnya putik kembangmu disunting. Kau patut mendapatkan seorang pangeran yang tak hanya tampan dan perkasa, tapi juga berbudi. Makanya dalam waktu dekat, aku akan mengadakan sayembara dan akan kuminta kakakmu Drestadyumna mengumumkan ke seantero jagad. Bersiap-siaplah engkau.

Aku tertunduk ketika itu tapi hatiku penuh debur kecewa. “Kenapa selalu harus dengan sayembara, Ayah? Kenapa seorang gadis harus selalu menjadi hadiah suatu perlombaan dan tak bisa menentukan sendiri siapa yang dia kehendaki untuk jadi suami?” Ayahku mendengus dan hanya tertawa, Begitulah tradisinya, Yadnyaseni. Bertahun-tahun selalu seperti itu. Aku menghela napas panjang sebelum kukatakan, “Apakah Ayah ingat kisah Amba, Ambalika, dan Ambika?” Tentu, Draupadi, tentu.

“Bagaimana bila nasibku seperti mereka, bagaimana bila seperti Amba yang harus memendam kemarahan terus-menerus karena ditolak Bisma yang telah memenangkannya?” “Hah, jangan mengada-ada, Permata Pancala. Tidak, tidak akan seperti itu.” Aku terdiam. Ayahku terdiam juga. Lalu aku berkata lagi, “Ayah, tidak bisakah aku mencontoh Savitri si putri Raja Aswapati yang bebas menentukan calon suaminya, suami yang dia pilih dan cintai?” Ayahku mendengus dan berkata dengan keras, Dan Savitri hanya meratapi kemalangan dirinya karena kematian Satyawan? Sudahlah, Yadnyaseni, sayembara ini bukti kita adalah orang-orang mengukuhi tradisi. Tapi si Yadnyaseni yang lahir dari kobaran api ini tak mau begitu saja menerima alasan itu. “Tapi setidaknya Savitri membuktikan cintanya bisa mengalahkan kekakuan Dewa Maut Yamadipati.”

“Ayahku jadi marah dan berlalu meninggalkanku, masuk ke peraduannya. Semua orang sudah tahu akhirnya Arjuna yang menyamar jadi brahmana itu yang memenangiku. Jujur saja, ketika kulihat parasnya di arena sayembara, dia sudah memikatku. Hatiku pun berdeburan tak keruan ketika kakinya melangkah ke arena dan tangannya mengangkat gendewa. Syukurlah, memang dia yang berhasil. Itu juga awal semua hal yang menyeretku menjadi perempuan yang selalu terdera kepedihan.”

(8)
DRAUPADI terkikik, Ah sudahlah, semua sudah tahu akhirnya Arjuna membagi diriku bersama keempat saudaranya. Ya, aku perempuan yang diperebutkan di arena sayembara untuk mencari seorang suami itu harus menjumpai diriku menjadi istri lima lelaki.

“Ayahku marah besar, tapi lalu luruh dan menganggap kenyataan aku diperistri lima orang bersaudara sebagai semata takdir. Oh takdir, takdir pulakah yang membuatku dihinakan di ruang dadu? Takdir pulakah yang membuatku si putri raja Pancala itu harus hidup menderita di belantara selama belasan tahun? Takdir pulakah yang membuat diriku sekarang menunggu dengan penuh kecemasan akan kabar keberhasilan Bima menuntaskan sumpahnya?”

Draupadi terkikik, kikikan yang membuat terperanjat derik serangga. Lalu hening sejenak, sebelum suara langkah Draupadi pelan-pelan menuju ke tempat pelita. Di depan pelita yang menyala temaram, dia berdiri dalam sikap doa. Hening sejenak sebelum terdengar mulutnya menggeremengkan Sloka Durga.

(9)
HENING sejenak. Draupadi terlihat semakin gelisah.
“Kenapa belum ada kabar dari Bima? Salindri, Salindri, benar-benar kau lihat sendiri Bima menuju Kurusetra? Ah ya, aku yakin itu. Tadi pagi kulihat dia sudah tak sabar ingin segera menggebukkan gadanya ke dada Duryudana dan Dursasana. Matanya berbinaran dan cuping hidungnya selalu bergerak-gerak.”

Dari kejauhan terdengar suara riuh yang samar-samar.

“Apakah itu suara orang-orang mengelu-elukan Bima?”
Draupadi menajamkan telinganya untuk mendengar suara-suara itu, lalu tertawa.

“Hahaha, pasti. Pasti Bima telah menuntaskan sumpahnya. Hmmm, aku mesti bersiap-siap menyusulnya. Sudah tak sabar rasanya mengeramas rambut ini dengan darah kotor Dursasana.”

Draupadi beranjak ke belakang. Hening sesaat sebelum terdengar teriakan kerasnya, “Bima?!!! Ya ampun, jadi kau belum pergi ke Kurusetra?”

Semarang, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *