Sihir Santet pada Abad Modern

Judul: Memuja Mantra, Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi.
Penulis: Heru SP Saputra
Penerbit: LKiS, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, September 2007
Tebal: xxxix+394 halaman
Peresensi: Ahmad Hasan MS
http://suaramerdeka.com/

SALAH satu kelompok masyarakat adat yang memiliki tradisi unik dan langka di daerah Jawa Timur adalah Suku Using. Kelompok masyarakat yang terletak di daerah pinggiran Banyuwangi ini memiliki tradisi lisan warisan kerajaan Blambangan, memuja mantra. Mantra adalah doa sakral kesukuan yang mengandung magi dan berkekuatan gaib.

Di antara berbagai mantra, yang sering dipakai adalah Sabuk Mangir dan Jaran Goyang. Kedua mantra ini masing masing memiliki kekuatan magi berlainan. Sabuk Mangir merupakan mantra yang pada praktiknya digunakan untuk pengasihan (mendapatkan jodoh) secara halus. Adapun Jaran Goyang merupakan mantra yang digunakan untuk pengasihan secara kasar.

Buku ini berusaha membahas secara komprehensif ihwal praktik santet Suku Using Banyuwangi. Buku yang ditulis oleh dosen Universitas Jember ini berangkat dari penelitian lapangan di tiga desa kultural Using yang berbasis mantra seperti Desa Kemiren dan Olehsari (Kecamatan Gajah) serta Mangir (Kecamatan Rojogampi).

Tradisi bermantra sejak lama telah mengakar kuat dalam kehidupan kelompok etnik Using. Pada dasarnya, masyarakat Using memiliki berbagai macam mantra. Namun secara garis besar dapat dipilah menjadi tiga jenis. Pertama, mantra berjenis santet yang berfungsi sebagai pengasihan -kemudian dikenal dengan istilah magi kuning jika bermuatan positif dan magi merah jika mengandung muatan negatif.

Kedua, mantra berjenis sihir yang bersifat merusak dan berpotensi menghilangkan nyawa –kemudian dikenal dengan istilah magi hitam. Ketiga, mantra yang bersifat positif, yakni mantra yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang kemudian dikenal dengan istilah magi putih.

Dalam buku ini penulis hanya membatasi pada mantra berjenis santet, yakni Mantra Sabuk Mangir dan Mantra Jaran Goyang. Alasannya dua mantra inilah yang sering digunakan masyarakat Using. Magi bagi masyarakat Using, mantra merupakan sesuatu yang diyakini mampu memberi kekuatan gaib dan memengaruhi alam pikiran dan prilaku seseorang. Adapun santet merupakan salah satu jenis ngelmu yang dimiliki masyarakat Using, yakni ngelmu pengasihan.

Pada umumnya, Mantra Sabuk Mangir digunakan oleh para kawula muda untuk mendapatkan jodoh. Mereka membaca mantra ini dilandasi dengan ketulusan hati untuk mendapatkan kebahagiaan secara hakiki. Proses bekerja kekuatan magi pada mantra Sabuk Mangir berjalan dengan halus atau pelan-pelan sehingga seseorang yang terkena oleh mantra tersebut tidak akan menyadari bahwa dirinya terkena ngelmu gaib. Karena itu, pengaruh kekuatan magi terhadap kesadaran seseorang terasa alami. Mantra yang dapat digunakan oleh laki-laki untuk memikat perempuan atau digunakan oleh perempuan untuk memikat laki-laki ini tidak memiliki dampak sosial yang berarti. Sementara itu, Mantra Jaran Goyang termasuk jenis mantra santet bermagi merah digunakan untuk pengasihan (percintaan) antarindividu dengan diwarnai rasa dendam. Proses bekerja kekuatan magi pada mantra Jaran Goyang berjalan lebih kasar atau cepat sehingga seseorang yang terkena mantra akan berprilaku tidak wajar atau tidak alami. Pada umumnya, Mantra Jaran Goyang ini digunakan oleh laki-laki untuk memikat perempuan. Namun, mantra Jaran Goyang ini memiliki dampak sosial yang negatif baik bagi si subjek (pemantra) maupun si objek. Selain itu, hasil pemanfaatan mantra Jaran Goyang bersifat variatif dari tingkatan tergila-gila sampai gila beneran.

Fungsi mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang bagi masyarakat Using dapat dipilah menjadi dua fungsi individual dan sosial. Fungsi individual tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psoikis dan biologis. Sementara itu, fungsi sosial mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang dapat bersifat integratif (menyatu) dan disintegratif (memisah). Kedua fungsi ini berlaku ketika mereka tidak mampu memanfaatkan mekanisme budaya lokal. Budaya lokal yang digunakan untuk mencari jodoh misalnya gredhoan, bathokan (mencari jodoh dengan memanfaatkan media warung tradisional) dan mlayokaken atau colongan (mencari jodoh dengan cara melarikan atau mencuri pacar untuk dinikahi). Selain fungsi utama sebagai pranata sosial tradisional, fungsi sosial lain mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang adalah sebagai penekan atau pemaksa keberlakuan tata nilai dalam masyarakat, sebagai peningkatan perasaan solidaritas kelompok, dan penebal kekuatan emosi religiusitas atau kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

Buku ini merupakan potret khasanah tradisi lokal masyarakat Using Jawa Timur yang tergolong langka. Selain berusaha membuka tabir teka-teki mantra, juga membahas secara gamblang misteri santet. Sebuah buku yang berusaha menguak sisi lain kehidupan abad modern melalui kajian antropologis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *