SYEKH BEJIRUM DAN RAJAH ANJING

Fahrudin Nasrulloh
http://lembahpring.multiply.com/

Satu

Mulanya hanyalah sebuah pertemuan tak terduga. Perjumpaan sekilas yang menggebyar takjub ihwal sosok petualang tersohor ini, sebagaimana wiracarita yang berkembang ketika itu. Syekh Bejirum bertemu Ibnu Batuta Al-Tanji (lahir di Tangier 1304 M dan wafat 1377 M) di Fez, Maroko, pada 8 November 1369 M, di sebuah kedai minum kecil. Syekh Bejirum sungguh tak menyana dapat bertemu dengan sosok petualang ini. Benaknya mendesis, alangkah takdir ibarat sihir suci hingga dunia bak sebutir pasir dalam cermin di mana setiap manusia tak lain sekibas cermin dari manusia lainnya. Dengan takzim Syekh Bejirum memperkenalkan diri dan berbasa-basi sekena hati. Tapi Ibnu Batuta tak banyak mengumbar cakap; dengan raut tatap aneh dan senyum tertahan garing, ia hanya menyodorkan kepada Syekh Bejirum jilid kelima kitab berjudul Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya (Cahaya Keyakinan dalam Muslihat Sihir Dunia).

Pesan lain Ibnu Batuta kepada Syekh Bejirum, sebelum ia pergi tanpa salam pisah, agar meneruskan petualangannya, terutama demi menemukan kelima belas jilid kitab tersebut untuk selanjutnya diserahkan kepada seorang pembesar kerajaan Majapahit di Pulau Jawa. Sejenak Syekh Bejirum seperti dirogoh kesadarannya, memandang lepas bebayang Ibnu Batuta yang menghilang ditelan hirukbising para tuan yang menuntaskan lelah penat dalam mabuk arak dan canda bahak di kedai itu.

Alangkah pertemuan yang teramat singkat nan mencekat kerongkongan, terasa mampat pedat. Seakan arwah sosok ini menyurupi jasadnya. Dengan cambuk kutuk, tanpa ampun, ia bakal bersabung nyawa dalam samudra apiraya. Setidaknya, bagi Syekh Bejirum, ini bukan mimpi sunyi atau tipudaya peristiwa yang melembekkan tantangan sekaligus tugas kelewat muskil itu. Dan memang sejak berusia muda ia telah tersesap kagum akan cerita petualangan Ibnu Batuta. Pikirannya mengabut, kala desir angin mengibaskan kedipan matanya. Di pucuk bayangannya bergentayangan serentang perjalanan mahapanjang ke berbagai benua hingga kelak ia terdampar di pantai utara Pulau Jawa. Lalu dengan hati digentar ngilu, ia membuka kitab itu. Pada halaman pertama sebelum mukaddimah tertoreh:

Segala mata memuja mantra, langit menggelegak di benaman waktu, semesta mengapung dalam pucat dingin subuh. Lekaslah sirna segala bala dan muslihat bayangan dunia, cermin batin lampus menghisap raga, menista segenap tetirah di bumi merah di jiwaluka membara. Duhai iman dan syakwasangka, alangkah mulia pahala dan dosa membadai melebur mengelam diteluh gemuruh surga dan neraka. Selamat datang kisah silam, selamat tinggal kisah mendatang yang tersimpan dalam kitab akhirat. Wahai manusia senjakala, kelak, lenyapkanlah bisikan laknat kitab hitam yang dikobarkan syair maut mayapada dan Jinmenus[1] berajah anjing buta. (Ibnu Batuta Al-Tanji, Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya, Jilid V, 1326 M).

Mungkinkah setiap bacaan suci karangan manusia adalah ranah terlarang bagi pembaca yang luput memburu dirinya dan lalai menamai dunia. Atau semua bacaan adalah segala mengada yang sejak silam telah tersimpan di sebuah tempat yang dihuni para makhluk langit, yang tertulis secara azali, dan rahasianya sedikit demi sedikit tersingkap ketika manusia mencerap renik peristiwa namun akhirnya kembali dilelap gulita. Seolah aksara diperuntukkan hidup-mati menerangi kebaikan dan keburukan, dan segala yang hidup bakal terkutuk saat aksara dihirup. Mungkin saja, lantaran tergulung amukan kisah petualangan Ibnu Batuta dalam karya akbarnya Tuhfah al-Nuzaffi Gharaib al-Amsar wa al Ajaib al-Asfar (Persembahan Memabukkan Sang Pengembara tentang Kota-kota Asing dan Petualangan yang Mengagumkan), tak sangsi lagi Syekh Bejirum mulai tersedot untuk mengungkap rahasia ganjil yang terkandung dalam Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya. Ia yakin bahwa setiap petualangan bakal membuat si pengelana tergelincir, sampai ia kehilangan diri, tak bertuan tak bertanah, tanpa kubur tanpa nama.

Kedua kitab itu, di kedalaman rayabaca yang menyiksa, telah benar-benar melimbur Syekh Bejirum ke dalam sihirkata berselimut kisah, mengendusi tilas petualangan Ibnu Batuta selama 27 tahun. Bahkan menurut Sir Henry Yules, kendati sejarawan George Sarton agak meragukannya, ia telah mengarungi pelbagai benua sepanjang 75.000 mil melalui daratan dan lautan (melebihi Marco Polo, Hsien Tsieng, Drake dan Magelhain, dan sebelum munculnya mesin uap).

Dua

konon cerita perjalanan Syekh Bejirum hanya dikenal di Nusa Jawa, tapi kemudian beredar hingga mencapai wilayah-wilayah terjauh, dibawa oleh para petualang yang boleh jadi sempat bertemu dengannya. Walau demikian, kisah sosok ini hanya termaktub dalam dua kitab. Kitab pertama, Langgam Seribu Kisah Sehelai Dusta, karya pujangga Pasai, Mahmud Baidur, yang dibunuh tanpa sebab yang jelas oleh cucu Arya Tadah bernama Rakyan Arya Gadah, saat ia mengunjungi gurunya, Empu Candragupta, di Majapahit. Yang kedua, kitab Kidung Sabrang Sukma karya Pangeran Pekik dari Surabaya, kerabat Sultan Agung Mataram.

Selain menyarikan ihwal hikayat kembara Syekh Bejirum, Pangeran Pekik juga mendedahkan ajaran mistik Malamatiyyah[2] sang syekh. Paparan tentang ajaran mistik Malamatiyyah ini merujuk kepada tiga karangan Syekh Bejirum, Zubdatu Afaati al-Azazil fi al-Zuhrah al-Ahmar (Untaian Marabahaya Azazil di Dunia Bintang Merah), Kanzu al-Auliya (Harta Karun Para Wali), dan Qishas al-Ard al-Aswad (Himpunan Kisah dari Tanah Hitam). Konon, ketiga kitab ini merupakan rujukan terpenting dalam menelaah khazanah mistik Jawa di zaman kemudian.

Sejak Mahmud Baidur terbunuh, karyanya juga ikut raib. Maka, hanya karya Pangeran Pekiklah yang tersisa (menurut sebagian sejarawan), meski di kemudian hari, tanpa runtutan alasan yang pasti, memicu denyar kerancuan kisah berselimut dusta. Dalam mukaddimah kitab Kidung Sabrang Sukma, menurut pengakuan sang pengarang, ia sengaja menyalin hampir semua dari tiga karya Syekh Bejirum itu, atau justru di relung remang batin terdalamnya bangkit bisik licik untuk mengocok segala kitab bacaannya (tidak hanya karya Syekh Bejirum, namun juga milik pengarang lainnya). Yang jelas, dalam kitab itu, Pangeran Pekik dengan telaten dan rinci menguraikan beragam tradisi mistik Jawa dengan alegori gnosis India dan Arabia dalam bentuk kisah pengembaraan.

Barangkali Pangeran Pekik sekadar larut dalam kebebalan khayal kitab-kitab yang dibacanya (juga tokoh-tokoh di dalamnya), bahwa di sana terhampar ribuan kisah dalam gelap-terang cecabang mimpi di pejaman mata para pengelana, bayangan seabrek peristiwa tak berjejak yang terus menyesaki ingatan yang lambat laun pudar lalu diriwayatkan kembali dengan mengaca ke seperca cermin maya.

Tiga

Dikisahkan dalam kitab Kidung Sabrang Sukma. Tatkala iman tercerabut terbang mengangkasa, menghilang ditelan kehampaan, terbius kejur pijar bintang Zohrah, tersepuh peluh sabda. Tersebutlah di awal cerita sosok Zahlul Iskandar Tuqluq, seorang Muslim pemuja mantra dari Kalkuta, yang menemukan tumpukan kitab ganjil di sekotak peti yang terpendam di sebuah teluk tak bernama. Di antara tumpukan kitab itu terdapat kitab Nur al-Yaqin fi Waswasi al-Sihr al-Dunya. Ketika membuka dan mencermati lembar demi lembar kitab tersebut, tanpa sama sekali ia sangka, menguar abu beracun yang menggosongkan kedua matanya, dan ia pun seda seketika.

Dikisahkan pula bahwa pada kisaran Agustus 1398, saat tiba di Kalkuta, tiba-tiba Syekh Bejirum dihadiahi sepeti kitab (yang berjumlah lima belas jilid) oleh seorang saudagar asal Hijaz. Alangkah terkejut ia bercampur bahagia sewaktu menyadari bahwa kumpulan kitab itulah yang sedang dicarinya. Suatu berkah atawa maunah bahwa ia tidak mengalami nasib sebagaimana yang dialami Zahlul Iskandar Tuqluq.[3] Ia membawa serta kitab-kitab itu dalam perjalanan ke Swarnadwipa dan Jawa.

Empat

Sekerumun kisah mengabu di sebutir debu di rimba waktu, terhempas diamuk desah azan subuh. Mengekalkan cakap angin, saat bayangan tuhan mengambang di hening awan, menyelinap ke dalam mimpi manusia yang malang, dihembus fajar keabadian. Tak ada jejak kejadian, hanya gentar cermin pikiran, lalu dongeng remang berkabar fana merenggut ruh segala.

Selama kurang lebih sebulan di kapal. Di tengah perjalanan ke Jawa, Syekh Bejirum mempelajari lima belas jilid kitab itu. Setelah ia menyuntuki pasase ketiga dari bagian pendahuluan jilid pertama, ternyata kitab akbar itu dianggit oleh Ibnu Batuta bersama sejumlah pengarang lain, yaitu Huzaimah Tulal Bazimah al-Iraqiy (jilid VI sampai jilid X, Khurasan, 1327 M) dan Bagjaz bin Huzailil Kiram al-Andalusiy (jilid XI sampai XV, Basrah, 1328 M). Sementara pada jilid I sampai V tertoreh nama Ibnu Batuta sebagai pengarang tunggal.

Lima belas jilid kitab itu memuat serangkaian kronik petualangan lintas benua, ilmu alkemi, astronomi, ornitologi, aljabar, mistisisme, dan sejumlah ramalan tentang kejadian-kejadian janggal di Hari Kiamat serta sekelumit ihwal dunia arasy (yang mengisahkan bagaimana Tuhan merancang kehidupan baru di akhirat). Semua kisah, beragam ilmu, ajaran dan ramalan dalam kitab itu mereka tuliskan berdasarkan bisikan Hakhqahzail, Jakhsyakyail, Ghatzyail, Waqzalhail, Dagsyakzail, Kahfadzmahyuz dan Maithatharuz. Ketujuh nama ini menunjuk kepada nama malaikat dan jin muslim. Sebagian dari kitab itu (meski secara acak) diterjemahkan Syekh Bejirum ke dalam bahasa Melayu dan bahasa Jawa Kuno dengan bantuan seorang darmaputra tersohor dari Kahuripan, Wiragil Saketi, dan seorang China totok, Bah Siok Kong, paman bungsu Ma Huan.[4]

Lima

Pada saatnya kelak hingga akhir hayat. Ketika calangmata tersilap aneka kejadian dunia. Saat debur pikiran tersesat ke jurang mimpi yang tak mengenal gelap dan terang, dan ingatan meracau sendiri lewat sunyi lautan kubur api. Sesobek catatan kecil, sekadar tanda dari ajal yang singkat, dari sang abdi berkalung pedang laknat.

Demikianlah kiranya derai amuk dalam benak Rawujil, sosok bertubuh cebol berparas parut pucat asal Desa Bedander dekat Kotapraja Majapahit, yang bersetia sepenuh jiwa mengabdikan seluruh hidupnya kepada Syekh Bejirum. Ia ditugasi sebagai juru tulis, selain melayani keperluan sehari-hari sang tuan. Inilah catatan berharga (dengan aksen tutur yang khas) yang tersisa darinya sebelum kapal yang mereka tumpangi lebur disapu badai hantu ombak laut:

Kurang lebih dua minggu sebelum kapal yang kami naiki tinggal kepingremah dan nyaris tak bersisa di pantai utara Pulau Jawa. Gemuruh ombak bergulungan membadai dari segenap penjuru. Saat itu, langit menghitam dihempaskan taufan Jaljalut bersepuh arwah pahit hujan yang begitu buruk nan miris dikisahkan para malaikat yang dibantai keturunan Iblis Jasim. Dari sinilah asal-usul teka-teki mata tersihir kata, menggerakkan Syekh Bejirum untuk menerjemahkan dan mensyarah kitab entah itu. Selama empat puluh tahun yang lalu, kitab itu telah dipesan oleh Mahesa Wukirlawa, kakek buyut Jagur Banaspati, seorang ahli nujum Prabu Wikramawardana, demi memenuhi impiannya: menggabungkan ilmu kesaktian Jawa dengan sihir jahat dari dunia Arabia demi kelanggengan kejayaan Majapahit. Namun Syekh Bejirum tidak menggubris dengkingcerita itu. Baginya, mungkin, tujuan yang lebih mulia ke Jawa ialah menuntut ilmu sekaligus berdakwah. Kapal kami memang nahas bin celaka. Juga barangkali sudah menjadi takdir sang Hyang Widi Wasa. Nakhodanya pemabuk sableng dari Inggris, Peter Goldberg, dan kekasih lacurnya Panji Brahwala dari Pajajaran. Mungkin laknat mungkin nasib tiada sayang, atau sebab arwah Prabu Wirabumi yang tak tenang di alam barzah. Kami tenggelam di tengah laut. Tiga puluh awak dan seratusan penumpang terlalap badai hantu laut, jasad mereka lantak lalu menjelma menjadi kawanan burung bingis bersayap petir, berupas ular sanca, meraung-raung mengerikan di angkasa malam. Padahal kami kerap mendengar mereka melantunkan tasbih, tahmid dan takbir, bahkan mendaras Al-Quran saban bakda shalat. Bagi kami yang selamat, inilah kekejaman laut yang paling jahanam. Bukan karena kualat atau lantaran sebagian dari kami memendam niat jahat. Seperti tato tentara Tartar, penuh amis liur naga. Ah, Dewa selalu bisa saja merajut cerita dan menyelamatkan lelaki ringkih ini. Namun bagiku, yang lebih menyakitkan ternyata Panji Brahwala kesayanganku tapi lebih dicintai Peter Goldberg, juga ditelan laut bersamanya. Memang ada yang meramalkan, ia bakal mati muda, sebab taji lingganya telah memborok sejak kebiasaan bejatnya itu bermula.[5]

Enam

Di pesisir pantai Tuban, remah sisa bangkai kapal ditemukan. Puluhan prajurit Majapahit menyisir di sepanjang pantai. Dalam keadaan setengah telanjang, Wurajil diseret dua orang prajurit Panglima Cakrawangsa. ?Wurajil, benarkah ini tulisanmu? Apakah Syekh Bejirum bersamamu dan membawa kitab Arab berajah anjing itu? Beruntung sekali sekarang kau masih hidup. Ketahuilah, saat ini aku adalah abdi Prabu Wikramawardana. Gustimu, Prabu Bhre Wirabumi, sudah mati. Selesailah Perang Paregrek[6] yang berkepanjangan ini.?

?Dasar pengkhianat, penghasut! Ribuan tentara Majapahit telah menjadi tumbal dalam perang saudara yang konyol ini, termasuk sisa-sisa pengikut Panglima Cheng Ho,? lengking Wurajil seraya menyambar catatan itu dari tangan Panglima Cakrawangsa lalu merobek-robek dan menelannya. Sontak Panglima Cakrawangsa bermurka durja dan terbakar dendam masa silamnya. Secepat kilat ia mencabut pedangnya, menebas leher Wurajil, menenteng kepalanya yang bersimbah darah itu seraya meledakkan bahak serapah, menenggak darah segarnya, lantas melemparkannya ke laut.

?Panglima, dilihat dari ciri-cirinya, tampaknya kami sudah menemukan Syekh Bejirum!? lapor salah seorang prajurit.

?Pinggirkan dia ke tepi pantai, cari kitab yang beraksara Arab dan bergambar rajah anjing. Pokoknya temukan kitab itu, sebelum kita semua dipenggal Gusti Jagur Banaspati. Kumpulkan semua barang apa saja. Pastikan apakah ia masih hidup atau sudah mati!? perintah Panglima Cakrawangsa kepada para prajuritnya yang sedari tadi bengong setelah lelah payah menunggu selama tujuh hari tujuh malam di pantai Tuban itu.

Lembaran-lembaran kertas berceceran. Sebagian basah, sebagian kering. Tampak selembar kulit kitab tertancap di pasir, nyunyut, amis, menguarkan percik asap air laut. Sejenak bau aneh merebak, sejenis aroma kemboja bercampur minyak zakfaran, beberapa saat kemudian berganti bau sangit singa laut lalu sengak busuk dubur orok gendruwo. Tak lama kemudian, hawa najis basin itu sirna. Kesiur angin pantai terasa membacok lunglaimata dan terik surya yang terasa gerah bersaput awan, sungguh menyiseti hati yang terajam gelisah.

Tujuh

Sekawanan burung layang-layang terbang menghiasi cakrawala. Merangsek hebat menghantam ombak. Menyambar-nyambar serpihan bangkai kapal dan isinya: pedang bermata zamrud, peti berukir Cina, perisai bergambar naga dan sura, ceceran rambut, sepotong jubah sutra, alat ukur bumi dan penunjuk arah, pena perunggu dari Kalkuta, terompah bermata delima merah, tombak bergagang cula badak. Semua benda itu bertebaran di pantai dalam selidik tajam mata Panglima Cakrawangsa. Kerongkongannya seperti tergorok gergaji saat membayangkan alangkah laknat badai hantu laut menghajar mereka. Perlahan-lahan ia menghampiri sesobek kertas basah, meski sedikit luntur, tapi pasti tulisan ini menggunakan tinta Arab yang dicampur minyak misik. Di situ tertulis:

Allah Maha Kuasa, kisah para wali dijaga Raja Tarmuz dan bala tentara Jin Bairuz. Tiga peti besar berisi kalung bertatah huruf Hijaiyah telah tiba di tlatah Jawa, Swarnadwipa dan Malaka. Hidayah melimpah berupa kaca benggala, teladan kebajikan dan kejahatan. Wahai kisanak, simaklah gerak-gerik kidang kencana bersisik ular, rantai emas dalam cengkeraman cakar burung bulbul beterbangan mengarungi ratusan candi yang mulai ditelan bumi. Hancurnya Recalanang, Butalacala dan pesihir Diyu Pacicilan yang dulu senantiasa berjaga di hening gunung Lawa Ijo dan rimba hutan Bajang Batu. Saudagar Jamal Khair Jahgsar dari Kalkuta telah bertandang ke Jawa. Berbondong-bondong para prajurit bertombak bermata Jahbazil, menyiapkan trisula dan gendewa, pula tampak bebocah buntung kaki bermata juling, mengelu-elukan arak-arakan sang putri saudagar, Dewi Surati Widasari. Ingatlah dan sadarlah, saat tajimani Dajjal menetesi mata manusia di setiap isya dan tarhim subuh, bersegeralah bangkit lalu berjunub dan berwudu. Lungsuran malam bertakbir akbar memusnahkan jejak lengking dedemit yang digusah gema azan dan aji sakti Qulhu Geni[7] Pangeran Jager, kerabat Ki Bondan Kalangjiman yang tak pernah terkalahkan itu. Tampak di ufuk barat, matahari bersabut angin gelewang, menggoyangkan ukiran kayu raksasa Batradewa yang dikerumuni rajah tetuyul dan rajakaya bertuliskan Hanacaraka, membius rasa gentar kaum kafir laknatullah. Menanahkan telinga segerombol siluman betina yang lorek dan cacat kubulnya, serentak lenyaplah itu semua, dan kini terpampang pesona alangkah elok dan menawannya bandar pelabuhan ini. Sungguh memukau, ketika bulan purnama sempurna di tengah laut, namun aneh dan giris, tatkala anjing-anjing berajah Arab berseliweran di sekitar kaki kuda Rimang Sembrani milik Raden Bogang Kaliwang. Masya Allah, seharusnya manusia berlindung kepada Allah dari cermin jahat dunia, meneladani kaum nabi dan wali, inilah orang-orang beriman yang benar-benar telah beriktikad menyebarkan Islam. Arca-arca sesembahan harus dihancurkan, tak ada lagi kitab hitam yang disebarkan Syekh Durga Brahala dan murid-muridnya, yang menyaru menjadi Kiai Alap-alap Jumput Pati dan semua pengikut setia Syekh Abdul Gani Dailami. Segala kemurtadan ini akan berakhir kisanak, seperti kisah peperangan dalam kitab langit dan kitab bumi. Yakinilah anggitan asli Syekh Bejirum ini, tanpa bimbang dan kecil hati. Inilah kebenaran atas kezaliman iblis dalam hati manusia. Tiada tuhan selain Allah, dan kalam qadim?[8]

Kertas basah itu hanya dua lembar, sebagian tintanya terkabur larut air laut. Sebagian lagi diterbangkan jahat angin malam. ?Huh, ini hanya tulisan konyol Syekh Bejirum. Sadarkan dia segera, sebelum kita membawanya ke Majapahit. Atau bila perlu, jika dia tidak bisa diajak bekerja sama, kita rajang-rajang tubuhnya. Bawa dia kemari, cepat!? Panglima Cakrawangsa yang mulai kalut membentak para prajuritnya.

Di kejauhan sang panglima mendengar sayup teriakan salah seorang prajurit yang memberitahu bahwa Syekh Bejirum telah meninggal. Betapa murka dibayang petaka saat Panglima Cakrawangsa mendengar kabar buruk itu. Tak ada lagi saksi hidup yang bisa dibawanya ke hadapan Gusti Jagur Banaspati. Tapi ia tidak ciut hati, ia terus memerintahkan para prajurit untuk menemukan kitab berajah Arab itu.

Kemudian seorang prajurit lainnya mendekati sang panglima, menyodorkan selembar kertas dan sebuah botol berisi arca Agatsya berkepala tiga, yang masing-masing berupa kepala anjing, jenglot, dan ular sanca.[9] ?Di mana kautemukan arca dan kertas ini? Agaknya kertasnya masih utuh dan tintanya seperti baru saja digoreskan,? selidik sang panglima.

?Di bawah bangkai pohon besar itu Panglima,? jawab prajurit itu dengan hati-hati.

Merasa usahanya sia-sia, Panglima Cakrawangsa merutuk sendiri dalam hati. ?Ah, mengapa tugas masygul ini dibebankan kepadaku. Weladalah, lebih baik aku bertarung hingga mati dengan seratus jawara pilih tanding ketimbang berurusan dengan orang-orang sinting dan menyebalkan ini.?

Panglima Cakrawangsa dan para prajurit segera meninggalkan pantai suram itu. Demi maut yang mendengus di kaki kuda Sembrani yang menerbangkan percik dendam atas nama kehidupan. Demi angin sangit yang mendaraskan bismillah di ubun-ubun ruh jagat raya. Terkutuklah para pemburu kisah, yang mengabarkan sabda Ilahi di padang lantak reruntuhan candi, pada unggunan kitab hitam yang dihanyutkan ke tengah laut oleh gerombolan serdadu bercaping hitam berkalung harimaunaga. Sementara para pendekar Jagur Banaspati terus dikerahkan memburu kitab Arab itu. Kendati bebayang bangkai kapal dan para penumpangnya menghantui mereka selama-lamanya.

Jombang -Yogyakarta, 2004-2005

*) Lahir 16 Agustus 1976 di Jombang. Alumnus pesantren Denanyar Jombang (1995) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2002). Bergiat di komunitas Lembah Pring Jombang. Bekerja sebagai editor lepas dan menulis puisi, cerpen dan esai di sejumlah media massa. Puisinya termuat dalam antologi Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Budaya, 2006, Yogyakarta). Cerpennya berjudul Nubuat dari Sabrang masuk nominasi dalam antologi cerpen Loktong (kerjasama CWI dan MENPORA, 2007, Jakarta). Beberapa buku yang bakal terbit Syekh Branjang Abang dan Lukisan Berdarah, Kiai dan Amplop, dan Subogel Gandrung Bola (kartun humor). Kini beralamat di Mojokuripan RT 1/RW 3, Jogoloyo Sumobito Jombang. Email: surabawuk@yahoo.com Kontak person. 081578177671. No Rekening BNI: 0106036459. Kacab. Jl. KH. Wahid Hasyim No. 176, Jombang, 61415. A.n. Fahrudin Nasrulloh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*