Agama dan Paradoks Perdamaian

Muhammadun AS*
http://oase.kompas.com/
Judul buku: Menggugat Tanggungjawab Agama-agama Abrahamik bagi Perdamaian Dunia
Penulis: Franz Magnis-Suseno, M Amin Abdullah, Said Aqil Siraj
Penerbit: Kanisius Yogyakarta
Cetakan: 1, 2010
Tebal: 176 halaman
harga: 35.000,-

Di tengah gagap gempita terorisme yang terus menyeruak, kondisi kemanusiaan terbelah dalam ruas ideologi dan politik yang terus berbenturan. Semua mengklaim sebagai pemegang haknya sendiri-sendiri sehingga mengabaikan kewajiban dan hak yang lain. Di samping itu, manusia sedang mengalami masa transformasi sosial dan kegelisahan psikologis yang luar biasa. Setiap hari, gambaran tentang peperangan, kemiskinan, bencana alam, dan terorisme disorotkan ke ruang-ruang tengah kita. Hidup terasa sesak dijejali berbagai krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di hampir seluruh penjuru dan lorong dunia.

Di tengah kondisi demikian, ternyata agama yang selama ini memberikan ketenangan dan kedamaian juga ikut larut menjadi part of problem, bagian pokok problem krisis sosial. Doktrin agama dijadikan alat legitimasi untuk membabtis kemunkaran sosial. Tragedi-tragedi mengerikan semisal Auschwitz, Rwanda, Bosnia, dan Wordl Traged Center, Bom Bali, hancurnya Afghanistan dan Irak, dan konflik berdarah Israel-Palestina, merupakan epifeni buruk yang menyingkapkan apa yang bisa terjadi ketika kepekaan terhadap kesucian setiap manusia lain telah musnah. Agama justru tampak pesimis dan mencerminkan kekerasan dan keputusasaan zaman.

Buku ini menyajikan pemikiran tiga cendekiawan Indonesia yang saling berdebat ihwal tanggungjawab agama abrahamic bagi kelangsungan perdamaian dunia. Franz menjelaskan bahwa tragedi konflik social horizontal dewasa ini, tidak lagi dianggap sebagai pertarungan politik biasa, melainkan sebagai peperangan kosmis antara kebaikan dan kejahatan. Mereka sangat mencemaskan ancaman pemusnahan, sehingga mereka membentengi identitas dengan membangkitkan kembali doktrin-doktrin dan praktek-praktek masa lampau. Mereka telah mengubah mitos agama menjadi logos, baik dengan menyatakan bahwa ajaran mereka secara ilmiah benar, atau mengubah mitologi mereka yang rumit menjadi satu ideologi yang efisien. Sehingga, dalam prakteknya mereka sering mengabaikan nilai-nilai tersuci dalam keimanan.

Amin Abdullah melihat bahwa model keberagamaan berdasarkan realitas tersebut masih terjebak dalam konsep fiqh oriented. Semuanya dihukumi hitam-putih, halal-haram, Muslim-non-Muslim, dan stereotip diskriminatif lainnya. Inilah model beragama ditangan agamawan. Mereka fasih bicara agama, namun ?gagal? menemukan hikmah dan kebajikan dari agama. Mereka hafal A sampai Z tentang agama, tetapi itu hanya menjadi logos, al-ilm, pengetahuan, yang tak merasuk dalam jiwa. Kegagalan memahami agama inilah yang terus menyulut konflik horizontal tiada henti. Semua akan menklaim agamanya sebagai satu-satunya jalan kebenaran (truth), jalan keselamatan (salvation), jalan kebahagiaan (happiness), sementara agama lain sebaliknya.

Kalau demikian, dimana kita melangkahkan jalan keberagamaan kita di masa depan? Said Aqil melihat pentingnya menyuarakan agama cinta. Yakni model beragama masa depan yang paling strategis. Agama cinta lahir bukan dari dan untuk rahim agama tertentu. Agama cinta lahir untuk menebarkan misi suci (sacred mission) kerahmatan lil?alamin berupa kebahagiaan, kedamaian, dan ketentraman. Agama cinta tak lagi memandang batas-batas agama, suku, etnis, budaya, dan bangsa. Agama cinta menjelma payung terhadap semesta. Orang yang berteduh dalam payung cinta akan merasakan kehadiran-Nya, sehingga kehidupannya tak lagi menampakkan kebencian dan kebengisan dengan yang lain. Konsep inilah yang disabdakan Nabi bahwa ?tidaklah sempurna iman kamu sekalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri?.

Model inilah yang dipraktekkan dalam dakwah Nabi, baik di Makkah maupun di Madinah. Walaupun beliau adalah pemimpin tertinggi Madinah, namun beliau tidak pernah memaksakan Islam dan syariahnya kepada Yahudi dan Nasrani. Semuanya berteduh dibawah payung Nabi. Bahkan ketika orang musyrik yang sering melemparinya kotoran sakit, beliaulah orang pertama kali menjenguk musyrik tersebut. Ketika beliau menaklukkan kota Makkah (fathu makkah), tak setetespun darah mengalir, padahal sebelumnya mereka musuh besar Nabi.

Inilah yang kemudian dipraktekkan Khulafau al-Rasyidin. Siapa tak takjub melihat Sang Khalifah Umar bin Khattab mengangkat beras dari baitul mal untuk diantarkan sendiri kepada rakyatnya yang sedang kelaparan. Spirit cinta Nabi inilah kemudian yang dipraktekkan para Sufi Agung seperti Rabiah Adawiyah, Abdul Qodir Jailany, dan Maulana Jalaluddin Rumi. Para sufi tersebut tidak hanya menebarkan kasih saying terhadap sesama Muslim saja, namun juga lintas agama. Dalam Tariqohnya, Rumi tidak hanya dikelilingi murid-muridnya yang Muslim, tetapi juga dari orang Yahudi dan Nasrani. Dan Rumi tidak tak pernah memaksakan Islamnya kepada kaum ahli kitab.

Mereka melihat jalan menuju Tuhan tak perlu dibatasi dan disekat oleh lembaga dan organisasi agama tertentu. Jalan menuju Tuhan adalah jalan menebarkan kasih sayang. Mengapa kita harus menyempitkan kasih Tuhan, yang meliputi langit dan bumi?

Simaklah yang dikatakan Ibnu Arabi, sufi agung abad ke-13, ?Hatiku telah mampu menerima berbagai bentuk. Padang gembala rusa atau biara pendeta Kristen, dan Kuil berhala, Ka?bah tempat peziarah, dan Kitab Taurat, dan al-Quran. Aku mengikuti agama cinta; kemanapun unta cinta membawaku, kesitulah agamaku dan keimananku?.

*) Analis Sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *