Di Balik Tragedi Lumpur Lapindo

Judul : Konspirasi di Balik Lumpur Lapindo; dari Aktor hingga Strategi Kotor
Penulis : Ali Azhar Akbar
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Juni 2007
Tebal : 250 halaman
Peresensi: Achmad Maulani
http://suaramerdeka.com/

SETAHUN lebih sudah lumpur menyembur di Porong Sidoarjo. Tiada terkira dampaknya. Belasan desa terendam, puluhan pabrik tutup, ratusan hektar sawah musnah. Bahkan lebih 27 ribu jiwa terlempar dari tanah kelahiran. Mereka kehilangan segala sumber penghidupan. Nyaris tak ada yang tersisa. Hari-hari ini mereka kosong menatap masa depan. Kerugian pun telah menyentuh angka Rp 27,4 triliun!

Itulah sepenggal potret malapetaka yang berawal dari kegagalan pengeboran gas di Blok Brantas, Jawa Timur, oleh Lapindo Brantas Inc –perusahaan di bawah kelompok usaha Bakrie– yang berubah menjadi sebuah tragedi kebudayaan (meminjam istilah WS Rendra).

Buku yang ditulis jebolan Teknik Perminyakan ITB dan Hukum Perminyakan FH UI Jakarta ini menyuguhkan sebuah analisis ilmiah tentang penyebab awal hingga data mutakhir perkembangan semburan lumpur tersebut. Penulis yang pernah aktif di YLBHI, Walhi dan saat ini aktif di Koalisi HAM urusan bencana ini juga menunjukkan dengan gamblang aksi-aksi kotor beberapa pihak di balik petaka itu.

Dalam bahasa penulis buku ini, telah terjadi sebuah konspirasi besar di balik kasus lumpur Lapindo. Soal proses ganti rugi tanah penduduk yang dipenuhi kongkalikong sehingga menjadi terkatung-katung, upaya “diam-diam” pengalihan saham perusahaan Lapindo ke Freehold Group Limited –sebuah perusahaan di British Virgin Islands yang tak jelas pemiliknya, serta manipulasi simbolis, dengan misalnya memopulerkan istilah lumpur Sidoarjo dan bukan lumpur Lapindo, adalah contoh kecil sikap tak ksatria perusahaan hingga menyebabkan penanganan kasus ini semakin ruwet dan tak kunjung tuntas.

Dalam kasus lumpur Lapindo ini, satu hal ingin dikatakan penulis: kejahatan lingkungan sedang melenggang di depan mata. Kasus ini memperlihatkan betapa modal bisa bergerak sangat lincah untuk melangkahi serta menekuk “hajat hidup orang banyak” dan otoritas negara, yang menyebabkan rakyat tenggelam dan musnah…

Keuntungan Ekonomi

Di dalam buku setebal 250 halaman ini, penulis kelahiran Jakarta 46 tahun silam itu juga menunjukkan bahwa segala yang terjadi berkaitan dengan kasus lumpur Lapindo adalah sebuah ironi dan wajah gelap pembangunan. Sebuah praktik pembangunan yang menemui kebuntuan sendiri akibat kebijakan yang hiperpragmatis, yang hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi semata tanpa landasan etika yang mengawal.

Menurut Azhar Akbar yang juga pernah menjadi konsultan lingkungan untuk beberapa perusahaan minyak Indonesia, kasus lumpur Lapindo tentu saja bukan peristiwa alam yang singgah tanpa sebab yang mendahuluinya. Orang mungkin bisa menyebut peristiwa itu sebagai bencana alam. Tetapi lebih dari itu, ia adalah dampak eksploitasi alam yang berlebihan. Ia juga membuktikan bahwa pembangunan yang berjalan selama ini hanya mengenal satu berprinsip: pembangunan adalah bisnis!

Kelebihan buku ini adalah ia sangat kaya dengan data-data ilmiah yang mencoba merekam proses awal pengeboran di Blok Brantas Sidoarjo hingga terjadinya malapetaka yang mengerikan tersebut. Untuk memudahkan pembaca yang awam di bidang perminyakan, penulis yang memang berlatar belakang eksak perminyakan, sengaja menulis glossary tentang soal-soal di seputar perminyakan pada bagian awal buku ini. Dengan hal tersebut pembaca akan mampu melihat apa yang sesungguhnya yang terjadi dengan kasus Lapindo ini di luar isu-isu dampak sosialnya.

Selain tentu merekam isu-isu di seputar dampak sosial-ekonomi dari kasus lumpur Lapindo ini, buku ini saya kira dengan sangat bagus dan runtut juga memaparkan tentang sejarah risalah bisnis minyak di muka bumi ini.

Dimulai dari Colonel El Drake, yang memulai eksplorasi minyak dan gas bumi di Pennsylvania, AS tahun 1859, bisnis minyak kemudian menggurita dan mendiaspora ke seluruh dunia hingga masa awal kapitalisme dengan Maurice Clark dan John D Rockfleller sebagai pemain utama dengan perusahaan pengolah minyaknya (halaman 33-45). Adapun di Indonesia raja-raja minyak berputar di kelompok bisnis Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk, hingga Arifin Panigoro yang merupakan kombinasi politikus dan pengusaha (halaman 51-69).

Amburadul

Buku ini ditulis orang yang tidaknya hanya berkutat sebagai aktivis sosial yang punya kepekaan tinggi terhadap problem sosial, tetapi juga paham tentang seluk beluk perminyakan. Dengan demikian analisis yang dilahirkan pun tajam, kritis dan tidak lahir dari common sense belaka, baik dari sisi dunia perminyakan, sudut pandang ekonomi, politik, teknis maupaun hukum. Inilah saya kira kelebihan buku ini.

Dalam penanganan kasus Lumpur Lapindo yang amburadul serta salah urus sehingga menyebabkan rakyat semakin terjerembab dalam ketidakpastian (halaman 147), pertanyaan bernada gugatan yang dilontarkan penulis adalah: di mana peran negara?

Fakta-fakta yang terekam dalam buku ini dengan jelas menyodorkan sebuah kenyataan bahwa negara dalam konteks ini ternyata gagal menjalankan fungsinya melindungi kepentingan rakyat yang tersisih sebagai cermin komitmen sosialnya. Keserakahan modal ternyata telah menyandera peran negara dalam melindungi rakyat.

Drama getir serta implikasi mengerikan dari beberapa proyek pembangunan oleh korporasi besar (konglomerasi) seperti dalam kasus Lapindo ini tampaknya cukup menunjukkan tentang lenyapnya landasan etis dan poros kesejahteraan sosial dalam setiap kebijakan pembangunan yang diambil.

Belajar dari kasus Lapindo tersebut, menurut penulis yang harus dilakukan ke depan adalah mengagendakan strategi pembangunan ekonomi yang memberi nisbah secara proporsional bagi seluruh rakyat. Modal dengan segenap pirantinya tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa koridor aturan main yang mengawalnya. Tanpa itu, pembangunan dengan jalan pengeksploitasian hanya akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang tidak terperikan. Dan, wajah pembangunan tak akan lagi menyisakan muka manusiawinya.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply