Elitisme Sastra Jawa

Beni Setia
http://cetak.kompas.com/

Temuan tersirat dari Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 di Nglaran, Cakul, Trenggalek, adalah fenomena kuatnya ego kreatif sastrawan Jawa modern. Para kreator beranggapan problem sastra Jawa itu penciptaan dengan masalah eksplorasi dan eksploitasi tema dan bentuk ungkap di satu sisi serta mengekalkan teks ciptaan dalam ujud buku di sisi lain.

Terjebak di dunia sempit yang hanya berparameter kreativitas. Sistem nilai yang hanya menuntut sastrawan untuk mencipta dan mencipta lagi dan akan mencipta apa lagi, seperti dituntut Iwan Simatupang. Yang mendorong Saini KM mengatakan bahwa bila sudah tidak kreatif lagi, sebaiknya cari profesi nonsastra, misalnya jadi bakul roti. Sesuatu yang menyebabkan Budi Darma menghalalkan pembunuhan karakter bagi sastrawan yang tak lagi mencipta, yang dianggap bekas sastrawan yang tinggal di museum.

Di tengah terbatasnya rubrik sastra di media berbahasa Jawa, di tengah kondisi naskah harus mengantre panjang sebelum bisa dipublikasikan, dan di tengah minimnya naskah berkualitas yang menyebabkan si redaktur bimbang membedakan naskah sastra dan panglipur wuyung sehingga masyarakat toleran pada kualitas karya yang ada: lahir tuntutan untuk mengekalkan diri sebagai si kreator. Obsesi sastrawan Jawa itu–tanpa membedakan produktivitas dari kreativitas–harus menerbitkan buku sebagai bukti tertulis dari kreativitas dan kesastrawanan.

Tak peduli-mengutip Budi Darma-hanya buku, kreativitas, dan kesastrawanan di museum. Bahkan, lebih dari sekadar sinisme kepada pudarnya kreativitas, mungkin juga hanya kitsch yang tidak berhak menempati rak museum sastra. Dan di luar ikhwal kualitas sastra, bahkan tidak adanya terobosan pencarian alternatif estetika lewat satu usaha eksperimentasi yang orisinal, tuntutan akan sastra harus tertulis, dipublikasikan secara tertulis di media massa cetak berbasa Jawa, dan kemudian dikekalkan sebagai buku sastra Jawa-atau sekadar panglipur wuyung-terasa sangat kuat.

Bagi mereka, sastra modern itu harus tertulis dan diapresiasi dalam satu kegiatan membaca yang serius dan khusus. Penghargaan pada sastra modern dengan membeli dan mengoleksi buku. Buku itu merupakan puncak karier kesastrawanan, seperti yang terbukti oleh transkripsi 10 cerita rakyat lisan Jawa ke dalam wujud buku sebagai hasil proyek PPSJS dan Gramedia. Dan almarhum RM Yunani Prawiranegara bilang pergelaran wayang bukan teks sastra yang dipergelarkan, tapi mutlak pergelaran. Tanpa melihat fenomena pergelaran yang bermula dari teks cerita tertulis atau teks lisan warisan dari ki dalang sebelumnya atau dikreasi sendiri oleh dalang bersangkutan.

Puisi Rendra

Sastra tak mungkin tampil lisan dengan kolaborasi dengan karawitan. Sastra itu tertulis, yakni buku. Tak dikenal adanya fenomena audiobook yang berupa rekaman audio atas pelisanan teks karya sastra oleh aktor atau oleh si sastrawannya sendiri. Padahal, rekaman kaset dan kemudian CD pembacaan puisi Rendra itu tetap mutlak dianggap publikasi sastra dan ini sejajar dengan rekaman macapat dari fragmen teks tertentu di album klenengan yang tidak dianggap kegiatan rengeng-rengeng dan tetap publikasi sastra. Gejala umum dari publikasi sastra nontertulis yang lupa dimaknai.

Dengan kata lain, sastra bukan sekadar masalah kreator mencipta secara tertulis, kreator memublikasikannya di media massa cetak, dan kemudian mengekalkannya dalam wujud buku. Tidak sesempit itu. Tak seegois itu. Ego kreatif yang menyebabkan seorang Ikranagara pernah sampai kepada arogansi “teater tanpa penonton”. Sebuah kegenitan mencipta dan mementaskan tanpa peduli pa- da keberadaan penonton yang melahirkan teater tanpa naskah, melulu sinopsis demi wujud bebas happening hasil olah improvisasi aktor yang direspons kolaboratif tata cahaya, musik, dan seterusnya.

Dan sastrawan Jawa yang terfokus pada kreasi dan publikasi cetak nyaris ada di tataran itu. Dalam arogansi: sastra itu teks di majalah atau buku. Berkesastraan itu harfiah menulis agar dipublikasikan tertulis. Setelah itu semua tergantung inisiatif si pembaca. Apresiasi itu mencari bacaan, membeli bacaan, dan membaca hingga kritik hanya bukti tertulis apresiasi ahli. Upaya terobosan menyapa calon apresiator dengan melisankan dan mempergelarkan teks merupakan tindakan berlebih. Lalar gawe.

Jadi kalau sastra Jawa modern kehilangan pembaca itu bukan karena langkanya penerbitan buku dan lemahnya distribusi ke toko buku. Bukan karena itu. Akan tetapi, lebih karena egoisme sastrawan modern Jawa yang serba harus ditulis dan apresiator aktif mencari buku. Padahal, secara tradisional masyarakat Jawa di pedesaan terbiasa mengapresiasi sastra secara lisan. Sejak awal sastra Jawa modern memang ditakdirkan terasing, elitistik, mengasingkan diri.

*) Pengarang Tinggal di Caruban, Madiun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *