MENULIS SEBAGAI IBADAH

Maman S. Mahayana*
http://mahayana-mahadewa.com/

Karya sastra ?dalam hal tertentu?bolehlah dianggap sebagai refleksi evaluatif pengarang atas problem sosial yang terjadi di sekitarnya. Boleh juga karya itu dipandang sebagai representasi kegelisahan sosio-kultural pengarang dalam memaknai simpang-siur peristiwa yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Dalam hal ini, pengarang biasanya hanya akan mengungkapkan realitas kehidupan berdasarkan pengalaman yang paling dekat dengan dirinya. Atau, menyampaikan sesuatu yang benar-benar diketahui dan dialaminya. Mengingat sesuatu yang paling dekat dan benar-benar diketahui dan dialaminya itu kehidupan dunia sekitarnya, maka potret kehidupan itulah yang akan ia sampaikan. Oleh karena itu, sadar atau tidak, pengarang sesungguhnya tidak dapat melepaskan diri dari latar belakang sosial budaya tempat ia lahir dan dibesarkan, pendidikan yang dicapai atau ideologi dan agama yang dianutnya. Kesemuanya itu akan mengejawantah dan mewujud dalam dunia imajinatif yang dihadirkannya. Dalam wilayah itulah karya sastra menyapa pembacanya dan coba menyentuh nilai-nilai kemanusiaannya.

Mohammad Fudoli Zaini agaknya punya konsep lain dalam merumuskan dan kemudian menerjemahkan proses kreatifnya. Baginya, mengarang adalah salah satu bentuk ibadah. Dengan kesadaran itu, ia berusaha tiada henti, menyingkap tabir yang membatasi hubungan manusia dengan Allah. Tujuannya satu, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya dan coba menyatukan diri dengan sifat-sifat-Nya. ?Bukankah ibadah adalah perjalanan makrifat yang tak putus-putusnya dalam menuju kepada-Nya?? Begitulah sikap berkesenian (: bersastra) seorang Fudoli Zaini.

Dengan kesadaran bahwa mengarang adalah salah satu bentuk ibadah, maka sangat mungkin ia justru cenderung menyampaikan pesan-pesan religiusnya secara verbal. Jika demikian, nilai estetik sastra akan jatuh dan yang muncul ke permukaan tidak lebih dari dakwah agama. Tidak terhindarkan pula, pesan moral akan tampak sangat menonjol. Pada gilirannya, karya itu pun lebih menyerupai semacam pamflet propaganda agama daripada sebagai karya sastra yang menawarkan kekayaan makna dan keindahan estetik.

Nyatanya, apa yang dilakukan Fudoli tidak di dalam kerangka sastra propaganda. Ia menyebutnya sebagai sastra transendental. Dalam hal itulah, ia menempatkan cerpen-cerpen yang dihasilkannya sebagai sastra terlibat-dalam. Sebuah konsep yang berlawanan dengan pengertian sastra terlibat-luar. Maka ketika kita menjumpai begitu banyak peristiwa pikiran atau peristiwa batin dalam cerpen-cerpen Fudoli, ia sesungguhnya sedang mengejawantahkan konsep sastra terlibat-dalam itu. Di sana ada usaha untuk menyentuh dan membentuk dunia-dalam manusia. Dari sana pula dunia-luar manusia akan terungkapkan. Demikian juga, berbagai rahasia di balik rangkaian peristiwa, akan dapat diterjemahkan sampai kepada hakikatnya. Jadi, sastra transendental bagi Fudoli sekadar sebagai alat untuk mengungkap rahasia manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.

Bahwa Fudoli memilih cara yang demikian, tentu saja bukan tanpa alasan. Baginya, sastra transendental mutlak diperlukan. Ia jauh lebih mendasar, karena menyentuh problem manusia lebih mendalam dan fundamental. Sastra religius dan sastra sufi merupakan contoh, betapa dalam sastra yang seperti itu, gambaran hubungan manusia dengan manusia atau hubungan manusia dengan Tuhan menjadi bagian penting dari tema cerita, dan sekaligus juga sebagai amanat terselubung yang hendak disampaikan kepada pembacanya. Menurutnya, sastra sufi lahir dari kedalaman pengalaman seorang sufi dalam pencarian dan pergulatannya yang begitu intens dengan Sang Hakikat.

Dalam pandangan Fudoli Zaini, seorang sufi sebenarnya seorang seniman yang begitu terpikat oleh hakikat segala keindahan. Ia tak puas dengan keindahan lahiriah. Yang dicari dan diburunya bukanlah keindahan yang tampak dari luar, melainkan keindahan Sang Hakikat, keindahan Yang Maha Indah. Ia berada dalam tataran yang tak terbatas. Ia juga tak pernah akan habis. Karena tak akan ada habis-habisnya, maka pencarian seorang sufi pun tak terbatas dan tak ada habis-habisnya.

?Dari pengalaman pergulatan dan pencarian yang tak henti-hentinya akan keindahan Yang Maha Indah itulah lahir karya-karya sufi, bukan sekadar dari timbaan bacaan dan pemikiran,? begitu Fudoli beranggapan. Ia pun menambahkan, ?Di samping itu, seorang sufi juga seorang yang telah melengkapi dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ada pada zamannya. Oleh karena itu, seorang sufi selain telah mempunyai ilmu suthour ?ilmu yang tertulis dalam buku-buku?, juga sekaligus memiliki ilmu shudour ?ilmu ?dalam? yang hanya tersimpan di dalam dada dan kalbu?. Maka tidaklah mengherankan, mengapa karya-karya sastra sufi dapat mencapai kepuncakan, begitu indah dan sekaligus sangat dalam.?
***

Di antara begitu banyak sastrawan Indonesia yang berorientasi ke dunia Barat dan melihat Barat sebagai potret kemajuan ilmu pengetahuan, Fudoli Zaini justru memilih Timur Tengah, khususnya Mesir dengan Universitas Al-Azhar yang menjadi tujuannya. Di Institute of Islamic Studies dan Institute of Arabic Studies di Universitas Al-Azhar itulah pemahamannya tentang sastra Islam dan filsafat sufi makin luas dan mendalam. Lewat pemahaman yang mendalam itu pula, ia sangat menyadari, bahwa mengabaikan tasawuf berarti pula mengabaikan kekayaan Islam yang sangat berharga, dimensi rohani yang membuat penghayatan keagamaan seseorang menjadi lebih mendalam. Sayangnya, kesadaran itu kurang dimiliki oleh umat Islam sendiri. Akibatnya, banyak terjadi kesalahpahaman dan pandangan yang keliru tentang tasawuf dan kehidupan kaum sufi. Beberapa pandangan yang keliru menyebutkan, bawah tasawuf identik dengan khurafat dan sejenisnya. Kaum sufi juga sering dianggap telah keliru menjalankan peribadatannya, karena telah keluar dari garis Quran dan Sunah.

Dalam pandangan Fudoli, sufi yang hakiki adalah seorang yang berpijak pada Quran dan Sunnah. ?Setiap thariqah akan menemui jalan buntu, kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah.? Boleh jadi lantaran pandangan itu pula, seni dalam Islam harus dihidupkan. Oleh karena itulah, dalam pandangan Fudoli, kebebasan berkreasi seniman (Islam), di satu pihak, jangan sampai dihambat kaum ulama fiqh, dan di lain pihak senimannya sendiri harus tahu dan memahami betul aturan agama yang dianutnya, agar kebebasan kreatifnya tidak bentrok dengan kebebasan kreatif Tuhan. Di sinilah, seniman (Muslim) harus berusaha terus-menerus menyatukan diri dengan kemerdekaan Allah dan menyatu pula dengan sifat-sifat-Nya.

Pandangan Mohammad Fudoli tentang sastra sufi dan dunia tasawuf itu pula yang kemudian menjadi sikapnya dalam memandang konsep kebebasan berkreasi. Maka, kita dapat memahami, betapa sejumlah besar karya Fudoli ?teristimewa tiga karya yang terbit belakangan, Arafah (1985), Batu-Batu Setan (1994), dan Rindu Ladang Padang Ilalang (2002)?cenderung memperlihatkan adanya kesadaran sufistik.

Abdul Hadi WM dalam bukunya Tasawuf yang Tertindas (Jakarta: Paramadina, 2001; hlm. 320) bahkan menempatkan Fudoli Zaini sebagai salah seorang pelopor gerakan sastra sufistik di Indonesia tahun 1970-an, berjejer dengan nama-nama Danarto, Kuntowijoyo, Abdul Hadi WM, dan Sutardji Calzoum Bachri. Dalam bukunya yang lain (Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 21?61), Abdul Hadi mengulas secara cukup mendalam persoalan sastra transendental dan kecenderungan sufistik kepengarangan Indonesia berikut wawasan estetiknya. Mengenai Fudoli, dikatakannya bahwa, ?Fudoli Zaini adalah penulis cerpen puitik, suatu kecenderungan yang cukup meluas dalam penulisan cerpen di Indonesia.? Ditambahkannya pula, ?Pada umumnya cerpen-cerpen Fudoli mengisahkan tentang perjalanan kesadaran batin manusia menghadapi berbagai permasalahan hidup, seperti kefanaan, kematian, dan kenisbian waktu yang kerap mengganggu. Harapan, cinta, ketakutan akan maut, ketakberdayaan insan di hadapan kekuatan gaib dari takdir yang pelik, perjuangan melawan hawa nafsu, kerinduan kepada Tuhan adalah tema-tema pokok cerpen Fudoli.?
***

Harus diakui, di antara begitu banyak cerpenis Indonesia, sedikit sekali yang coba mengangkat tema-tema sufistik. Dan di antara yang sedikit itu, nama Fudoli Zaini telah menempati kedudukannya yang khas. Sayangnya, pengamat sastra Indonesia ?terutama mereka yang datang dari Barat?cenderung menghindar atau bahkan menutup mata ketika berhadapan dengan karya-karya sastra yang memperlihatkan kecenderungan sufistik. Maka menjadi sangat wajar jika dalam buku-buku sejarah sastra Indonesia, nama Fudoli Zaini tidak tercantum di sana.

Terlepas dari persoalan itu, bagaimanapun juga, Fudoli telah berhasil membuat tonggak sendiri dalam kesusastraan Indonesia. Cerpen-cerpennya yang sebagian besar mengangkat tema sufistik, telah ikut menyemarakkan khazanah cerpen Indonesia. Dengan demikian, kita dapat memahami, bahwa wawasan estetik Fudoli jelas bersumber dari khazanah sastra dan filsafat sufi. Wajarlah jika ia menempatkan kegiatan kepengarangannya sebagai salah satu bentuk ibadah.

*) Pensyarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *