Puisi-Puisi Dadang Afriady

http://sastrakarta.multiply.com/
Rumah

aku berdiri di pinggir halamanmu
memungut daun jatuh dari pohon di sebelah;
bilamana dingin kemarau mengatupkan daun-daun
di depan rumah, lupakanlah kenanganku
seperti debu-debu itu basah tertimbun embun
terlindas jejak-jejak kering atas kembaramu
yang sepi yang sendiri.
dan tentu kubiarkan embun pagi itu rontok menyaksikan perih batin
yang melipat tangis anak kecil dari tetangga sebelah.
bilamana aku masih sempat
mengucap selamat tinggal;
agar tertanamlah bunga-bunga perdu
agar rindang, juga pada setiap bait kata dan
nama yang tercatat, sebelum kau melepaskan
kenangan karena aku begitu mencintaimu.
sampai bait puisi itu selesai dan bunyi daun jatuh
menutup perjumpaan ini di pingir halamanmu.

[2006]

Stasiun

aku lepaskan rindu pada hangat bangku tunggu
seperti gugur daun yang kuingat lewat jalan-jalan berkhalwat.
di stasiun, aku memanjangkan kenangan, pilar-pilar besi
dan peluit yang membentang atap dan mega mega berkarat

pun kiranya tetes airmata kering ini lebih mengerti tangis
dan keengganan yang lebih terasa ketika deret gerbong itu sampai
dan menyeret nyeret hatimu ke dalam pedih tutup alis
sampai lekuk garis matamu sembam menyimpan manik kepedihan
yang tumpah,
setipis udara menguap dan sedingin nafas yang terus mendekat

tapi bukan waktu dan perpisahan yang mesti kita salahkan
setelah jelaga hari dan pediangan mesti beku di sudut hati
agar kita mulai mengerti bagaimana merasai
sendiri dan menanda hari tanpa kekasih; bahwa masih ada tujuan

[2006]

Laut

pantai ini telah menyiapkan bunga karang yang tajam,
menyimpan jumlah memoar dan perjalanan
yang mesti kutuntaskan, ketika malam diserahkan senja yang bergerak lamban.
dan mata langit, mendekap bintang di punggungnya yang gelap. Tak ada lagi yang mesti
aku tunggu, segalanya telah pekat dan jelaga adalah nama lain yang juga kita semaikan.
pantai beku seluas bibirmu. mengulum lidah percakapan yang terus kau panjangkan.
dan deru angin, tak ada lagi air laut menyimpan kenangan, dan kepedihan di batinmu,
lebih pada bunga-bunga karang yang terus di asah ombak.
menambatkan rindu pada buih yang juga menggulung rindu ini. ah, dermaga, di mana
lagi kutemui wajahmu? di selatan pantai yang terus ditumbuhi bunga karang tanpa
basah airmata.

[2006]

Senja Terakhir

senja terakhir yang kusaksikan berakhir dengan lawatan burung kuntul
tak ada lagi siulan srigala yang jauh, seolah hutan telah sunyi
oleh sepi yang hidup di dalam dada setiap penghuninya.
barangkali malam begitu saja mencipta setiap deret angin dan dingin
seperti kupandangi lautan sawah di pematang batinku.
langit ini menguningkan sejumlah pertanyaan yang juga tak terjawab,
sementara kau tahu bahwa setiap jawaban telah ditemukan setiap kepala.
ah, aku manusia kecil. yang begitu rapuh pada tiap tanda yang jatuh di mataku.
serupa hujan kerikil di malam buruk kemarin. tidur adalah jalan lain
menemui khayalan yang terlalu sunyi kulewati sendiri.
tapi, dari kejauhan orang-orang riuh menertawakan kemenangan
setiap keringat dan peluh yang menetes juga ke tanah-tanah gersang
dan air ini telah luruh dari tangan-tangan yang berlumur darah.
barangkali, altar suci hanya milik batin putih,
dan terus menuju kemana lagi menyucikan namamu
yang tetap tumbuh di relung-relung kalbuku.

[2007]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *