Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
Mertajasa

Apakah engkau mendengar salamku?
apakah engkau mencium wangi dupaku?

Kami datang menjenguk
kalian sambut kami berebut

Kami menabur bunga
kami menabur doa
tanpa benar-benar tahu
apa sesungguhnya yang terjadi di sana

Dalam hukum ruang-waktu, kami di sisimu
tapi kami benar-benar tidak tahu
karena dekat dan jauh
menyatu, menjadi satu, dalam rahasiamu

7/11/2009

Mandi Cahaya

Berjalan saat malam
di sempadan tanah perdikan
menelusuri pematang demi pematang
malam ke-16 kala itu
purnama lebih gemilang daripada satu malam sebelumnya
karena langit bersih cerah dan terang

Aku mendongak ke langit untuk melihat,
tak heran dan menganggap biasa
lalu aku mendongak di dalam puisi
barulah takjub,
karena menulis adalah mengamati

Berjalan di pematang,
malam-malam di bawah sinar purnama gemilang
kubayangkan cahaya kota berpindah ke kampung
atau desaku menjadi kota dalam beberapa tahun lagi
tak ada siang, tak ada malam
tetap terang, semua berlalu lalang
orang bekerja siang dan malam

Aduh, malam!
lampu berlebih telah melukai aura gelapnya
aduh, cantik! oh, bulan!
cantik tidaklah selalu bersinar terang
karena malam dan purnama
hanya indah di mata yang rendah cahaya
pada saat ia gelap dan terang
sesuai kodratnya

4/11/2009

Setelah Menjadi Ibu

Setelah menjadi ibu
Widadah lalu pergi selamanya
Usai operasi, melahirkan dua anak kembarnya

Widadah telah pergi meninggalkan hidup
saat sang buah hati baru saja belajar menjalaninya

Widadah baru saja menjadi ibu
Lalu ia meninggalkan hidup, tangisan, dua yatim,
kesedihan yang berkepanjangan

Setelah menjadi ibu
Widadah lalu pergi selamanya
usai menyerahkan napas
untuk kedua anak kembarnya

Itulah ibu
entahlah anak

16/11/2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *