Puisi-Puisi R. Toto Sugiharto

Tinta Menetes Menyeru Nama

kubelai hati semata wayang
jangan sesali menanggung duka
jalan bertemu berliku pematang

padi berayun lengan melambai
jalan pena bertebing badai

aku bertemu lesing telentang
bertemu puak sanak kerabat
duka mengerak hati mengarang

aduhai,
badan di ujung pena
tinta menetes menyeru nama

kayu mengabu dalam tungku
batu bertulis menyimpan jasad
hati menangis menanggung rindu.

Tidur di Kolong Ranjang

tidur di kolong ranjang
dunia menyempit cahaya meremang
sebentar terlena sebentar terjaga
mengharap waktu tiada beda

mendengar lenguh tetangga
mengapa hidup saling benci dan dendam
bila semua berakhir di pembaringan
tidur di kolong ranjang
tidur bersanding pispot tinja
bau obat dan kencing beradu cepat

dengarlah keluh si sakit
mengapa ia menanggung derita
dari dendam sesama di lorong pasar dunia

tidur di kolong ranjang
sembari menulis catatan harian
redamlah hati mereka yang dendam.

Darah Siapa Mengalir dalam Tubuhmu

darah siapa mengalir dalam tubuhmu
lebih pekat merahnya
lebih kental tebalnya
darah merasuk dalam pembuluh
menyatu dengan darahmu

darah siapa mengalir dalam tubuhmu
mungkin darah preman
bisa pula darah bangsawan

darah siapa mengalir dalam tubuhmu
merah darah merah hatimu
merah darah merah hatiku

darah siapa mengalir dalam tubuhmu
darah dari donor tak dikenal
biarlah merasuk mengalir dalam nadimu

darah siapa mengalir dalam tubuhmu
darah merah, darah Syech Siti Jenar
merah darah, merah Syech Lemah Abang.

Kita Belum Juga Sampai

kubalas rindu
kutimbun dalam bejana waktu
kaca mengembun
gemeretak air hujan mengucuri
kata belum juga sampai
dendam kekasih tak pernah capai

kukenakan tubuh
menguar sisa bau peluh
embun menguap dari lantai

kukemasi isi hati
mengepaki nafsu dan syahwat
memisahkannya dari benci dan khianat

kulunasi hutang kesumat
mencungkil koin cemas tabungan asa
jiwa meregang mata tersayat

kuredam badan
di kolam penebusan
daki menglupas dibilas karma terendam.

Penyair Berlindung dari Tirai-Nya

betapa sempit ruas waktu
tiada berasa menjelang masa
tiba saatnya mohon diri
dari kefanaan yang riuh
namun sunyi di hati
tapi sebenarnya juga berisi

andaikata esok tak bersua lagi
di bait ini tersisa sempat
pamit mundur dari yang fana

ketika badan menyadari
tak sekuat dulu lagi

ada baiknya menyisip nasihat
di antara bebait syair
penyair berlindung dari Tirai-Nya

teramat banyak tak terungkap
dari pena rapuh makin menua
masih ada tersisa misteri
tetaplah ia sebagai tetanda
bagi pembaca yang peka
sedikit terkuak jejak makna tinta-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *