Tentang Film Dokumenter Pita Buta

Nu?man ?Zeus? Anggara*
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

MENSOSIALISASIKAN pemahaman tentang kesehatan untuk masyarakat lewat film sudah bukan hal yang asing dalam kemodernan. Pada era Orde Baru telah banyak dibuat film-film yang mengkampanyekan program-program pemerintah yang mempunyai sasaran-sasaran spesifik lewat drama-drama keteladanan. Perkembangan wacana film saat ini telah memasuki tahap baru, seiring pendekatan-pendekatan artistik yang memilki keberagamannya meluas dan pesat. Salah satunya film dokumenter.

Pada kemunculannya pertama kali di sebagai produk independen, film dokumenter masih memegang keyakinannya akan fungsi-fungsi ideologis. Di Indonesia sendiri dimana aspek sosial politik yang menggebu-gebu menjadikan segala kegiatan seni yang ingin dianggap peduli mesti memasukkan persoalan-persoalan tersebut atau malah menempatkannya sebagai target utama karya. Persoalan sosial politik yang pada dirinya sudah mengundang sikap pro dan kontra cukup untuk mengundang calon audiens untuk segera menikmatinya. Karakter penonton yang seperti inilah yang menjadikan beberapa film dokumenter yang menyajikan dirinya sebagai penggalang opini tetap dapat mempertahankan eksistensinya di samping genre-genre film lainnya. Selanjutnya yang muncul adalah silang-sengkarut tentang paradigma artistik.

Untuk ruang durasi yang tersedia sekitar 15-20 menit, apa yang tersaji mungkin hanya seluas pamflet dan bukan sebuah uraian lengkap. Tantangan itu yang menjadikan film dokumenter pendek mesti mampu menarasikan tema dengan cara seefisien mungkin, efisiensmi yang tidak dipahami dalam perspektif ekonomi makna. Keterbatasan yang mirip dalam video klip dimana gambar dan tema dirangkum tidak dengan cara penyingkatan melainkan keutuhan singkat yang mampu memadatkan persepsi untuk terkonsentrasikan pada pesan-pesan termuat. Tantangan-tantangan teknis akhirnya ikut menjadi strategi permainan persepsi; yang dalam hal ini menyangkut angle, sinkronisasi track, politisasi subyek adegan, pewaktuan (timing), dan editing. Kesempatan untuk menyampaikan pesan akhirnya sangat tergantung bagaimana sutradara mampu mengetengahkan potongan-potongan adegan mencapai klimaks atau konklusi yang meruncing. Bukan pada bagian apilog melainkan bagaimana film tersebut tampil seperti lukisan yang tidak menghilang seiring durasi, penampakannya permanen dan imanensi yang tersirat membentuk fragmen-fragmen berkelanjutan. Karena kecenderungan psikologi menonton hampir sama dengan psikologi audiensi, sehingga yang penting diupayakan merujuk pada usaha untuk mengikat sentakan awal adegan tidak mengalami penurunan intensi saat berlanjut ke adegan lainnya hingga akhir. Dapat dipahami jika film pendek dalam kenyataannya memiliki kekuatan yang paradoks dengan kesempatan penyajian durasi, sifat singkatnya malah membentuk ingatan yang solid dan fokus.

Film adalah gambar bergerak. Sebuah gambar menurut tradisi seni rupa merupakan kombinasi obyek dan imajinasi yang diaduk menjadi produk yang ilusif meski dalam beberapa perwujudannya mengambil perspektif realis. Dalam persinggungannya dengan gerak (moving), film mengambil posisi imajinasi dan keterikatannya terhadap obyek seiring konstruksi adegan yang dalam persepsi membentuk kenikmatan dalam durasi. Sebuah tontonan memberikan sensasi tuturan visual yang konvensi fotografis dan skenografi membentang seperti relief hidup dan tersinkronisasi. Film dokumenter berada diseberang film fiksi, dan kadang-kadang saling bersinggungan, menawarkan realitas yang telah diimajinasikan namun masih menempatkan obyek dengan posisinya yang relatif ?murni?. Situasi yang seperti ini menimbulkan kesan bahwa film dokumenter adalah sebuah bentuk opini dengan metode persuasi yang lebih bisa dipahamai dengan kepekaan moral pada jamaknya. Tidak perlu mengandaikan penafsiran berlarat-larat untuk bisa menerima sepenuhnya apa yang akan disampaikan film. Kehadiran obyek yang lebih aktif menjadikan film dokumenter akhirnya tidak dilihat sebagai cerita melainkan feature yang mata kamera menjadi penyeleksi realitas yang boleh dilihat dan tidak. Sebagai susunan citra dan perekam kehidupan, prosedur rekaman selalalu tunduk fakta bahwa ia cenderung dibuat melalui film; sebagaimana menurut Vertov, mata mekanis mempunyai kemampuan mempertontonkan dan menjernihkan buat pemirsa tentang apa yang ada dibalik mata telanjang. 1)

Pita Buta merupakan film yang di dalamnya sutradara mengambil peran aktif sebagai pembawa pesan dimana tema dihadirkan lewat eksposisi kamera yang mengikuti perjalanan dia menginvestigasi industri rokok. Dalam penampilannya sebagai narator, tapi sebenarnya tidak terlihat karena lebih banyak dibagikan kepada tokoh-tokoh lain, dia seperti ingin menampilkan suasana yang jurnalistik dibanding dramatik. Film ini kumpulan informasi yang terpapar mulai dari perjalanan Surabaya-Kediri dan kunjungan-kunjungan ke rumah penduduk hingga wawamcara pejabat. Adegan-adegan yang muncul sepertinya tidak ditargetkan untuk memberikan sensasi emosional yang intens melainkan penyampaian didaktik yang diorganisasikan agar tidak terlalu terlihat seperti pelajaran sekolah. Khalayak tahu bahwa pendekatan jurnalistik ini bisa mengesankan laporan umum dan jauh dari kesan sinematik, langkah-langkahnya seperti prosedur yang telah dijlentrehkan melalui diktat.

Untung saja figur S Jai yang tampil dalam gestur dan perwajahan lokalnya mengesankan sesuatu yang cair dengan latar. Dalam film ini S Jai tidak tampak seperti wisatawan dari kota yang tengah menyelidiki kasus nasional, ia seperti orang kampung sesungguhnya yang tampak ingin tahu mengenai apa sebenarnya yang terjadi. Hanya saja bila peran yang dibawakannya ditempatkan dengan porsi ekstra bisa jadi hasil akhir akan lebih menguntungkan. Beberapa pengambilan gambar figur S Jai ini juga dalam beberapa kesempatan menghindari close-up dengan sensasi yang lumayan bagus, seperti waktu di kereta. Adalah mungkin untuk melihat bahwa tidak hanya ada kemiripan akibat antara close-up dan citra tentang wajah yang menjadi tak terkenali, tetapi juga timbal-balik: close-up menyebabkan pengaruh fisik tentang non-identitas, dan pada gilirannya wajah yang tak terkenali memfokuskan kekuatan afektif close-up, biasanya diabaikan dalam dimensi-dimensi tereduksi dalam bentuk-bentuk tayangan kontemporer seperti televisi. 2)

Kamera sebagai pemain utama dalam film dokumenter mempunyai posisi sentral yang mengesahkan kualitas artistik dimana ia berpijak. Dalam konteks Pita Buta kamera hadir sebagai sandingan ansich yang menegaskan kehadiran narator dengan kapasitasnya sebagai pewawancara narasumber sebagaimana telah diskenariokan. Entah karena kesulitan mengambil posisi yang enak atau sebab lain, pengambilan gambar muncul dengan wajar dan tidak dimaksudkan untuk kegairahan sudut pandang. Hal itu bisa jadi disebabkan kesempatan mengeksplorasi yang sangat terbatas karena kebutuhan untuk menyampaikan informasi jurnalistik menjadi prioritas utama dan akhirnya peluang-peluang visual mesti dikorbankan. Karena ini adalah karya yang sangat padat informasi jadi kondisi seperti itu sangat bisa dimaklumi.

Skenografi Pita Buta pada dasarnya sudah mencukupi untuk dianggap lumayan, hanya saja saat menampilkan narasumber masih belum memberikan sentuhan kreatif yang mencerahkan. Bagaimana tokoh-tokoh tersebut ditampilkan sebenarnya bisa dikemas dengan cara yang sedikit elegan sehingga tidak memberikan kesan seperti liputan televisi. Tentu saja agak sulit memberi arahan yang sedikit bergaya untuk orang-orang dengan posisi administratif seperti mereka. Tetapi setidak-tidaknya perlu dicoba. Terlepas dari persoalan tersebut, informasi yang menjadi tujuan utama interview sudah cukup representatif dan komunikatif. Karena dengan pertimbangan-pertimbangan penyampaian informasi, arahan-arahan kreatif yang nerlebihan kadang menjadikan informasi termaksud tidak tertangkap oleh pemirsa dan tersapu oleh aspek sinematik.

Dengan kelebihan dan kekurangannya, upaya menjadikan film dokumenter sebagai media penyampai slogan patut disambut gembira. Media film mempunyai kekuatan tersendiri dalam menanamkan pesan, terutama bagi mereka yang mudah dibuat bosan oleh khotbah-khotbah verbal dan tidak memilki waktu untuk basa-basi. Film menawarkan kesenangan tersendiri bagi beberapa khalayak sehingga penyampaian program apabila tidak tercapai dengan maksimal masih memberikan rasa simpati dan setidak-tidaknya akan memberikan kesan. Gambar, seperti jejak kaki di rumput atau noda di mantel, mempunyai kemampuan untuk menawarkan bukti lebih dari yang lain, di dalamnya lebih dari sekedar kerangka ideologis, lebih dari efek retoris dan politis, tergantung apa yang kita inginkan padanya. 3)

*) Penulis adalah klandestin budaya, penyuka musik, epistemologi, sosiologi dan perempuan. Komponen FS3LP dan Teater Puska.

Bruzzi, Stella. New documentary: a critical introduction ? 2nd ed. Routledge 2006
Davis; Therese. The Face on the Screen: Death, Recognition and Spectatorship. Intellect Books. Bristol 2004
Thomas Austin and Wilma de Jong, Rethinking Documentary . McGraw-Hill. 2008.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *