Pinangan

Rachem Siyaeza
http://www.suarakarya-online.com/

Misna tak percaya, meski teman-teman di sekolahnya tadi pagi berkabar perihal lelaki yang telah menyunting dirinya. Ia menolak kabar itu. Tak mungkin. Jauh-jauh hari tak ada asap membubung genting perihal pinangan. Tetapi pulang sekolah, tanpa sempat berganti baju, Misna dipanggil Sahab, bapaknya, yang tiba-tiba muncul di daun pintu kamar gadis itu.

Misna menjatuhkan muka ke lantai, tak berdaya hendak mengangkat ucap saat bapaknya memberitahukan seorang lelaki yang nanti malam akan menjadi suaminya. Di dalam kepala gadis itu terbayang sebuah film yang pernah ditontonnya di rumah Bak Margono, saudara tertua ibunya. Betapa inginnya Misna meniru aktor perempuan aktor utama di film itu.
“Kamu tak perlu lagi sekolah,” ucap ayahnya.

Peluh dingin mulai membasah di kening Misna. Ia terkesiap. Tak berani gadis itu menatap bapaknya. Pikirannya kembali melayang, mengambil kesimpulan: takdir tak menuliskannya untuk bertubuh perawan lebih lama lagi. Lebih-lebih ia harus segera berhenti bersekolah, menghentikan cita-citanya. Memutus harapan untuk bisa meniru salah satu aktor dalam film tentang seorang perempuan desa yang bisa melanjutkan sekolah ke Jogja yang pernah dilihatnya di rumah kakak tertua ibunya itu.

Sehabis Misna menunduk takzimlebih tepatnya menunduk takut atas pemberitahuan ayahnya, perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas lincak dipan yang membentang di dalam kamarnya. Mendiam diri. Menatap langit-langit kamar. Bagaimana bisa? tanyanya dalam hati. Perlahan-lahan, bisa jadi dalam semalam, para pengantin telah teranugrahi untuk saling mengenal. Percayalah, kebaikan selalu didampingi para malaikat. Tak usahlah khawatir, Misna. Lihatlah, kami-kami pun menikah tanpa kenal atau sama sekali gambar calon suami kami pun, kami tak tahu. Tapi sekarang, kami bisa beranak pinak, bahagia!
Kalimat-kalimat itu berputar-putar di kepalanya.

Kalimat-kalimat yang tak asing dan seringkali muncul saat seorang gadis muda dipinang. Terlebih kini, kata-kata berpetuah itu tepat tertuju pada dirinya, menyebut namanya.

* * *

Man Durahwi, orang yang didatangi pihak lelaki bakal suami, sebagai pelantara untuk menyampaikan pinangan pada orang tua Misna, mengipas-ngipas dadanya dengan selembar kertas. Tak disangka-sangka, ia dipercaya sebagai penyampai pinangan. Padahal tak pernah sekali pun dalam hidupnya pernah mendapat mandat penyambung lidah pinangan.

Bagaimanapun, tak mudah memperoleh kepercayaan itu, apalagi ia hanya orang biasa, orang yang tak terpandang. Entah kenapa tiba-tiba ia mendapatkan itu tanpa harus bersusah payah menampilkan kedirian dan pengakuan sebagai orang yang patut. Tak urung, ia heran sekaligus yakin; bahwa nanti hidupnya akan disegani dan dihargai karena telah menjadi penyambung lidah pinangan yang terbilang mendadak itu.

Memang, prihal asap pinangan itu telah beberapa hari yang lalu Man Durahwi dengar. Tetapi baru beberapa jam tadi, ia percaya pada lamaran itu. Dan ia tambah yakin bila ternyata dirinyalah penyambung lidah pinangan. Tentu, ia faham meski baru pertama kalinya, bahwa sebagai penyambung lidah pinangan, ia harus menanggung resikonya jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Misalnya gagal manaiki jenjang ijab kabul karena salah satu calon pengantin melarikan diri. Paling tidak, jika itu terjadi ia akan mendapat malu. Dan alamat, ia takkan pernah mendapat lagi kepercayaan sebagai penyambung lidah pinangan.

Belum genap tiga jam pihak lelaki beranjak pulang sehabis berbincang macam-macam dengan Man Durahwi soal pernikahan calon lelaki dan Misna mempertegas akad nikah bahwa akan dilangsungkan nanti malam. Sebagaimana lazimnya, pihak lelaki itu hendak mempersiapkan apa-apa semacam pakaian dan alat sembahyang, dan tentu saja uang 100 ribu yang diminta orang tua Misna sebagai maskawin.

Selesai Man Durahwi mengipas-ngipas, keringatnya lumayan mengering, lelaki itu bergegas diri menuju rumah, empat rumah dari kediamannya. Sahab menyambutnya.

“Tinggal menunggu mempelai lelaki datang, Hab. Selepas Magrib,” ujarnya pada Sahab yang tengah membakar kretek. Ayah Misna itu mengangguk, tersenyum tipis. Asap tembakau membubung di udara disertai nafas panjang Sahab. Ia bernafas panjang sekali lagi seolah memberikan tanda bahwa selesailah tugas sebagai seorang ayah. Anak perawan telah laku. Tak perlu khawatir apalagi risau karena harus menunggu pinangan. Ya, anak perempuannya takkan jadi perawan tua yang mengundang gunjing. Tambah bergembiralah rasanya ayah Misna itu.

Calon suami Misna adalah santri, demikian Man Durahwi menjelaskan prihal calon suami Misna. Dan tak putus-putuslah senyum di bibir Sahab mendengar itu. Bukankah lengkap sudah punya menantu semacam itu? Menantu yang akan membawa anak dan orangtuanya berstatus naik satu peringkat di masyarakat.

* * *

Para tetangga hampir semuanya berkumpul. Yang kebetulan berada di sawah, ladang, kebun, terburu-buru pulang mendadak saat seorang utusan berkabar.

Sebagian tetangga yang sudah berkumpul di perhelatan pernikahan, dengan berbisik-bisik tetangga itu, mereka mempercakapkan hal yang tak begitu aneh yang biasa menjadi lahapan bicara saat seorang gadis dipinang. Lumrah terjadi, dan acap kali mengundang perbincangan yang sudah-sudah. Seperti siapakah si lelaki? Namanya? Adakah mantap pada dara yang masih tak matang itu? Ah, baru beranjak kelas enam ibtidaiyah?

Tetapi bila kedua pihak antara pihak Misna dan pihak calon lakinya sudah bersepakat, tak baik di omong-omongkan lebih jauh. Nyatanya sudah banyak terjadi: menikah muda memang selalu bergairah meski awalnya perkiraan pengantin perempuannya kurang matang, namun esok-esoknya bersenyum-senyumlah si pengantin.

Berpuas-puaslah berduaan siang malam. Pendek kata, pernikahan mutlak membuat orang matang seketika!

Begitulah, kalau sudah sama-sama mengucap setuju, tak baik mengulur-ngulur waktu. Nanti malam, ijab kabul akan digelar karena memang demikian permintaan pihak lelaki. Begitu cepat, dan orang tua Misna mengamininya.

Kursi, meja, lincak, bertebaran di halaman. Berlusin-lusin piring, gelas, sendok, dan segala macam alat-alat dapur milik para tetangga hampir semuanya diangkut ke dapur tuan rumah yang akan menikahkan anak perempuan satu-satunya itu. Lima ekor ayam telah bersih bulunya. Tinggal memontong-motong dan kemudian memasaknya. Kopi dan makanan ringan dalam hitungan menit sudah siap. Tinggal diseruput dan dilahap.

* * *

Sore hampir meniada ketika Misna keluar kamar hendak ke kamar mandi. Tentu saja harus lewat dapur karena kamar mandi seperti layaknya kamar mandi orang-orang berada di luar rumah.

“Sudah laku kamu, Nak.” Gadis itu tak begitu memperhatikan terhadap apa yang diucapkan oleh salah seorang ibu-ibu yang tengah bersilasak sambil memotong bebawang.

Hanya senyum malu-malu dengan muka memerah terlihat di wajah Misna. Sempoyongan ia menapak kakinya hingga hampir saja terjatuh.
“Ah, terlalu tak sabar kamu menunggu malam.”

Seseorang melempar ucap lagi, dan disambut ucap-ucap semacam itu oleh yang lain:
“Aku dulu juga begitu, tak sabar menunggu berduaan di dalam kamar, hahaha.”

“Kalau aku dulu pura-pura menangis! Ya-ya, sesungguhnya aku tak sedih, sama denganmu: tak sabar ingin cepat-cepat bercumbu di malam pertama, hahaha.”

“Cepatlah dikit, Nak. Calon lakimu sebentar lagi datang,” ujar Suada, ibu Misna di tengah perbicangan dengan ibu-ibu sejawatnya. Kata-katanya sedikit ditekan seakan-akan mau menunjukkan kebanggaan akan anak perawannya yang telah laku pada ibu-ibu itu. Misna keluar dari kamar mandi. Mukanya tetap sama dengan saat sebelum mandi.

“Bersoleklah secantik mungkin, Nak. Biar lakimu nanti tambah gembira,” Suada kembali berujar tepat saat anaknya itu lewat di sampingnya sebelum akhirnya di telan daun pintu rumah.

* * *

Sore berakhir. Magrib jatuh. Dan sebagaimana kesepakatan, ijab kabul akan dilaksanakan sehabis sholat magrib. Mempelai lelaki sudah menunjukkan tanda-tanda datang. Bunyi rombangan mobil pengantin pihak lelaki itu menderu-deru, mendekat. Orang-orang berkumpul di halaman. Beramai-ramai ingin melihat dua sejoli berijab-kabul di hadapan penghulu. Mereka berkerumun saling menukar ucap. Pangolo Sahlan, penghulu itu duduk takzim di antara deretan-deretan tetamu.

“Sudah! Sudah! Gagalkan pernikahan ini!” Bak Marguno mendadak datang melempar ujar di halaman gelaran pernikahan sambil mematikan mesin sepeda motor bebek dua taknya.

Orang-orang menuai kejut tak percaya, melihat Bak Marguno, lelaki tertua saudara se ibu Suada, tiba-tiba datang mencak-mencak. “Kenapa, Kak? Mana mungkin, pengantin lelakinya sudah berangkat?” Sahab dan Man Durahwi mengangkat tanya dan penjelasan hampir bersamaan.

“Ini bukan hari yang tepat!” “Tapi” Sahab terputus kata-katanya.
“Lagi pula, tak ada dalam cerita keluarga kita pinangan mendadak yang diterima dari dulu.”
“Ya, tapi bukan berarti salah.” Sahab mencoba menimpali.
“Kelakuan iblislah yang terburu-buru!”
“Tidak bisa, Kak. Mau ditaruh di mana muka keluarga?”
“Persetan! Kau ini orang tua macam apa?!”
“Hah”

“Sudah! Cepat cegat calon suami Misna!” Bak Marguno semakin menaikkan suaranya. Orang-orang tak berani menyambung bicara. Sementara, Man Durahwi, penyambung lidah pinangan itu, nampak layu bagai baru saja mendapat tamparan.

Tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya bisa membayangkan, jika benar-benar pernikahan itu gagal, ia akan menjalani hidupnya dengan bermandi gunjing, dicap sebagai lelaki tak beperhitungan dan kehilangan harga diri di mata khalayak. Dari dalam dapur, Suada berlari menghampiri tiga orang yang bercakap berdiri di halaman gelaran pernikahan itu. Ibu-ibu yang lain menyusul di belakangnya ingin juga melihat apa yang terjadi.
“Apa-apa ini, Kak?

Bagaimana mesti digagalkan?” Suada terengah mengangkat ucap. Bak Marguno tak menanggap Suada. Lalu, lelaki itu beranjak melepaskan diri dari perbincangan. Masuk ke dalam rumah melewati tetamu di emper sambil memanggil-manggil Misna.

Sesaat berselang, dari dalam rumah, Bak Marguno keluar bersama Misna yang kebingungan dandanannya belum selesai benar ditarik tangannya oleh kakak ibunya itu.

“Harus digagalkan!” ucap Bak Marguno lantang sebelum akhirnya hilang di antara asap motornya disertai Misna di boncengan meninggalkan asap putih di halaman.***

Yogyakarta, 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *