Respons Sejarah terhadap Posmodernisme

Erica Awuy
http://suaramerdeka.com/

KEMUNCULAN postmodernisme (posmo) berikut segenap wacananya tak hanya telah mengguncang sendi ilmu pengetahuan konvensional yang sebelumnya sudah mapan. Ia juga telah sepnuhnya merombak sudut pandang, cakrawala pemikiran serta segenap dimensi pemahaman yang selama ini telah diyakini oleh para intelektual dunia.

Serangkaian transformasi sosial, ekonomi, atau budaya yang muncul pada era 1970-an dan 1980-an telah menguakkan berbagai sisi yang tidak ideal dari masyarakat yang sebelumnya sudah dianggap berjalan nyaman di atas rel kehidupan modern (modernisme).

Ledakan media massa, dunia komputer dan teknologi sibernetika dan berbagai teknologi baru lainnya, menghadirkan pengalaman ruang dan waktu yang baru pula. Walhasil, mendadak kita berada dalam kondisi bahwa suatu perkembangan dramatis telah terjadi di tengah masyarakat dengan segenap budayanya.

Pemikiran posmo pun menimbulkan perdebatan sengit yang berkepanjangan karena konsep pemikiran posmo secara progresif telah membongkar semua sendi pemikiran yang sebelumnya ?aman-aman saja?, termasuk ilmu sejarah dengan konsep historiografinya.

Buku ini adalah sebuah bunga rampai pemikiran dari para sejarawan kita yang berusaha untuk menjawab kecemasan mereka berkaitan dengan ide dekonstruksi terhadap makna dan fakta sejarah yang selama ini menjadi ?pisau analisis? posmo. Ternyata ditemukan banyak hal yang merujuk bahwa di kalangan para sejarawan sendiri telah tersimpan semacam kegelisahan.

Susanto Zuhdi, misalnya, dalam ??Metodologi Strukturistik dalam Historiografi Indonesia: Sebuah Alternatif?? (hal 1), menekankan bahwa selama ini sudah banyak kritik yang ditujukan pada karya sejarawan Indonesia yang dianggap sebagai disorientasi, berwawasan sempit, kurang membuka keragaman tema kajian, tak bisa menembus keterbatasan sumber dan sebagainya.

Dalam konteks historiografi, tantangan posmo terbesar secara jelas tertuju pada sisi konvensional sejarah, seperti ??fakta??, ??obyektivitas?? dan konsep ??kebenaran??, yang dalam pemikiran posmo memang terbuka untuk dibongkar dan disusun ulang pemahamannya berdasarkan konteks yang berbeda pula. Dalam posmo, setiap kebudayaan memandang dunia secara berbeda, dengan lensa konsep dan minat yang dimilikinya. Jadi, bagaimana sebuah narasi atau opini tentang sebuah dunia bisa dikatakan benar ? Hal ini menjadikan jalannya suatu ?peristiwa sejarah? yang dikenal selama ini menjadi sesuatu yang amat nisbi.
***

MENGHADAPI fenomena pemikiran seperti itu, para sejarawan sendiri bertekad menghasilkan suatu visi sejarah yang baru. Zuhdi sendiri menyebutkan bahwa para sejarawan bisa melakukan pendekatan secara multidimensional dan mencoba mengupayakan pemahaman sejarah yang bersifat strukturalistik (hal 10). Sebelumnya upaya ini pernah dilakukan oleh Sartono Kartodirdjo, dengan membuka perspektif alternatif dunia sejarah yang sebelumnya didominasi oleh data historiografi kolonial, yang memberikan rakyat peranan pasif.

Dengan memilih karya sejarah tentang pemberontakan petani di Banten pada tahun 1888, Sartono telah meninggalkan pendekatan historiografi kolonial. Sayangnya, buku ini baru sebatas menampilkan keinginan Susanto Zuhdi semata, belum ada pembahasan tentang bagaimana konsep atau langkah metodik pendekatan sejarah multidimensional itu. Padahal langkah ini cukup bermakna untuk menangkis serangan posmo terhadap eksistensi ilmu sejarah konvensional di era digital seperti ini.

Namun setidaknya pembaca akan menemukan hal lain sebagai pengobat kecewa setelah terlalu menaruh harap akan judul buku ini. Hampir semua (21) tulisan yang ada di buku ini cukup memikat. Sayangnya seleksi penyunting kurang cermat, karena masih ada tiga tulisan (dua tentang perubahan sosial di pedesaan China dan 30 tahun reformasi RRC, dan satu tentang Komodor Perry yang membuka isolasi Jepang) yang jelas di luar konteks. Namun tulisan lainnya tentang berbagai tema dan pokok tinjauan dalam konteks sejarah Indonesia, dalam rentang waktu peristiwa yang amat panjang, cukup memikat.

Mulai dari judul seperti ??Orang-Orang yang Diperjualbelikan: Aspek Sosial Ekonomi Perdagangan Budak di Daerah sekitar Batavia, 1710-1740??, atau ??Mendekonstruksi Mitos Pembangunan Jalan Raya Cadas Pangeran??, yang sarat dengan aspek sosial, hingga pembahasan gaya hidup seperti ??Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia Belanda??.

Satu hal lagi yang mencerminkan inkonsistensi tema dan disiplin redaksional buku ini adalah munculnya tulisan ??Koes Plus as Pioneer of Pop Music in Indonesia??. Naskah yang ditulis dalam bahasa Inggris ini hanya artikel musik biasa. Tak ada satu pun yang bisa dikaitkan dalam pokok bahasan tentang historiografi Indonesia sedikit pun. Aneh, tapi ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *