Aceh, Kurusetra, Bharatayudha

Imam Cahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Pernah menonton wayang, menonton film Mahabharata? Atau, menyimak kisahnya di buku, komik, atau dari cerita mulut ke mulut? Kendati cerita Mahabharata sudah sangat lama hidup dalam tradisi masyarakat kita, ia selalu saja menarik untuk dinikmati, alias tidak membosankan. Bisa jadi, ia telah menjadi salah satu bagian dalam khazanah budaya kita. Bukan tidak mungkin, kisah Mahabharata adalah kisah abadi yang akan selalu menjadi inspirasi bagi umat manusia. Yang pasti, ia memberikan banyak pelajaran dan pengalaman kepada kita semua?jika kita mau sejenak merenungkannya.
Menyimak kisah Mahabharata selalu saja menimbulkan sensasi tersendiri. Ada perasaan marah, geram, sedih, pedih, gembira dan seterusnya. Menyimak Mahabharata berarti bertamasya, terbang melayang ke masa silam, masa kini dan berimajinasi tentang kehidupan di masa yang akan datang.

Perang Saudara itu harus terjadi?
Peristiwa paling dramatis dalam kisah Mahabharata adalah perang Bharatayudha. Pandawa dan Kurawa, dua keturunan wangsa Kuru, berebut takhta dengan berperang besar-besaran, perang Bubat. Perang itu, pecah, berkecamuk di Kurusetra.
Dalam lakon Kresna Duta, Bharatayudha kudu dadi (perang bersaudara itu harus terjadi). Perang besar antarsaudara Bharatayudha itu, kata Kresna, bukan untuk mencari rezeki dan kejayaan belaka (kamukten), tetapi perang suci yang menempatkan manusia pada takdirnya: bahwa barang siapa punya utang harus membayar, yang menanam harus menuai, yang memproduksi harus memakainya (sapa nggawe kudu nganggo).
?Maka, orang yang tidak punya utang tidak perlu ragu, tidak perlu khawatir. Apalagi yang tidak punya utang pati (nyawa), tidur bisa nyenyak. Tetapi, bagi siapa yang punya utang pati dan wirang, entah apa yang akan terjadi dalam perang Bharatayudha,? demikian kata Kresna.
Bharatayudha adalah perang antara keluarga Pandawa (simbol kebenaran) melawan kelompok sepupunya, Kurawa (simbol ketidakbenaran). Perang ini untuk memperebutkan takhta warisan, Hastinapura. Sebelum perang terjadi, pihak Pandawa mengutus Kresna sebagai duta untuk menagih janji Kurawa yang akan menyerahkan kembali sebagian kerajaan Hastinapura.
Akan tetapi, Kresna ditolak oleh Kurawa. Kresna pun marah dan berubah menjadi raksasa. Kemarahan raksasa itu memang bisa diredam oleh Dewa Surya atau Dewa Matahari. Kemarahan Kresna bisa diredam, tapi perang saudara?Bharatayudha?tak bisa dibendung.
Tatkala menyimak kisah Mahabharata, ada segunung pertanyaan yang cukup mengganggu. Kita tak harus menangkap kisah itu hitam-putih begitu saja. Pandawa yang baik, berjiwa mulia, santun, adil berperang melawan Kurawa yang pongah, dengki, culas dan sombong. Pandawa didukung tokoh-tokoh dari golongan putih (baik) sementara Kurawa didukung oleh pihak yang jahat. Bagaimana dengan Bisma, Karna, yang berada di pihak Kurawa, tapi hati dan jiwanya berpihak pada kebenaran?

Mengapa antarsaudara sendiri harus saling membunuh?
Mengapa Pandawa yang konon berhati emas, berjiwa mulia, harus berperang melawan saudaranya sendiri? Apakah tidak ada jalan lain selain perang? Berapa prajurit dan tentara yang gugur oleh ambisi kedua pihak? Mereka tidak bisa disalahkan apakah mereka berada di pihak Pandawa atau Kurawa. Mereka hanyalah rakyat biasa yang harus senantiasa tunduk dan patuh pada junjungannya, rela mengorbankan jiwa raga demi bangsa. Sebagai warga negara yang baik, sudah menjadi kewajiban bagi rakyat untuk membela negaranya. Entah itu benar atau salah.
Dalam kisah Bharatayudha, pertempuran berkecamuk dengan bengis, sepanjang siang yang terik dan lembab itu. Ribuan kereta hancur dan kuda tewas. Gajah-gajah roboh, dan tubuh manusia?tak terhitung jumlahnya?tercincang, remuk, binasa. Kurusetra menjadi laut dengan puluhan gelombang yang bertabrakan, memuncratkan darah. Hari-hari peperangan di Kurusetra berlangsung seru, menyeramkan. Baik pihak yang baik dan yang jahat sama saja perilakunya. Logika perang adalah membunuh atau dibunuh. Jika ingin hidup, berarti harus memupus kehidupan yang lain. Logika perang adalah menang dan kemenangan. Dan untuk mencapainya, mereka sama-sama buas.

Perang, Sebuah Takdir?
Mengapa perang saudara itu harus terjadi? Apakah Tuhan telah menggariskan bahwa antara Pandawa dan Kurawa harus berperang sebagai jalan akhir yang mesti ditempuh? Bagaimana perasaan keluarga kedua belah pihak yang sedang berperang? Yang pasti, kalah jadi arang dan menang jadi abu. Pihak Pandawa pada akhirnya memenangkan pertempuran pun harus membersihkan diri dari dosa-dosa yang dilakukan semasa perang. Entah kebetulan ataukah sebuah kemestian, Bharatayudha juga terjadi dalam kehidupan keseharian manusia. Kita memang berharap tidak menemukannya, apalagi menyaksikan dan menghadapinya langsung. Tapi, apa boleh buat.
Di Indonesia, kita sudah menyaksikannya di pelupuk mata. Kisah Mahabharata, Bharatayudha dan Kurusetra ala Indonesia, berlangsung di Aceh. Di ujung timur nusantara, sudah lama genderang perang ditabuh. Dalam waktu dekat, perang yang lebih besar tampaknya tak lagi terelakkan. Perang antara saudara sendiri, sekandung, senasib, sepenanggungan, sebangsa dan setanah air.
Siapa pun tak bisa menyangkal, Aceh adalah jantung republik ini. Denyut pertama bangsa Indonesia dimulai dari Aceh. Tanah renconglah yang pertama kali mengakui Indonesia sebagai negara merdeka, pernyataan langsung kepada presiden Soekarno. Sang presiden pun mengakui sembari menitikkan airmata, bahwa Aceh adalah modal RI. Rakyat Aceh dengan ikhlas menyumbangkan dua pesawat terbang, Seulawah. Aceh juga menyumbangkan uang kontan sebesar 250.000 dolar AS kepada Angkatan Perang RI, 250.000 dolar lainnya untuk keperluan pemerintah Soekarno, serta 5 kg emas.
Jika kemudian muncul Gerakan Aceh Merdeka dan ingin melepaskan diri, itu pun bukan tanpa alasan, tidak hadir di ruang hampa. Ketidakadilan yang panjang yang diderita rakyat Aceh pada akhirnya menghadirkan keinginan untuk merdeka. Kini, ribuan tentara RI telah siap siaga di serambi Mekah. Pihak GAM pun tak mau mengalah. Keduanya siap bertempur, sampai titik darah penghabisan. Peperangan pun tak terelakkan. Kita hanya bisa mencatat, merekam dan menyaksikan, betapa perang sungguh mengerikan. Sesantun dan searif apapun peperangan, ia bukanlah jalan yang baik dan jalan terbaik atas solusi sebuah persoalan. Dalam kondisi terdesak pun, perang bukanlah pilihan bijak.
Perang hanya akan melahirkan serangkaian dendam, kebencian yang beranak pinak dan mendalam, menggelora, membara. Perang melahirkan api dalam sekam. Tapi, tak ada satu pun kekuatan yang dapat membendung pertumpahan darah di serambi Mekah. Pertempuran pecah, berkecamuk, dan entah berapa korban akan jatuh, dan entah kapan akan usai. Mahabharata, Bharatayudha, Kurusetra ada di masa lalu dan sekarang. Bukan tidak mungkin, ia akan hadir kembali di masa depan. Apakah perang adalah memang takdir, sebuah kemestian dari penguasa seluruh alam?

Penulis, esais, editor Jurnal ?Interaksi? Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *