Ludwig Tieck (1773-1853)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=476

WAKTU
Ludwig Tieck

Dia ngembara dalam lingkaran abadi dan sama,
Sang waktu, menurut caranya yang lama,
Atas perjalanannya, tuli dan buta;
Anak manusia yang tak malu-malu
Mengharap dari saat yang datang senantiasa
Bahagia yang tak terduga dan aneh-baru,
Matahari pergi dan kembali lagi,
Bulan datang dan malam pun turun,
Jam-jam bermuara di minggu-minggu,
Minggu-minggu membawa musim-musim.
Dari luar tak ada yang membarui diri,
Dalam dirimu kaupikul waktu yang berganti-ganti,
Hanya dalam dirimu peristiwa dan bahagia.

[Dari buku Malam Biru Di Berlin, terjemahan Berthold Damsh?user dan Ramadhan K.H. 1989]. Kini izinkan kumulai menafsirkan baris-perbaris puisi di atas:

Yang selalu menempa hari-hari seakan pengembaraan abadi menguliti kelopakan takdir nyawa. Mengelupas lapisan cahaya, lembar demi lembar tiada akhir selalu terpesona. Rasa sakit pun kecewa tak dirasa, di sana mengenyam nikmat tidak terkira. Mengumpar dalam putaran sama, tetapi mengecil atau membesar. Terus melingkari berat pun ringan, membuka ruang belum dirasa pula terlewat, menebali keyakinan dibawanya.

Watak-waktu purba ditelusuri seperti lorong gelap tanpa cahaya, segalanya tertutupi bayang rahasia. Goa tersebut betapa licin dengan bebatuan cadas, jikalau tak hati-hati, luka-luka berdarah. Namun dilakoninya sambil merasakan pantulan air berjatuhan ke tubuh, menjadi jarak penilaian langkah masih jauh sedari dambaan.

Perjalanan panjang menulikan ingatan membutakan angan, nafasnya berderap kencang laksana turangga dengan taupan ditiup bara kemenjadian. Seakan tiada letak pemberhentian, seluruh beban dimatangkan tekad satukan kemungkinan tercapai kepastian, memaklumati yang semestinya terpegang.

Melepas malu berkeringat kesungguhan menderas mempelajari ruang-waktu menyungkup bagai dalam kepompong. Kala percepat gerakan, hawa kepemudaan berkumandang membeletat apa yang menyesakkan nafas kesegaran. Umpama bangun dari kesadaran paling purba memecah tanda-tanda jaman.

Dengan harapan balutan misteri menipis hingga yang dinanti merekah sedari selaput kabut kerinduan. Senyum datang sumringah dipandang, dikecup kesejukan embun meresapi pori-pori kelahiran. Sampai dendang sayang tak henti memakmurkan yang mengedari tatapan. Kesaksian betapa purna selaguan syahdu meronakan hijab rahmat kasih sayang.

Kebahagiaan ganjil sebab penantian lama terasa tubuh kaku bukan ketakutan, terkesima tengah diidam hadir tiba-tiba. Wewarna bunyian akrab selepas buta angan sesudah ketulian masa silam. Semua terangkat musik bayu menggerakkan perasaan musikus muda di alam langgeng menguras tangis getarkan awal pertemuan.

Sang surya meluncur ke ufuk sandikala menggapai malam bertabur gemintang. Seperti rambut hitam elok tergerai merenda-renda bertembangan air melengkung secincin pelangi melingkari purnama. Terus pesonakan mata tiada nafas kedipan. Ketakjuban ayu putaran waktu purnakan hari-hari permai memakbulkan jasad ruh. Melesat udara bebas lewati ubun-ubun diberkahi pancaran hidup.

Tatkala bulan menghampiri, malam di dadanya gemerlapan, turun menterjemah kidungan wengi membahana ke relung dalam. Diartikan malam-siang penuh kekhusyukan melebihi perhatian. Teliti membaca tiap larik melanggengkan nilai-nilai sedang dilayarkan, berfirasat memastikan duga dari ribuan tanya terjawab pelahan.

Jam-jam menyusuri sungai dengan nada-nada naik-turun mengikuti irama ditentukan nasib. Batu-batu reranting patah terjatuh mengingat pemberhentian, meski sejenak denyutan cekung. Mengangkat dedaun silam kecolkatan dihantar ke pinggiran pohon-pohon masih tegap di depan.

Minggu masuki minggu bawakan kabar pergantian musim mematangkan bathin. Perubahan taburi peputik kembang menyapa alam dengan keseluruhan indra berdenyutan semesta makna, atas perbendaharaan merambahi sekujur persendian jiwa. Sedang hati selaksa tanah, jantung ialah udara memompa.

Barangsiapa melihat jasadnya tampak biasa ataukan keliru jika pendekatan didasari mata. Apalagi waktu bertambah usia, keriputlah penalaran dan kian kabur mencipta pusaran ling-lung. Kecuali berlantas kalbu bertafakkur menyapu kehilafan atas kecerobohan, bertekuk lutut di sudut mengumpul satukan pecahan takdir mendera.

Dalam dirinya teramat berat memikul tanggungan umur, jika tak mampu menyelai persoalan bernafasan harum. Diteruskan fajar datang berulang-ulang berpandangan selalu takjub semburat lukisan kehidupan. Dipelajarinya suntuk kedalaman berabadi, kelak suara jauh menantang dari lingkup kekinian.

Di kedalaman dirinya duka bahagia mengalir indah selaksa sajak digurat tepat waktunya, menggugah keseluruhan umat dimasa-masa dirindu kemunculannya. Ini takkan terganti meski sakitnya sepadan, sebab ia dinaungi cahaya paling timur pembuka jagad raya.
***

Johann Ludwig Tieck (31 Mei 1773 – 28 April 1853) penyair, novelis, kritikus sastra, editor, penerjemah Jerman. Juga bernama samaran Peter Lebrecht (Leberecht) dan Gottlieb Farber. Belajar sejarah, filologi, sastra kuno dan modern di Halle (1792), G?ttingen (1792-1794) serta Erlangen (1793). Cerita pendek pertamanya & novel: Peter Lebrecht, eine Geschichte ohne Abenteuerlichkeiten (1795, 2 jilid), William Lovell (1795-1796, 3 jilid) dan Abdallah (1796), membuat transisi ke romanse, dilakukan pengolahan drama satir, cerita legenda kuno dan cerita rakyat diterbitkan berjudul Volksm?rchen von Peter Lebrecht (Fairy Tales, Peter Lebrecht) (1797, 3 jilid). Karya ini mengandung parodi teatrikal Perrault Puss in Boots, yang menyatakan satir dunia Pencerahan Berlin. Tieck menunjuk arah novel romantis Novalis dan Joseph von Eichendorff. Ini manifestasi awal antusiasme romantis seni Jerman klasik. Tieck menikah 1798 di Hamburg, putri pendeta Julius Gustav Alberti tinggal di Jena 1799-1800, bersahabat Agustus Wilhelm Schlegel, Friedrich Schlegel, Novalis, Clemens von Brentano, Johann Gottlieb Fichte dan Friedrich Wilhelm Joseph Schelling. Kelompok ini melahirkan Romantisisme awal. Tieck memberi contoh teori sastra yang dikembangkan Schlegel pun sebaliknya. Menerbitkan terjemahan Don Quixote oleh Cervantes (1799-1801). Bertemu Goethe dan Schiller. 1801 pindah ke Dresden bersama Friedrich Schlegel. Himpunan novel (1852-1854, 12 jilid) menunjukkan bakat narasinya besar. Di antara cerita penting: Die Gem?lde, Reisenden Der Die Alte vom Berge, Die Gesellschaft auf dem Lande, Die Verlobung, Musikalische Leiden Des Lebens und Freuden ?berflu? dll. Cerita sejarah penting, griechische Der Kaiser, Der Tod des Dichters, terutama Aufruhr yang belum selesai di ruang Cevennen. Kisah ini tak hanya pesona juga karakter penuh warna pula makna puitis mendalam khas gagasan. Terakhir, Accorombona Victoria (1840), terinspirasi kehidupan bangsawan Italia Vittoria Accoramboni, lahir di bawah pengaruh Romantisisme Prancis, meski kaya palet digunakan tak banyak diterima pembaca. 1826 menyempurnakan terjemahan Shakespeare oleh Augustus Wilhelm von Schlegel serta diterbitkan tulisan dari Heinrich von Kleist, diikuti karya-karya lengkap (Gesammelte Werke). Die Insel Felsenburg Johann Gottfried Schnabel, kumpulan tulisan Lenz, Shakespeares Vorschule (enam drama Shakespeare ke waktu sebelumnya), dll. Pada 1841 Raja Frederick William IV dari Prusia, penyair diundang ke Berlin namun sangat kesepian atas kematian hampir semua keluarga dekatnya, usia tua banyak dihormati tapi rasa khawatirnya kompleks hingga mengundur diri sampai kematiannya. {dipetik dari http://it.wikipedia.org/wiki/Ludwig_Tieck}

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *