Memetakan Kata atau Kalimat pada puisi/sajak,

serta esensinya terhadap pemaknaan karya secara utuh
Imron Tohari

KULMINASI SEMU

Bukan kamu, atau siapa
Bukan juga aku, siapa

Menyentuh pelepah raga
Masuki ruang maha

Dimana kamu?
Dimana aku?

Hilang tenggelam
Dalam jejak bayangan diri

@ Lina Kelana, Babat, Maret 2010

Secara kandungan makna, puisi di atas sudah bagus. Diawali dari rasa gamang, di sini pengkarya cipta melalui bahasa isyarat ingin menyampaikan tentang pencarian jati diri/identitas diri/sejatining insun, yang betapa semakin tipisnya kesadaran akan nilai-nilai keimanan, terutama yang berkaitan dengan unsur transendental (kerohanian, utamanya dengan Tuhan), tersirat pada Menyentuh pelepah raga, Masuki ruang maha, karena adanya dorongan rasa yang teramat sangat (bisa takut, cemas, gundahgulana) akan kemenonjolan sifat-sifat ego serta hembusan goda dari bisikan-bisikan indah dunia yang tiada kekal.

“Hilang tenggelam
Dalam jejak bayangan diri”

Begitulah pesan kuat yang saya tangkap dari larik-larik isyarat bahasa sajak “Kulminasi Semu”. Yang secara ensensial makna sangat dekat dengan nilai-nilai pencarian diri dan Tuhannya.

Walau dari sisi makna, seperti yang saya katakan sudah bagus, namun pada dasarnya karya ini masih bisa lebih dieksplore lagi, sehingga penikmat baca begitu selesai membacanya, tetap berada dalam nilai renung yang tak berkesudahan. Hal ini bisa saja dengan cara memanfaatkan tekhnik tipographipuitika (memetakan kata/kalimat), bisa juga dengan cara penambahan,penghilangan/pemadatan, penggantian kosakata yang dianggap lemah, dll.

Pada proses kreatifitas penciptaan karya sastra, tidak jarang pencipta karya, setelah melalui tahap pengendapan karya, merasa buah karya tersebut kurang maksimal dan atau dirasakan mempunyai kelemahan dalam menuangkan idea tema (bisa saja pilihan diksi yang kurang tepat, permainan majas yang absurd, permainan perlambang/symbol bahasa yang rancu dalam kesatuan makna utuh baris/bait/batang tubuh karya secara keseluruhan, atau pemborosan kata/kalimat sehingga karya jadi kurang menarik, dll).

Pemadatan, serta pemetaan kata, kalimat, baris, bait, larik, dan lain hal yang terkait, atau bahasa kerennya tipographipuitika, bila dilakukan pengkarya cipta dan atau oleh editor dengan tidak tepat, justru akan menyebabkan bangunan makna secara keseluruhan yang ingin diletupkan kepermukaan melalui tekstual bahasa, menjadi kabur pesan, sehingga hal-hal pokok secara intrinsik makna dari penyatuan beberapa kata/kalimat tersebut tidaklah relevan dengan maksud pesan tema pada karya terkait.

Sekarang mari bersama-sama kita pindai larik perlarik “Kulminasi Semu” karya saudari Lina Kelana ini.

“Bukan kamu, atau siapa
Bukan juga aku, siapa”

Pada bait awal ini, pemaknaannya jelas terbaca,sebagai bait pembuka untuk pijakan luncur pada bait selanjutnya, saya rasa bait ini sudah mewakili. Dengan pesan tersirat: dalam hal ini bukan siapa-siapa, termasuk kamu juga aku “Bukan kamu, atau siapa
Bukan juga aku, siapa”

(nah pada kata “siapa” setelah tanda (,) di baris akhir bait pertama, saya menangkap adanya isyarat pokok/ mendasar yang ingin disampaikan pada bait selanjutnya dan juga rasa gamang dari aku “lirik”). Bait awal ini bisa lebih bunyi bila kita padatkan seperti ini:

“bukan kamu
bukan juga aku
ataukah sesiapa”

Pada larik gubahan ini, “siapa” saya ganti dengan “sesiapa” yang saya tambah tautkan dengan “ataukah” sebagai bentuk Tanya, sekaligus untuk memberi efeck ellipsis (menggambarkan atau menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan; disembunyikan) pada “sesiapa” tanpa menggunakan symbol bahasa ellipsis (…). Dan pada puisi atau sajak, pemakian atau penghilangan simbolik tanda baca ( “,!,:,;,”., dll) masih bisa dibenarkan untuk menyertakan atau tidak menyertakan, dengan suatu asumsi, ritme akan bisa dirasakan saat pembacaan, juga sifat karakteristik unik yang ada pada sajak atau puisi, menyebabkan simbolik tanda baca tadi bisa bermain secara fleksibel. Dan hal ini tidak bisa kita dapati pada prosa, dimana tanda baca mempunyai peran yang fital dalam penyampaian maksud.

Dari bait awal ini, khususnya baris terakhir (baik sebelum atau sesudah nanti saya gubah), yang menyisakan lubang besar Tanya berselubung misteri, kita diajak masuk ke dunia symbol bahasa filsafat yang termaktup pada larik/bait ke dua :

“Menyentuh pelepah raga
Masuki ruang maha”

Sebelum saya menyimpulkan makna apa yang terkandung pada bait ini, sebenarnya saya sempat bertanya-tanya dalam imaji piker selaku penghayat. Kenapa pengkarya cipta menyatukan kata “pelepah” dengan “raga”, sedangkan “pelepah” identik dengan alam tumbuhan, dan “raga” seperti yang sering kita dengar di kehidupan sehari-hari , identik dengan “badan; tubuh; hayat; awak; fisik; jasad”. Lalu kenapa disatukan dalam satu baris tegas, dengan diawali kata “menyentuh” yang berkonotasi “bersinggungan, gesekan yang menimbulkan efek tertentu?”.

Sepintas lalu, penyatuan tiga kalimat “menyentuh-pelepah-raga”, adalah penyatuan yang absurd, dan kalaupun berupa majas metaphora, sepertinya juga terkesan naif (lugu). Benar-benar bait yang menghisap penikmat baca, meletupkan rasa penasaran untuk menguak misteri symbol bahasa tadi. Dan layaknya seorang detektif yang dihadapkan pada jejak-jejak symbol bahasa yang ditemukan pada “teks”, muncul utak-utik nakal di imaji piker saya :

apa pelepah?
apa raga?

dan apa kaitannya dengan “aku” “kamu”, “jejak”, “bayangan”, “diri” yang ada pada bait sebelum dan sesudahnya?

Saya yakin, penyatuan itu ada maksudnya dengan keruntutan alur makna dengan bangunan kalimat lainya pada sajak ini secara utuh. (atau bisa saja penyair tidak sadar dengan penyatuan kata tersebut pada satu baris, namun itu terjadi karena adanya proses alam bawah sadar yang mengalir begitu saja. dan kekuatan alam bawah sadar itu memang saya secara pribadi yakin ada).

untuk menguak misteri, maka saya mulai dari “pelepah”, definisi; tulang daun yang terbesar (tentang daun pisang, daun pepaya, daun, dsb); tangkai daun nyiur, tangkai rotan, dsb. Yang secara naif saya filsafatkan sebagai sesuatu keadaan pada tanaman yang bila dimanfaatkan mempunyai suatu pengaruh yang maha (bisa sangat baik, bisa juga sangat buruk). Dari sini saya mulai kaitkan dengan kata “menyentuh”, yang sebenarnya punya makna ganda, “menyentuh” sebagai definisi gesekan, atau definisi dari “rasa” yang membangkitkan perasaan haru, sedih, takut, dsb, di hati.

Jadi kalau digabung “menyentuh pelepah”, saya terjemahkan seperti ini “menyentuh tulang daun yang terbesar”. Dari sinilah saya menarik kesimpulan, “raga” yang dimaksud pada baris pertama bait kedua, bukan “raga” dalam pengertian yang selama ini sering kita dengar. Tapi “raga” yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan dari “keranjang yang kasar terbuat dari rotan” (rujukan KBBI).

Kalau analisa saya membaca sifat-sifat symbol bahasa tadi benar, maka secara imajinatip akan terangkai “menyentuh tulang daun yang terbesar untuk dijadikan keranjang dari rotan”. Yang secara otomatis rasa imaji piker saya dihisap ke ranah filsafat. Namun untuk mendapat makna yang relevan, tidak hanya sampai di situ, dalam arti, setelah kita ambil kesimpulan definisi “raga” yang dimaksud adalah keranjang yang terbuat dari rotan dan biasanya dipakai sebagai tempat buah, maka kita juga harus tahu hal-hal yang berkaitan dengan anatomi tubuh rotan (minimal yang berkaitan dengan pelepah daun). Dan ternyata Pelepah daunnya membungkus batang, dan pada permukaan pelepah dipenuhi oleh duri yang rapat dan tajam (berdasarkan referensi yang saya dapat), apa lagi bila kita kaitkan dengan baris dibawahnya memasuki ruang maha, yang secara makna lesikal (makna yang berkaitan dengan kata/kosa kata) kurang lebih bermakna memasuki ruang antara yang teramat sangat. Dan ruang makna akan semakin bertambah luas dan dalam, bila mana baris ke dua pada bait ke dua tersebut lebih dioptimalkan lagi dengan tekhnik tipographipuitika menjadi :

“masuki ruang
maha”

Sehingga akan kian merangsang daya jelajah penghayat/penikmat baca dalam menghayati isyarat bahasa symbol yang dia tangkap melalui imaji pikernya. Sehingga bila disatukan dengan baris sebelumnya, akan kian memperkokokh bangunan sajak, baik ditinjau dari segi konotasi (nilai rasa yang timbul karena adanya tautan pikiran antara denotasi dan pengalaman pribadi) maupun secara detonasi bahasa (kata atau kelompok kata yang didasarkan atas hubungan lugas antara satuan bahasa dan wujud di luar bahasa, seperti orang, benda, tempat, sifat, proses, kegiatan, dll):

“menyentuh pelepah raga
masuki ruang
maha”

Sehingga secara fisik teks kita dapatkan suatu makna: bilamana kita ingin membuat keranjang rotan agar bisa kita isi dengan buah, kita juga harus siap bersinggungan dengan pelepah daun rotan yang banyak duri-duri tajam nan runcing “menyentuh pelepah raga”, dan bimana itu tetap dilakukan, itu artinya masuk dunia antara “memasuki ruang” yang dalam hal sesuatunya teramat sangat? “maha”.

Yang secara filsafat spiritual saya maknai, dalam pencarian hakikat iman, setiap insan harus siap dihadapkan pada suatu proses (ritus), yang tak jarang akan memasuki ruang sunyi, dan atau bahkan akan dihadapkan pada sesuatu hal yang teramat sangat sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Jadi, bila ditilik secara konotasi maupun denotasi, justru penyatuan kosa kata “menyentuh-pelepah-raga” dalam satu baris utuh, saya rasa sangat relevansi. Dan hal itu yang melandasi saya untuk tetap mempertahankan keutuhan baris tersebut.

sebab kalau dirubah seperti ini:

misal alternatif pertama;

“menyentuh pelepah
raga
masuki ruang maha”

atau dengan alternatife ke dua;

“menyentuh pelepah
raga masuki ruang
maha”

Justru secara konotasi maupun denotasi akan menjadi lemah bila dikaitkan dengan bagunan awal baris yang ingin disampaikan pengkarya cipta melalui isarat simbolik bahasa pada baris awal bait dua “menyentuh pelepah raga” yang ternyata merupakan pokok paling mendasar dalam menjembatani serta membangun pesan-pesan pada bait sebelum dan sesudahnya di dalam batang tubuh puisi secara utuh. Sebab pada alternative pertama “raga” berdiri sendiri jadi baris terpisah dan atau “raga masuki ruang maha”, akan sulit untuk membawa imaji penghayat kearah pengertian “raga” yang bukan bermakna “badan; tubuh; hayat; awak; fisik; jasad”, bukan berarti hilang makna, tapi maknanya akan menjadi lain bilamana “raga” yang dimaksud adalah “keranjang buah yang terbuat dari rotan”.

Pada permisalan dua alternative tadi, bila kita ilustrasikan maknanya perbaris secara fisik teks akan seperti ini:

“menyentuh pelepah”; menyentuh tulang daun yang terbesar (tentang batang/daun pisang, batang/daun pepaya, batang/daun, dsb)
“raga masuki ruang”; badan, tubuh, jasad, hayat, dll, masuk ruang (sela-sela antara dua sisi)
“maha”; sesuatu yang sangat

Dan bila kita gabung secara keseluruhan bait tersebut, akan bermakna menyentuh batang pisang, tubuh atau jasad masuk kedalam ruang atau sela-sela diantara dua sisi yang teramat sangat dan atau singkatnya apalagi kalau bukan bermakna “Kematian/proses pemakaman” sedang kalau meruntut ketertautan makna secara menyeluruh, aku, kamu dan atau sesiapa lirik, tidak digambarkan sudah mati, tapi masih hidup dan diatara dua sisi pencarian jati diri, dalam keadaan gamang seperti terlukis pada baris akhir bait pertama, dan ritus keimanan yang di ilustrasikan pada bait pertama bait dua “menyentuh pelepah raga”. Tapi dari segi makna sama-sama mempunyai nilai kemenonjolan pada unsure-unsur kerohanian (transendental).

Dimana kamu?
Dimana aku?

suatu tekstual bahasa yang sangat jelas pemaknaannya dua baris kalimat pada larik/bait ke tiga. Namun kalau diikat dengan bait sebelumnya terasa mengalir begitu saja, dalam pengertian kurang memberi nilai kejut yang bisa menambah artian yang serba “maha”, sekaligus tetap ada unsur Tanya sebagai bentuk rasa “gamang” yang telah disiratkan pada bait pertama baris akhir sebelumnya.

Atas pertimbangan tersebut, bait tiga saya sederhanakan menjadi :

“kamu
aku
dimana?”

Dengan suatu analisa, bila tersatukan utuh dalam keseluruhan batang tubuh puisi (bait 1,2,3,4), dimana bait empat juga saya gubah dengan dasar alasan yang sama, dengan tujuan menciptakan ruang kedalaman renung untuk pengkarya cipta dan penghayat, secara lengkap hasil editing tersebut akan seperti ini:

KULMINASI > judul akan lebih memberi ruang luas lagi di imaji penikmat baca.

bukan kamu
bukan juga aku
ataukah sesiapa…
menyentuh pelepah raga
masuki ruang
maha

kamu
aku
dimana?

hilang; tenggelam
dalam jejak
bayangan
diri?

Untuk lebih memahami apa yang saya maksud, mari bait-bait di atas kita parafrasakan biar tujuan dari maksud tiphographipuitika tersebut tertampakan.

bukan kamu
bukan juga aku
(lalu siapa?) ataukah sesiapa…
(yang akan berpayah-payah) menyentuh pelepah raga
(dan kemudian) (me)masuki ruang (?)
maha (; sesuatu yang sangat)

(maha) kamu
(maha) aku
dimana (itu semua sekarang)?

(yang tiba-tiba) hilang; tenggelam
(tertelan) dalam jejak (?)
(dalam) bayangan (?)
diri (?)

Lalu untuk menganalisa, apakah karya yang sudah dipadatkan dan dipetakan kosakatanya tersebut sangat jauh menyimpang maknanya dengan yang aslinya?
Untuk itu mari coba kita parafrasakan dengan cara yang sama.

KULMINASI SEMU

Bukan kamu, atau siapa
Bukan juga aku,(lalu) siapa

(yang akan berpayah-payah) Menyentuh pelepah raga
(dan kemudian) (me)Masuki ruang maha

Dimana kamu (itu semua sekarang)??
Dimana aku (itu semua sekarang)??

(yang tiba-tiba) Hilang tenggelam
(tertelan) Dalam jejak bayangan diri

Akhir dari penulisan esai ringan sajak kaya makna spiritual dan kaya akan filsafat kehidupan pada setiap baris sajak saudari Lina Kelana ini, dengan segala rendah hati saya berharap ada yang bisa dipetik manfaatnya. Walau hanya setitik. Amin 3x…

Salam lifespirit! 21 Maret 20010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *