Yang Mekar di Tengah Kungkungan Adat

Angela Dewi
http://www.ruangbaca.com/

Novelis India Selatan merajai dunia. Budaya berkisah dan kekangan hidup menyuburkan keahlian menulis.
Pada hari-hari tertentu dalam hidupnya, Anju kecil benci semua orang. Benci Bibi Nalini karena terus-menerus mengatakan pada Sudha dan dia tentang bagaimana seharusnya tingkah laku gadis baik-baik, yang pasti selalu bertentangan sama sekali dengan apa yang sedang mereka lakukan. Bibinya ?yang bertubuh gemuk dan tidak berpinggang serta rambut diikat jadi sanggul berminyak? itu selalu mengulangulang cerita tentang masa kanak- kanaknya. Continue reading “Yang Mekar di Tengah Kungkungan Adat”

Mo Yan dan ‘Posmodernisme Kampung’

Hikmat Darmawan
ruangbaca.com

Karya-karyanya bermula dari rasa lapar. Canggih, sekaligus kampungan.
Kau harus mencicipi kepahitan hidup. Baru setelah itulah kau bisa menulis.
(Mo Yan, wawancara)

Kenzaburo Oe, pemenang Nobel Sastra 1994, haqul yakin bahwa Mo Yan adalah pengarang Cina yang pantas memenangi Nobel Sastra. Apakah Mo Yan lebih pantas daripada Gao Xinjian, pemenang Nobel Sastra 2000? The Economist (2001) setidaknya meragukan apakah Gao cukup mewakili perkembangan mutakhir sastra Cina. Continue reading “Mo Yan dan ‘Posmodernisme Kampung’”

Merayakan Semiotik dan Menafsirkan Budaya

Bandung Mawardi
http://www.suarapembaruan.com/
Judul: Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya
Penulis: Benny Hoedoro Hoed
Penerbit: Komunitas Bambu dan FIB UI
Terbit: 2008
Tebal: xv+172 halaman

Benny Hoedoro Hoed adalah sosok penting dalam dunia intelektual Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan suatu penerbitan buku Meretas Ranah: Bahasa, Semiotika, dan Budaya (2001) menghimpun 25 tulisan dari sekian penulis dengan pelbagai disiplin ilmu sebagai persembahan kepada Benny Hoedoro Hoed ketika pensiun dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Continue reading “Merayakan Semiotik dan Menafsirkan Budaya”

PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Lawen Newal yang kiprah kepenyairannya juga dikenal dengan nama Junewal Muchtar adalah salah seorang penyair penting Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Meski begitu, kiprah kepenyairannya telah memantapkan dirinya, bahwa sosok Lawen Newal adalah penyair yang di kawasan Riau, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, mempunyai tempat tersendiri yang kokoh?kuat. Dua karya sebelumnya, Batu Api (1999) dan Perjalanan Darah ke Kota (2003) memperlihatkan kegelisahannya dalam tarik-menarik masa lalu puak Melayu yang ditaburi puisi-puisi tradisional yang tiada henti terus mengalirkan tradisi, di satu sisi, dan perubahan sosial dalam arus perkembangan zaman pada sisi yang lain. Continue reading “PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL”

Bahasa ยป