MEMANDANG OMBAK DALAM GELAS

Maman S. Mahayana *

Minggu waktu duha. SMS seperti hujan. Aku baru saja menikmati gelombang ombak dalam gelas: sebuah tanggapan dari orang tak dikenal atas tulisanku di Media Indonesia Minggu. Ia cukup lihai cari popularitas dengan memanfaatkan ide pihak lain. Tak ada informasi baru di sana. Kulihat burung pipit lahap mengisap bunga benalu. Sebuah SMS masuk lagi: “Itu pseudo!” Mungkin, pikirku sambil mengingat sejumlah artikel Lekra awal tahun 1965-an. Continue reading “MEMANDANG OMBAK DALAM GELAS”

Sebuah Kota, Sajak, dan Pembangunan*

Y. Wibowo
http://kebunlada.blogspot.com/

ISBEDY stiawan Z.S. menuliskan artikel fantastis sekaligus miris dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-322 Kota Bandar Lampung, 17 Juni 2004, berjudul “Kota tanpa Ruang Kontemplatif” (Lampung Post, 19 Juni 2004). Menurut penulis, dalam merefleksikan “kenangan yang berjalan”, Bang Isbedy melihat Kota Bandar Lampung adalah sebuah sajak yang terdedah karena alam dan didedahkan sistem dan kebijakan. Namun, dari sisi wajah arsitektur yang dinamik dan problematik belum terungkap. Continue reading “Sebuah Kota, Sajak, dan Pembangunan*”

Sastra Kita dalam Pergaulan Metropolis

Donny Anggoro *
nasional.kompas.com

Dalam lingkup pergaulan metropolis yang riuh tiba-tiba ada “kesepakatan” bahwa tema sebagian besar karya sastra baru jadi memusat dalam setting yang nyaris sama, yaitu kota sehingga ia tak penting lagi berasal dari suatu negara. Imam Muhtarom dalam esainya Kasus Sastra Amerika Latin (Kompas, 9 April 2006) menulis Amerika Latin, negeri yang menjadi komoditas budaya lewat karya-karya Gabriel Garcia Marquez, Mario Vargas Llosa, Carlos Fuentes, dan lain-lain (termasuk ke Indonesia) tak lagi booming realisme magis. Imam lalu mengemukakan pernyataan: jika arus global tak terbendung dengan menjadi serba metropolis, bisakah muncul estetika baru atau hanya sampah? Continue reading “Sastra Kita dalam Pergaulan Metropolis”

Sebuah Mimpi

Agus Sunarto
http://www.suarakarya-online.com/

Semalam saya bermimpi begitu indah, Kang,” kata Rofiq kepada tetangganya. “Saya memasuki kehidupan yang begitu dinamis, tapi tenang dan menggetarkan. Segalanya penuh dengan cinta.”
“Seperti dalam sinetron atau film itu?”

“Bukan tentang manusia baik dan manusia jahat seperti itu. Manusia dalam impian saya, ada dalam ketegangan baik dan buruk. Semua tindakan didukung oleh sebab sosiologis dan psikologis.” Continue reading “Sebuah Mimpi”

Nasib Perempuan yang Terpinggirkan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Sejak terbitnya novel tebal Merajut Harkat karya Putu Oka Sukanta ( 1999) maka sedikit-demi sedikit muncul buku-buku lain baik novel atau laporan dari orag-orang yang merasa terpinggirkan (subaltern), yang sering disebut sisa-sisa G30 S seperti buku Aku Eks Tapol tulisan Hersi Setiawan. Mereka menanggung stigma eks PKI atau eks Tapol dan dianggap berbahaya sebab dikira bisa meracuni generasi muda dengan pikiran-pikirannya. Continue reading “Nasib Perempuan yang Terpinggirkan”

Bahasa »