Pendidikan sastra

Prof. Djohar
http://www.harianjogja.com/

Pendidikan sastra dalam konteks ini tidak akan mempersoalkan bagaimana pendidikan sastra di sekolah. Fokus persoalannya adalah sastra sebagai produk kreativitas dan imajinasi yang dapat membangkitkan semangat pembacanya terhadap sesuatu interes kehidupan.

Sehingga masalahnya difokuskan kepada hal-hal berikut: Bagaimana karya sastra dapat digunakan untuk membangkitkan patriotisme dan nasionalisme atau kebangsaan? Bagimana karya sastra dapat digunakan membangkitkan empati? Bagaimana karya sastra dapat digunakan untuk membangkitkan kebersamaan? Bagimana karya sastra dapat digunakan membangkitkan rasa percaya diri, dan rasa harga diri? Bagaimana karya sastra dapat menimbulkan kerusakan dan kebaikan masyarakat?.

Saya rasa, hal ini dapat diangkat ke permukaan karena karya fi ksi dominan disenangi generasi kita, dibandingkan dengan karya berupa fakta. Fakta dapat juga disajikan dalam bentuk karya fi ksi ilustratif yang kreatif dan imajinatif. misalnya masalah fenomena keindahan. Fiksi dapat disajikan melalui berbagai bentuk ungkapan, termasuk melalui karya sastra.

Untuk itu dalam mewujudkan karya sastra diperlukan kreativitas, pemikiran imaginatif, dan pemikiran ke depan sehingga mampu membawa fikiran pembaca ke masa depan, yang berarti memerlukan fl eksibilitas berpikir para pencipta sastra. Pendidikan sastra justru sangat dibutuhkan dalam arti mengembangkan potensi membangun bangsa. Sehingga karya-karya sastra diarahkan tidak hanya menyampaikan pesan-pesan kosong, tidak punya arti, akan tetapi justru untuk mengisi pesan-pesan kebangsaan yang baru memudar.

Rasa kebangsaan semakin lama dirasa semakin pudar, akibat pengaruh globalisasi. Indikator kebangsaan semakin pudar ini ditunjukkan oleh rasa patriotisme yang menghilang. Patriotisme justru mengarah kepada perbuatan menyimpang. Kita merasa bangga apabila berhasil berbuat menyimpang, berhasil melanggar aturan.

Kita merasa bangga bila berhasil malanggar peraturan lalu lintas. Bahkan bisa dilihat kebanggaan seorang remaja di rumah sakit yang tubuhnya penuh gibs karena kecelakaan lalu lintas. Berhasil tidak mematuhi aturan sekolah, juga menjadi kebanggaan siswa. Apabila kita berani melawan orangtua, menjadi bagian dari kebanggaan remaja, dll.

Melalui karya sastra, baik rasa kebangsaan dan rasa patriotisme dapat dibangkitkan kembali secara wajar. Untuk itu para sastrawan diharapkan banyak menulis karyanya yang mampu membangkitkan jiwa itu pada pembacanya. Memang jiwa itu harus pertama dimiliki dulu oleh sastrawan.

Tidak seperti pentas seni saat ini yang hanya mampu menampilkan tontonan, tapi kurang memikirkan tuntunan. Dari tontonan seni, anak-anak terdidik ke arah negatif. Seorang anak TK yang kalah berkelahi pergi ke dapur ambil pisau, perbuatan itu bukan hasil pendidikannya yang diperoleh dari TK tetapi hasil pendidikan (kondisi yang diciptakan) dari hasil tontonan lewat TV. Saya belum meneliti banyaknya buku yang memuat cerita yang membangkitkan rasa kebangsaan dan patriotisme ini.

Kebanyakan buku yang diutamakan adalah buku pelajaran. Padahal buku pelajaran maknanya tidak lebih baik dari pada buku-buku yang mampu membangkitkan rasa kebangsaan dan patriotisme dan solidarisme bangsa itu, dalam upaya membangun bangsa.

Pada saat ini pendidikan di sekolah tidak menyentuh halhal yang sifatnya kepribadian. Yang disentuh hanyalah pelajaran dan pengetahuan. Dan dalam sistem pendidikan kita tidak ada lembaga yang mengurus soal kebangsaan dan patriotisme. Bahkan keduanya mengalami pemudaran pun tidak ada yang peduli.

Oleh karena itu, menurut saya, karya sastra harus jadikan media sebagai karya yang memiliki semangat membangun bangsa untuk disajikan dalam membangun rasa kebangsaan dan patriotisme. Empati juga termasuk kebutuhan manusia yang tidak pernah ditumbuhkan melalui pendidikan di sekolah.

Padahal empati merupakan perasaan yang sangat berguna bagi hidup bersama, membagi rasa kebahagiaan dan kesusahan. Apabila dapat ikut serta merasakan beban penderitaan orang lain, rasa susah dan rasa gembiranya orang lain, maka orang lain akan semakin merasa enak hidup bersama kita.

Empati dapat dibangkitkan melalui sentuhan- sentuhan karya sastra. Menggunakan cerita-cerita yang menarik yang melibatkan perasaan pembaca, maka sentuhan empati itu dapat dibangkitkan. Manusia yang memiliki empati memiliki kepedulian sosial tinggi, sehingga apabila ia orang kaya ia dapat menyalurkan kekayaannya kepada orang-orang miskin.

Ia dapat merasakan bagaimana orang lain sengsara dan orang lain bahagia. Ia merasa memiliki kebutuhan membahagiakan orang lain dengan menutup kesengsaraannya. Rasa kebersamaan dapat juga ditumbuhkan melalui bacaan fiktif. Bila karya sastra dapat mengisi sumber bacaan ini, maka karya sastra juga dapat membangkitkan rasa kebersamaan.

Hidup bermasyarakat pada hakikatnya adalah kebersamaan dalam suatu komunitas. Di dalamnya diatur bersama aturan-aturan hidup bersama. Apabila di antara kita tidak ada rasa kebersamaan, maka aturan-atutan yang kita buat itu cenderung lebih senang untuk dilanggar, tidak memiliki beban moral untuk saling menjaga.

Keadaan sekarang ini rasa- rasanya telah berada pada keadaan ini. Pelanggaran terjadi di mana-mana seakan menjadi manusia rimba tanpa aturan. Berbuat semau sendiri. Terhadap aturan, tidak patuh walaupun mencelakakan orang lain. Lebih patuh kepada pengawasnya dari pada kepada aturannya, sehingga apabila tidak diawasi maka berbuat seenaknya sendiri.

Rasa percaya diri yang mempunyai makna penting bagi keberhasilan seseorang dalam menempuh kehidupan juga tidak menjadi objek sentuhan dalam kehidupan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu seharusnya menjadi sentuhan para sastrawan untuk menjamahnya, melalui pendidikan informal.

Ada orang berhasil dari katakata mutiara. Maka akan ada orang tumbuh rasa percaya diri dan jati dirinya dari membaca karya sastra. Bila para siswa mampu memperoleh rasa percaya diri dan jati diri dari karya sastra berarti siswa itu telah mampu memperoleh nila-nilai dari pelajaran sastra, Kerusakan masyarakat bisa juga terjadi akibat pengaruh dari karya sastra yang dapat membangkitkan pikiran orang ke arah pemikiran dan perbuatan negatif.

Hal ini mestinya tidak boleh terjadi, karena dapat menimbulkan kerusakan masyarakat. Pendidikan sastra substansinya harus diarahkan kepada kebaikan. Fenomena masyarakat dapat digunakan sebagai acuan.

Sastrawan dapat memilih substansi mana yang pantas diangkat sebagai karya sastra, dan karya mana yang tidak digunakan menjadi sentuhan sastrawan. Bisa juga sastrawan mengungkapkan karya sastranya terbatas pada sentuhan-sentuhan perasaan, misalnya keindahan, kebesaran, kehormatan, dan lain sebagainya, yang sifatnya untuk menumbuhkan dimensi afektif siswa.

Bila hal-hal semacam ini diperoleh siswa, maka mereka memperoleh nilai yang berguna bagi kemanusiaan, mereka tidak akan berbuat terhadap hal menyimpang tetapi justru memilih perbuatan bermanfaat.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply