Proses Evolusi Dewa Putu Kantor

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Seni menggambar atau drawing telah ditinggalkan banyak perupa lantaran dalam jagat bisnis lukisan karya drawing tidak bisa menghasilkan uang banyak. Kalau beruntung, pelukisnya bisa mendapat pesanan untuk menghasilkan drawing bagi sejumlah buku cerita.

Namun, hal itu tidak menghalangi Dewa Putu Kantor (46 th) kelahiran Sukawati untuk menekuni seni menggambar ini. Bahkan dia berani menggelar pameran tunggal karya-karyanya di Galeri Sembilan, Ubud, Bali, 15 Agustus?15 September. Tidak tanggung-tanggung, Dr. Ibrahim Jean Couteau, ahli kebudayaan Bali yang memperistri Nazrina perempuan Indonesia, dosen IKIP N Singaraja yang sedang belajar pada program doktor di Newcastle University Australia itu yang menulis kata pengantar. Pelukis yang selalu kelihatan gembira itu telah cukup lama berkarya dan karyanya sudah menjadi koleksi pribadi maupun lembaga kesenian di seluruh penjuru dunia, seperti Musee Guimet Paris sampai para kolektor seperti Christian Lambert, Bruce Carpenter, Patric Dazin, Prancis, I Danna Pucci, New York dan Jean Lucharguier, Direktur Pusat Kebudayaan Prancis. Di Indonesia sendiri karyanya dikoleksi lebih dari sepuluh pribadi dan lembaga seni.

Serbuan ?seni kontemporer? dan ?seni modern? terhadap kehidupan seni di desa-desa di Bali bukan tak berpengaruh terhadap jagad lukis di Bali. Banyak pelukis yang banting stir dari melukis gaya tradisional ke gaya ?kontemporer?, lantaran gaya tradisional menyita banyak waktu dengan mengisi detail ruang gambar uyang dikerjakan bak membatik, sementara dengan sebuah lukisan ?ekspresionistis?, selembar kanvas dapat dipenuhi lukisan dalam waktu yang relatif jauh lebih singkat.

Memang, banyak di antara pelukis tradisional yang tak beranjak dari gaya tradisional yang diulang-ulang, yang menghasilkan produk pertukangan yang nilainya tak seberapa. Gusti Nyoman Lempat, Cokot, atau Ida Bagus Made tidak dilahirkan setiap tahun. Maestro-maestro seni rupa Bali itu masih dapat dilihat sisa-sisa taksu-nya dalam karya-karya tiruan yang banyak beredar di pasar seni di Bali. Tidak pula banyak seniman Bali yang dapat merespons modernitas yang menyerbu lalu menyatukannya dengan keterampilan tradisional untuk menghasilkan karya baru. Bagi Jean Couteau, Dewa Putu Kantor merupakan salah seorang dari yang sedikit seniman Bali yang mampu berinovasi dan melahirkan karya modern yang baru yang punya jejak tradisi Bali. Karya-karya Kantor tegak di simpang jalan antara mitos, realitas dan dunia surealistis, menghunjam ke dalam ingatan kolektif orang Bali sementara karya itu sekaligus mengekspresikan obsesi si seniman yang lugu.

Dewa Putu Kantor bagi Jean Couteau bak karya-karyanya sendiri: muda, segar dan terus terang. Dia tak pernah menyatakan dirinya sebagai bintang seni, namun toh dia telah mendapat pengakuan nasional bahkan internasional. Pamerannya di Ganesha Gallery, Four Seasons tahun 1996 telah menarik perhatian pers nasional yang menyebabkan dia diundang berpameran di Duta Fine Arts Galery, Jakarta, tahun 1999. Sejak saat itulah dia dianggap sebagai pemuka lukisan pasca tradisi Bali.

Karya-karya Dewa Putu Kantor memang berangkat dari tradisi menggambar dalam seni tradisi Bali. Ketelitian detail sangat dominan, dan Kantor mempertahankan hal ini walau dia menggambar objek-objek keseharian masa kini yang jauh dari realitas masa lalu. Dengan cermat dan kocak dia menggambarkan sebuah bus yang penuh muatan dan kegiatan empat orang: sopir, kernet dan dua penumpang, toh kesan sibuk dan penuh sesak segera dapat kita terima sebagaimana kita melihatnya dalam realitas kehidupan sehari-hari masa kini di Bali: kendaraan umum yang penuh sesak bukan saja dengan penumpang tetapi juga dengan berbagai barang muatan. Proporsi tidak lagi menjadi persoalan?kalau dipikir ukuran bus terlalu kecil dan tak seimbang dengan ukuran empat manusia yang hadir di situ. Toh, lukisan yang melanggar hukum proporsi modern itu tidak menimbulkan gejolak di dalam rasa seni kita. Kita masih dapat menerima lukisan itu sebagai karya yang indah.

Kantor tidak sekadar berkutat dengan penggambaran objek-objek keseharian maupun lukisan tentang sosok Hanoman. Dengan beraninya dia menggambar sebuah pohon penis raksasa yang dililit tanaman merambat, sementara tujuh wanita yang seluruhnya bertelanjang dada dan seorang malahan bertelanjang hampir bulat bergelayut atau berjalan pada batang pohon raksasa itu. Jelas apa yang digambarkannya bukan adegan sehari-hari, namun, lebih merupakan sebuah simbol kehidupan yang berpusat pada kekuasaan laki-laki, dan para wanita hanyalah sosok yang memuja alat kelamin lelaki itu. Bukan sebuah sindiran terhadap wanita yang memuja seks, namun justru mungkin sebuah kritik terhadap kehidupan di Bali yang sangat dikuasai lelaki, sehingga seolah-olah para wanita menyembah kekuatan laki-laki.

Tentu saja Kantor juga melukiskn kehidupan sehari-hari yang lain, seperti saat seseorang membaca lontar, seorang ibu yang membersihkan telinga anaknya, sampai acara panjat pohon pinang yang selalu hadir setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Reoreintasi yang dilakukan Dewa Putu Kantor terhadap objeknya menghasilkan karya-karya yang segar, bahkan sering tampak lugu. Lukisannya menghadirkan keseharian di Bali: anak-anak bermain layang-layang, wanita melahirkan, upacara mebanten (memberikan sesaji), memasak babi guling, sampai anak-anak telanjang.

Dalam berkarya, Kantor semata-mata mengikuti logika garis dan membiarkan ilhamnya mengambil alih gerak tangannya secara alamiah.****

Penulis adalah pengamat seni, tinggal di Singaraja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *