Puisi Imron Tohari, Denny Mizhar, Muhajir Arifin

JERAMI
Imron Tohari

Aku cemburu
Bagaimana bisa kau seperti itu
Tabah dalam sakitmu
Harum dalam lukamu

Sebelum garing tubuhmu ditetak
kau tompang bulir-bulir padi merunduk
dan bersama angin, meliuk
mengiringi senyum-senyum yang
asyik bercengkrama di pematang

Engkaulah sebenar-benarnya pecinta
dengan lembut berkata-kata
“Jangan bakar aku
jangan bakar aku
tak ingin asapku koyak moyak jumantara *
dan lalu meniadakan tawa penggembala
di kala masa”

Jikalau lalu akhirnya awan memecah derai
pergantian hari membusukkan raga
jerami. Adalah darma pecinta
membuat benih jamur tumbuh dari tubuh yang luka

Wahai Sang Pembuat Cinta
yang meniupkan nafas-nafas kehidupan
Dari rahim-rahim tanah yang liat

: Tidaklah hamba seketika akan jadi jerami
kecuali pada angin hamba menitip
abjad-abjad yang tersusun dari air mata
serupa mantra

“Tuhan. Dengan panasnya tungku asmara
hati ini
bila mulai mengeras tempa menjadi lembut
bila mulai beku bakar menjadi hangat
dan jadikan putih— bila mulai karat”

Duhai, wahai, Sang Pembuat Cinta
yang duduk agung di singgasana nurani

Tidaklah hamba ingkar adanya luka
Jikalau tiba saat marah kecewa
tak sepatutnya menorehkan pedih juga
kepahitan yang kini mendera-dera
telah kujadikan tembang kasih
tembang kasih

Tembang…
Kasih…

15 Juni 2010

*) jumantara kl n awang-awang; langit; udara.

PUISIKU MAU KEMANA
Denny Mizhar

:Ia yang melahirkan aku

Entah kemana ia berlari.
Sedang aku masih di sini

Pernah aku menghampiri
Dengan suci bahasa illahi
Menderetkan kata hati
untuk menundukkan diri

Tetap saja ia tak mau terkunci

Sekali bersua kembali
Ia menangisi melati
Tangkainya patah lagi
Tak ada harum mewangi

Sebab itu ia tak mau mendekam dalam diri

Sempat juga ia sembunyi
Dalam perut tak berisi
Beryanyi-nyanyi tantang negeri
Dan memaki-maki
Mengharap keadilan kembali

Karena itu ia tak mau bungkam sendiri

Kadang juga menelusup di alam sepi
Menjerat suasana sunyi
Mengasingkan diri dengan bersemedi
Dalam pekat malam hari

Dengan itu ia tak mau dicari

Kemana puisiku pergi
Ku harap ia kembali
Mematuki tubuh ini

Malang, Juni 2010

LAMONGAN-KEDIRI
Muhajir Arifin

ada yang pelan-pelan membunuhku ketika jauh darimu
ha!
betapa ingin kuingkari ruang dan waktu

lamongan-kediri
o
nyeri sekali, dihujan duri

lamongan-kediri
ah
akan kutembus dadamu yang putih sebentar lagi

(2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *