Puisi-Puisi Denny Mizhar

Jombang-Malang

desak
saling berdesakan
menaiki bus menuju kepulangan

jalan berkelok serta berbukit
tubuh saling senggol dan pegangan

bersitatap aku dan kamu
dalam tanya merahasia tentang diri

tempat duduk paling belakang kosong
penumpang turun sampai tujuan

kita pun duduk saling mendekat
wajahmu melemah pucat
karena angin kencang
masuk lewati pintu bis belakang
juga kaca jendela yang terbuka
menganga

aku mengijinkan pundakku untukmu
meletakkan resah tentang waktu
lama merambat tak sampai-sampai tuju

malu kau punya wajah
memandang wajahku
aku sembunyikan letih
tatap kau yang ayu

bus pun sampai di terminal
kita saling melepaskan pandang
beranjak dari tempat duduk hangat

sambil melemah
kau salah arah ternyata
dari tujuanmu yang rahasia
aku pun tertawa
sambil melangkah pulang kerumah.

ah, sampai rumah kisah tak jadi indah
sebab belum ku tanya siapa namamu
diam-diam memasuki ingatan
perjalananku
antara jombang-malang
dalam bus yang bergoyang-goyang

Malang, 31 Mei 2010

Musim Panen

burung-burung kuntol berterbangan
dan rebah di galengan sawah.
memandang petani berwajah sumringah
sehabis panennya tiba.

bila musim telah berganti
berawal dari penantian panjang
akan harapan.

menetas
dari butiran-butiran kasih
menjadi pundi-pundi cinta
bersetubuh dengan kepulan
asap dapur rumah

jalan pun terus terbuka
bagi anak-anak
melewati zaman gulita
menempuh hari depan cerah.

saling bincang di meja warung kopi
ketika petang telah tiba.

kerinduan memuncak
melantun pada ucap syukur.

desah masih mengisah
tak ada resah yang menyelinap
dalam langkah

:musim panen tiba.

Lamongan, Mei 2010

Surat Rindu Untuk Kekasihku

pada siang menerawang
wajahmu membiru layu

kusaksikan gerimis berguguran
membasahi dukaku yang kaku

kenang dirimu
dengan gemuruh sesalku

aku meninggalkanmu
tanpa kecup terakhir
di keningmu.

luka kepergian tanpa ikatan
kini menyeringaiku akan kegilaan
sebab tiada tempat
aku berkisah
tentang darah,
luka,
air mata
anak-anak gembala.

lihatlah langit Gaza:
debu-debu mesiu
mengotori keputihan
dan kebiruannya.

gelap menyapa:
tangis gadis-gadis kecil ,
ratapan seorang ibu,
bapak dan anak perjakanya
sibuk mengumpulkan batu-batu
membalas luka
tiada ujungnya

kekasihku,
singkaplah tabir rahasia
yang menutupi dirimu
biar rindu ini
sampai padamu

rasakanlah nyeri tubuhku
meletupkan rindu
ingin berkisah
tentang kesunyian
bercinta dengan darah

seperti dulu
di bawah pohon trembesi
kau rebah aku bercerita

duka pun memeluk tubuh
dan kita semakin mesrah
dengan duka luka air mata
tak lelah-lelah
menjadi kisah
kita.

Malang, 2 Juni 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *