Siapa Sebenarnya Kritikus Sastra Kita

Anton Suparyanto
http://www.kr.co.id/

MEMBACA opini pemilahan yang begitu ambisius antara kinerja kritikus dan pengamat seni (Arina, Minggu Pagi Minggu III September 2003), amat menarik. Bukankah wacana pikiran chaos akhir-akhir ini sudah acuh tentang batas kerja keilmuan?

Sebenarnya lingkup pengamat merupakan elemen sederhana dalam cakupan kritikus yang memiliki tataran ?membaca-memahami-mengurai-menilai?. Kaun akademisi bilang ?analisis-interpretasi-evaluasi?, dari asas ?formalistik-heuristik-hermeneutik?. Salah satu titiknya ?semiotik?.

Pilahan a la Arina tersebut, setidaknya, memunculkan satu tudingan contoh. Quo vadis kritik(-us) sastra akhir-akhir ini adalah gambaran nyata (Dadan Suwarna, Republika Ahad, 10/8/03). Tetapi ketika Dadan mencemooh terhadap kinerja trilogi kritikus-sastrawan-karya, haruslah disikapi. Pasalnya, terjadi sindrom ?kegagapan? bermain logika secara general ketika menilai kiprah kritik(-us) seni sastra dewasa ini. Mungkinkah mengabaikan historisitas praktik kritik di tanah air yang masih muda?

Entah, yang prinsip ada enam gelitikan yang laik ditelusuri pembenarannya: (1) adakah ?kritik sastra Indonesia? apabila yang muncul selama ini cuma ?kritik sastra di Indonesia??, (2) benarkah kolusi atau kritik-pesanan memperkeruh wajah kesastraan kita?, (3) benarkah subjektivitas-kritikus mencerminkan realitas hasrat subjektivikasi sehingga mengakibatkan kedangkalan makna sastra?. (4) benarkah bila kritikus tidak menerapkan perangkat teori sastra, kritikannya memasung kemerdekaan makna bagi sidang pembaca? (5) benarkah kritikan harus menuntut tata ilmiah dan nilai objektif?, (6) benarkah kesastraan kita menumbuhkan iklim kritik yang mampu mendongkrak pelahiran tradisi kreatif mencipta dan mengritik? Dus, sebenarnya siapakah kritikus sastra kita?

Luka lama ! Setidaknya dengan deret tanya itulah, kita selaku penikmat sastra menjadi arif menanggapi pertumbuhan kiprah eksistensi kritik(-us) sastra di Indonesia. Ada kalanya sungguh naif jika buru-buru membabat praksis kritik(-us) kita dengan palu quo vadis, titik-jenuh, arogan, mandul, manakala banyak warga perguruan tinggi justru melakukan abortus-intellectual atau tindak bunuh diri kreatif. Hipokrisi sastrakah?

Efeknya, tidak lagi mengacaukan omongan tentang ?kritik atas kritik atas kritik sastra? yang cenderung memiliki fluktuasi ruang-ruang pergeseran seirama dengan nadi kesejarahan sastra Indonesia. Apalagi publikasi kehidupan kritik lebih fokus dinafasi oleh majalah, koran, dan cyber; sehingga secara dikotomis-kasar terjadi pembelahan tentang model kritik sastra mutakhir, yakni kritikan akademis (dosen-guru-sarjana-mahasiswa), kritikan kreatif sastrawan(-wati), dan kritikan jurnalis (verbalitas literer).

Nah, dalam perspektif ini kita dituntut peka nan kritis bahwa konteks kritikus itu pun harus meluas pada amplifikasi masyarakat sebenarnya. Bukan sekadar kritikan dan kritikus mentah. Lalu, benarkah kritikus menjadi congkak jika masyarakat pencinta sastra sudah sedikit merangkak kritis tatkala menilai simbiosis antara fiksi dan fakta, transformasi dan transmisi imaji seni?

Dampaknya, muncul tuntutan pembenaran jika kritikus pun menagih karya yang berbobot. Sebaliknya, si sastrawan menuntut kritikan yang kredibel demi melecut gairah penciptaan karya sastra. Bila kita pantulkan: adalah mutualismanya dalam khasanah sastra (di) Indonesia akhir-akhir ini? Siapa sich ?kritikus yang kritikus? dan paham seluk-beluk sastra kita itu?
***

SOSOK kritikus yang andal nan telaten pasti mengedepankan logika cerdas terhadap penilaian karya sastra eklektisasi. Dalam arti bahwa bangunan pemaknaan dilandasi oleh kerangka pertemuan intim subjektif yang ultima, yang menggetarkan untuk ditampilkan secara literer-verbal dalam bentuk akumulasi the frame of reference, the frame of experience, dan the frame of knowledge.

Prinsip eklektif inilah senjata apresiatif untuk menemukan pergumulan yang sublim antara karya sastra (plus buku pendukung) dengan kontrol diri pribadi yang prolifik (kejujuran mengaca diri). Galibnya, muara kerja kritikus itu tetap bertungku dalam cengkeraman subjektivitas, tetapi telah diolah dalam totalitas yang multi-faset. Ceruk ini dapat dicontohkan lewat buku esai berseri ala Teeuw pun Jassin. Dua model kritikan ini menurun pada para muridnya hingga mengimbas pada pelahiran kritik a la analitik-akademis. Contoh lebih dahsyat, bukankah Dadan Suwarna sudah paham Tergantung Pada Kata (Teeuw), Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (Arief Budiman), atau gaya Dami N. Toda, Umar Junus, pun Okke KS Zaimar? Bukankah kita paham kritikan formalis, gestalt (ganzheit) hingga holistik?

Kalau kita tanggap nan jeli mengikuti perkembangan sejumlah tokoh intelektual sastra kita, norma subjektivitas dengan dibalut pengalaman literer akan segar, tidak ?picik nan miskin? garapan grafik kesastraan tanah air. Sebab pokoknya, kontribusi akademis dan subjektivitas pemaknaan oleh kritikus justru menjadi obat mujarab saling tindih, mengayakan bobot karya. Dampaknya banyak pecinta sastra Indonesia sangat terbantu pemahamannya mengenai kreativitas cita-rasa literariness.

Dalam hal inilah sinyalemen yang dilontar Dadan Suwarna tentang proses kritikus yang mengarahkan individu penikmat sastra dalam sebuah titik penyepakatan dangkal, quo vadis, cumalah histeria takut, ewuh aya wawasan untuk mengasah dialektika pikir. Fatalnya, justru menggiring cacian kinerja kritikus (esai, arikel, makalah,…) dan diklaim memasung pemahaman paling objektif karya sastra itu sendiri. Bukankah ini cermin retak mengarifi kerja kritikus?

Memang, ketika sastra harus dipaksa bahwa setiap kata bermakna intelektualistik, ia akanlah tinggal bangkai semata. Ketika sastra dipaksa matematis ilmiah nan objektif, ia akan mati imajinasi. Sebab pabrik pemaknaan hingga kini tetap mengandalkan hitungan bahwa 1+1 = minimal 3. Anda tidak percaya?
***

SEBENARNYA siapa sich masyarakat sastra Indonesia itu yang masih teliti-gemati menaruh minat terhadap dinamika perkembangannya? Jangan heran bila terjadi kecenderungan bahwa komunitas kecil masyarakat sastra kita itu tertarik karya justru setelah membaca hasil kritikan atau sekadar ulasan impresif (lisan pun tulis) di media, misalnya. Betapa tidak?

Indikator ini dipengaruhi oleh kondisi masyarakat kita masihlah ?rabun merebut makna sastra? (istilah Taifuq Ismail), meski sedikit terjadi pengentasan keberaksaraan; tapi toh masih gagal mencintai sastra dengan aset ?daya-beli? buku-buku kesastraan. Lebih parah lagi dalam hal perebutan maknawi karya, masihlah terlunta-lunta. Kegelisahan ini dapat dibuktikan, misalnya, adakan riset di perguruan tinggi (terutama yang punya fak. bahasa dan sastra) toh sebagian besar sivitas akademiknya masih gagap dan miskin kepekaan bersastra. Satu di antara gelitikan ini mudah dideteksi lewat media massa: ?berapa gelintirkah pencinta sastra dari kampus yang kompetens mengelola nalar kesastraannya lewat sosialisasi karya di koran, majalah, jurnal, apalagi buku??

Jadi, betapa pun dangkal dan subjektifnya hasil pemaknaan, tetaplah menjadi kandang kritik yang objektif bagi bingkai apresiasi sastra. Lantas kita menyebutnya dengan kritikan verbalitas literer. Dan siapa pun kini yang masih genial terhadap cita-rasa pertumbuhan sastra Indonesia, berhak menjadi ?kritikus?. Jika sungguh terbukti adanya arogansi kritikus ketika mengapresiasi karya pun sastrawannya, justru menggembirakan. Sebab kita bisa menguji daya kritisnya untuk dibenturkan pada masyarakat sastra umumnya. Arogansi kritikus tetap dibutuhkan untuk menyingkap misteri mutu sastra (yang membisu). Bukankah yang namanya kritikus sastra tentulah memiliki rekaman prinsip negative capability (istilah Budi Darma) untuk arena tarung dan bertarung mengonsep diri?

Implikasinya, jangan gegabah menghujat peran kritik(-us) jika kita (yang mengaku mencintai sastra) pun masih nihil buat sosialisasi kritikan terhadap karya sastra Indonesia, khususnya! Bukankah akhir-akhir ini sudah terbit aneka karya sastra, misal, novel, antologi cerpen, antologi sajak, repertoar drama, pun antologi esai sastra? Mengapa kita tetap membisu?
***

*) Anton Suparyanto, ?cuma dosen kontrak? di FKIP PBSID Universitas Widya Dharma (UNWIDHA) Klaten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *