Teknologi dan Teologi

Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

TEKNOLOGI memberikan janji surga hari ini untuk manusia. Janji itu menjelma dalam ekstase, efisiensi, pragmatisme, atau hedonisme. Teknologi secara eksplisit memberikan pilihan kepada manusia untuk menerima godaan atau risiko.

Manusia bebas menentukan diri dengan dalil dan iman. Teknologi pada hari ini berada dalam fragmen penting dan menempati posisi penting dalam konstruksi sejarah manusia. Teknologi hadir dengan iman dan sistem mirip dengan teologi (agama). Teknologi dan teologi adalah realisasi manusia dalam rasionalitas dan religiositas.

MT Zen (1981) menilai agama dan teknologi menjanjikan surga bagi manusia. Agama identik dengan surga hari nanti dan teknologi identik dengan surga hari ini. Janji surga itu berbeda representasi dan realisasi. Janji surga dari teknologi cenderung eksplisit dan kontekstual dengan kondisi zaman. Janji surga itu bisa jadi dalil dalam tegangan teknologi dan teologi.

Teknologi sebagai kemenangan rasionalitas manusia merupakan realisasi dari mimpi-mimpi manusia untuk mengonstruksi tata kehidupan dengan struktur dan sistem tertentu. Manusia dengan teknologi merealisasikan kuasa atas alam untuk proyek hidup dalam konteks kebutuhan dan keinginan.

Teknologi dioperasionalkan untuk eksplorasi dan eksploitasi alam dalam pencapaian modernitas, kapitalisme, dan globalisasi. Teknologi menjadi taruhan nasib manusia dengan risiko realisasi nilai-nilai etis dan filosofis.

Hidup dengan teknologi adalah fakta. Teknologi menjadi fakta lain dari tubuh manusia dalam pelbagai tindakan. Manusia mulai membuat perhitungan dan perbandingan antara peran tubuh dan teknologi dalam menjalankan peran aktif dan pasif.

Kesadaran teknis atas tubuh dan teknologi itu adalah tanda dari kemenangan rasionalitas manusia modern. CA van Peursen (1998) menilai, kehadiran teknologi sebagai cara manusia untuk bertindak dan untuk membuat sejarah peradaban. Teknologi dalam pengertian ilmu pengetahuan dan teknik adalah juru bicara manusia dalam menerapkan strategi kebudayaan.

Sejarah peradaban manusia menunjukkan teknologi memberikan kontribusi besar untuk manusia dalam bentuk material dan nilai. Kontribusi itu meminta tumbal dalam pengertian humanisme, ekologi, dan teologi. Kondisi hidup dengan teknologi mengantarkan manusia dalam alienasi, anarki, diskriminasi, dan agresi sebagai representasi kemunduran dan kematian humanisme nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi memberikan fakta tragis bahwa alam (ekologi) rusak dan mati sebagai risiko dari hasrat hidup manusia. Teknologi membuat manusia menilai ulang untuk perkara kuasa, nasib, kodrat, dan takdir dalam konteks antara profan dan sakral.

Legenda Faust

Manusia dalam tegangan teknologi dan teologi itu termaktub dalam legenda Faust. Legenda itu membeberkan sisi gelap dan sisi terang manusia modern dalam kepentingan kuasa, sains (ilmu pengetahuan-teknologi), dan teologi. Manusia modern hidup dalam risiko untuk penentuan dan perubahan nasib. Tokoh Faust menginginkan kuasa dan sains untuk menguasai dan menaklukkan dunia dengan menggadaikan jiwa pada iblis.

Tokoh Faust menjadi acuan dari keberanian manusia melawan kodrat dan kegagalan manusia untuk sadar diri sebagai makhluk Tuhan. Tokoh Faust dalam tafsir tokoh-tokoh Zaman Pencerahan adalah gairah hidup manusia atas pengetahuan dan rasionalitas. Bukti dari gairah itu adalah realisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Sisi gelap dari gairah itu adalah pengabaian manusia atas teologi sebagai basis hidup dan konstruksi peradaban.

Teknologi modern memberikan sekian pilihan pada manusia untuk mengonstruksi hidup. Pilihan-pilihan itu niscaya mengandung risiko. Risiko itu kerap terlupakan karena ada kondisi ekstase dengan teknologi. John Micklethwait dan Adrian Wooldridge (2007) menilai, masyarakat modern memiliki iman atas teknologi yang bisa membuat manusia lolos dari tirani: ruang, waktu, dan media. Iman hadir dalam kalimat ?Teknologi sebagai kebebasan?. Iman menemukan representasi dalam telepon, televisi, dan komputer. Teknologi dalam bentuk telepon, televisi, dan komputer terus memancarkan aura dan godaan.

Fakta manusia dan teknologi kerap ada dalam manipuasi dan ilusi. Teknologi sebagai kebebasan adalah iman yang rapuh. Jacques Ellul (1964) percaya manusia sekadar memainkan peran sebagai saksi dan korban teknologi. Kebebasan mungkin bisa berbalik jadi tirani atau belenggu untuk manusia. Tirani terjadi jika manusia tidak memiliki kekuatan kontrol dan otonomi terhadap teknologi. Kondisi itu membuat manusia merevisi iman: ?Teknologi sebagai tirani?. Fakta dan interpretasi atas hubungan manusia dan teknologi itu tidak selalu berada dalam vonis absolut.

Mengubah Tatanan

Teknologi dengan sekian janji surga selalu mengandung kelemahan dan kegagalan. Teknologi dengan kekuatan destruktif telah mengubah tatanan hidup secara materi dan nilai. Kondisi destruktif itu menjadi faktor menentukan kerusakan ekologi, dehumanisasi, anarkisme, dan demoralisasi. Kekuatan konstruktif dan destruktif teknologi terus mencatatkan bukti dalam sejarah peradaban manusia modern.

Arnold J Toynbee (1988) menjuluki teknologi sebagai sumber kemakmuran dan sumber malapetaka. Toynbee pun mengingatkan, teologi (agama) adalah kebutuhan abadi manusia. Agama harus menjadi kontrol terhadap progresivitas teknologi. Teknologi dalam sejarah peradaban tidak pernah bisa menjadi sumber pemenuhan nilai-nilai religius.

Kondisi hidup hari ini berada dalam krisis global. Teknologi menjadi faktor menentukan kondisi krisi global. Progresivitas teknologi sebagai suatu kebebasan justru kerap menjadi tirani dan tragedi. Teknologi mulai memberikan janji neraka dengan fakta-fakta tragedi ekologi dan tragedi kemanusiaan.

Teknologi nuklir dan militer menjadi momok atas kerusakan dan kematian. Teknologi menjadi mimpi buruk untuk kepunahan alam dan manusia. Fritjof Capra (1997) mengingatkan, umat manusia berada dalam krisis global: kompleks dan multidimensional.

Krisis global itu merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Krisis itu adalah risiko dan mesti dihadapi dengan kearifan dengan acuan nilai-niali sains, agama, dan kebudayaan.

Hari ini, tragedi belum selesai. Teknologi masih menghantui manusia dengan risiko-risiko mengerikan. Janji surga dan janji neraka dari teknologi menjelma dalam fakta-fakta mengesankan dan mengenaskan.

[Bandung Mawardi, pengelola Jagat Abjad Solo]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *