Biola Tua dan Sepotong Mimpi

Nurhandayani
http://www.lampungpost.com/

SUARA merdu yang mengalun dari gesekan biolamu selalu dapat membawaku kepada mimpi-mimpi terdahulu, yang pernah kugantungkan pada langit-langit dan kulupakan begitu saja. Untuk alasan yang tak pernah kumengerti, tak kulanjutkan mimpi itu. Mimpi itu pun terlupakan sampai akhirnya aku menemukanmu.

Dan kini mimpi itu mencuat kembali…

“Aku mau belajar main biola. Ajari aku,” pintaku padamu suatu petang.

Kala itu aku duduk di hadapanmu, terkesima pada permainanmu, tertegun melihatmu memainkan lagu kesenanganmu dengan biola tua itu.

“Ehm, boleh. Tapi gimana caranya? Aku kan cuma punya satu biola…” tanyamu.

“Hm, kita bisa gantian kan? Ajari aku, ya? Mau ya?”

Kau tak mampu menolak pintaku. Kau hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum khasmu.

Tak pernah aku segirang ini, mendapati kesempatan mewujudkan mimpi yang lama terendap itu…

***

Entah bagaimana kita tiba-tiba jadi sedekat ini. Dulu tidak. Kau senang membunuh waktu dengan teman-teman sebayamu. Bersenda gurau, tertawa, tak menghiraukan orang lain di sekitar kalian yang mungkin terusik.

Tanpa kausadari, waktulah yang sebenarnya telah membunuhmu… Sementara aku lebih suka kesendirian, menyepi, menulis diari…

“Ngok…ngik…ngok…”

Di tanganku biolamu berdecit sumbang seperti derit pintu yang rusak.

Astaga, bukan main stresnya aku di hari pertamaku belajar bermain biola.

Perlahan dan ragu kugesek dawai biolamu. Betapa pun aku berusaha berhati-hati agar dapat menghasilkan suara yang merdu, tetap saja biolamu tak mau bekerja sama denganku. Ia menjerit seakan tak mau kumainkan.

“Kalau biola ini bisa bicara, dia pasti sudah berontak meminta aku berhenti memainkannya…” keluhku ketika aku mulai putus asa.

“Ya, namanya juga baru belajar. Mana ada orang yang belajar langsung bisa. Jangan nyerah dong…”

“Bunyinya kok aneh begini, ya? Bunyinya aneh, kayak…”

Aku terus menggerutu. Aku tak mampu menemu diksi yang tepat untuk melukiskan keherananku pada biola yang tak mau bersuara merdu di tanganku itu.

Lantas dengan sabar engkau tunjukkan cara memegang bow–alat penggesek biola yang menyerupai busur–dengan benar. Karena hanya ada satu biola, kau dan aku bergantian memainkannya.

“Cara menggeseknya jangan ragu-ragu dan terlalu lambat. Tadi itu gesekannya kurang tekanan…

Ehm, kau tahu, Nis? Aku belajar sesuatu dari biola ini.”

“Apa?”

“Belajar biola sama halnya dengan belajar menjadi tegas.”

“Kok bisa?”

“Ya, karena memainkan biola membutuhkan ketegasan untuk membuat gesekan dan tekanan yang tepat. Dalam permainan biola, ketegasan dalam membuat tekanan yang tepat itu perlu sekalipun kau bermaksud menghasilkan nada yang lembut…”

Aku terdiam demi mencerna kata-katamu. Tak mengerti dengan apa yang kauucapkan, kulanjutkan usahaku untuk dapat menghasilkan nada-nada dasar dengan tepat.

Ketika aku berusaha menghasilkan bunyi do tinggi, biolamu meraung lagi. Kulirik dirimu tengah mencoba menyembunyikan tawa yang nyaris meledak.

Aku tahu. Itu nada tersumbang yang pernah kuhasilkan selama aku berlatih padamu.

***

Kecerdasan musikalmu selalu dapat membuatku tertegun-tegun, mencuatkan anganku ingin bisa mengalahkan permainan biolamu. Atau paling tidak bisa menyamai kemahiranmu.

Lantas, ketika aku tengah terkagum-kagum di sela permainanmu, seringnya tanpa kusadari aku mendapati diriku sendiri bergumam, “Kapan ya aku bisa sehebat kamu?”

Kau tergelak.

“Makanya, jangan mudah nyerah,” katamu singkat.

Untuk menemani latihanku kali ini, engkau membuatkan dua cangkir kopi. Satu untukku, satu lagi untukmu sendiri.

Tanpa menghiraukan uap panas yang masih mengepul, kuraih kopi yang kau sajikan untukku. Kuseruput…

Hm, manis sekali kopi buatanmu.

Sebenarnya aku tak suka manis. Namun demi menghormatimu, aku berpura-pura menikmatinya.

Kuraih biola yang tersandar di kursi anyaman di sisimu. Aku mulai menggesek-gesekkan bow di atas dawai biola tuamu, berkonsentrasi pada bunyi-bunyi yang kuhasilkan.

“Untuk memainkan biola, kau harus mengenal setiap nada dengan baik. Kau mesti tahu perbedaan setiap nada. Yang diutamakan adalah kemampuan mendengarkan perbedaan setiap bunyi,” uraimu seraya tetap asyik dengan petikan gitar akustikmu.

“Menggunakan feeling maksudnya?”

Kau mengangguk.

Aku mengernyit, berkonsentrasi pada bunyi-bunyi yang kuhasilkan dari gesekan biolaku. Berulang-ulang nada yang kuhasilkan meleset. Untuk menghasilkan nada-nada dasar dengan tepat, aku mesti mengulang berkali-kali.

Rasa pegal mulai menjalar di lengan kiriku karena menahan tubuh biola berjam-jam. Pundak kiriku pun luar biasa pegalnya karena terus-menerus menjepit pantat biola selama berlatih.

Kau tersenyum hangat melihatku hampir menyerah. Kuberikan biola kepadamu. “Giliranmu…”

“Pegal? Lama-lama juga terbiasa,” ujarmu seraya mulai memainkan lagu-lagu klasik yang biasa kau mainkan.

Aku takjub mendengar bagaimana biola itu mendendangkan suara yang merdu. Di tanganmu, biola itu mau bernyanyi dengan indah. Turun naik kau mainkan bow di atas senar biolamu. Jemari kirimu menari-nari dengan lincahnya di sepanjang leher biola seakan bergerak sendiri tanpa instruksi darimu.

Sebentar-sebentar jemarimu menggetar-getarkan dawai, memainkan teknik vibrato, menghasilkan nada yang begitu lembut. Tak ada bunyi yang sumbang. Tak ada nada yang meleset. Sempurna!

Selama bermain, sepasang mata sayumu terpejam, entah dirimu berusaha berkonsentrasi pada nada-nada yang kaucoba hasilkan ataukah kau tengah menikmati permainanmu sendiri??

Kurang dari sepuluh menit engkau membuka mata. Kau usaikan permainanmu.

Andai saja engkau melihatnya, engkau akan mendapatiku tengah terpesona padamu, masih mabuk dengan sisa-sisa kekagumanku padamu tadi.

“Ayo, coba lagi! Dengarkan nadanya, rasakan perbedaannya. Gunakan pendengaran, perasaanmu, bukan penglihatan…”

Kuraih biola yang kausodorkan padaku.

Aku memejam mata, mencoba meniru caramu bermain, mulai membuat gesekan-gesekan di atas dawai biolamu.

Biolamu meraung-raung lagi di tanganku.

***

Kali ini aku bermain lebih baik dari minggu-minggu sebelumnya. Aku mulai pandai menghasilkan nada-nada dasar dengan tepat.

“Coba mainkan sebuah lagu.”

Aku tercenung. Lagu apa ya yang mau kumainkan?

“Aku kan masih pemula. Mana bisa aku mainkan lagu-lagu klasik seperti yang biasa kau mainkan. Itu kan susah…”

“Belajar dari yang mudah dulu. Coba mainkan melodi Ibu Kita Kartini.”

Aku menurut. Kucoba mainkan lagu yang kauminta dengan nada yang terpatah-patah. Berkali-kali aku keliru membunyikan beberapa nada.

Aku nyaris putus asa. Kulihat kau hanya tersenyum menyaksikan permainanku yang buruk.

“Aku memang tak berbakat,” keluhku seusai permainanku.

“Kau berbakat.”

“Bohong!”

“Tidak. Aku sungguhan.”

Aku memberengut, memeluk biolamu, mengelus-elusnya dengan perasaan putus asa.

Melihatku putus asa, kau tergelak.

“Pasti bisa, asal jangan menyerah. Kamu tahu Nisa? Aku tak berguru dengan siapa pun saat belajar biola. Tak ada yang mengajariku. Kau punya aku. Ada aku yang akan mengajarimu. Kau punya bakat.

Ah, jangan risaukan bakat kalau kau merasa tak berbakat. Lagi pula bakat bukan syarat utama keberhasilan seseorang. Yang penting kau mau berusaha.

Kau punya mimpi. Kau punya semangat. Nah, tunggu apa lagi? Wujudkan saja mimpimu…”

Aku tertegun mencerna kata-katamu.

“Ehm, apa impianmu?”

Kau menggosok tali busur biolamu dengan rosin. Katamu, sebelum bermain, tali busur perlu digosok dengan rosin agar peret. Sementara aku duduk di kursi anyaman di hadapanmu, memandang polos setiap gerakan tanganmu yang begitu terampil menggosokkan rosin pada tali busur biolamu.

“Aku tidak akan berhenti bermain biola sampai aku bisa melebihi Hendri Lamiri. Aku ingin suatu saat nanti bisa bermain biola dengan biolis-biolis hebat, seperti Hendri Lamiri itu…”

Setelah kaurasa tali busur biola itu peret, kau menjajalnya.

Lantas kau mengakhiri sesi latihanku hari itu dengan memainkan melodi Rayuan Pulau Kelapa, yang mampu membangkitkan rasa nasionalisme bagi siapa pun yang mendengarnya. Spontan kuraih gitar yang bergeming sejak tadi di sisi kursi anyaman di sisimu. Kuiringi permainan biolamu dengan petikan gitarku yang tak bagus-bagus amat.

Aku ingin melihatmu menggapai mimpimu…

***

Aku tergesa. Berlari di antara kerumunan orang yang lalu lalang di rumah sakit itu.

SMS dari kakak perempuanmu pagi tadi mengejutkanku.

Jantungku berdegup kencang mendengar kabar sebuah truk menabrak sepeda motor yang kau kendarai saat kau hendak ke kampus pagi tadi. Sialnya, sopir truk yang menabrakmu pergi meninggalkanmu begitu saja terkapar di jalan.

Aku lekas menuju ruangan tempatmu dirawat.

Setibanya aku di ruangan itu, aku mendapati keluargamu berkumpul mengelilingimu, menangisi keadaanmu.

Sementara kau tergolek di ranjangmu. Wajahmu penuh luka. Perban yang membungkus paha kiri, kedua kaki, dan lengan kananmu basah oleh darahmu sendiri yang merembes.

Perban yang melingkar di kepalamu pun tinggal sebagian kecil saja daerah yang masih terlihat putih, selebihnya didominasi merah darah yang mengucur deras dari kepalamu.

Dan, astaga, lengan kirimu paling banyak mengeluarkan darah…

Aku terhenyak melihat keadaanmu.

“Kata dokter, lengan kirinya patah…” bisik kakak perempuanmu dengan menahan isaknya.

***

Kau jadi pemurung semenjak kecelakaan itu.

“Aku tidak akan bisa bermain biola lagi…” ujarmu parau ketika aku–untuk ke sekian kalinya–ke rumahmu untuk melihat keadaanmu.

Bim, kau membuatku cemas…

Aku bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari suaramu yang bergetar.

Kecelakaan itu telah membuat lengan kirimu patah. Kenyataan bahwa kau tak bisa menggunakan lengan kirimu untuk bermain biola telah membuatmu menjadi sosok yang rapuh.

Dan yang terparah, kecelakaan itu telah merenggut semangatmu…

“Tapi kata dokter kau masih bisa sembuh, Bima.”

“Itu hanya kata-kata penghibur! Aku bukan anak kecil yang tak bisa menerima kenyataan, yang harus dibohongi hanya untuk membesarkan hatinya!!!”

“Bukan dokter yang berkuasa menyembuhkan, tapi Tuhan. Dokter boleh berkata kau tak kan sembuh, tapi kita tetap harus mencoba segala cara agar lengan kirimu pulih. Kita bisa coba pengobatan alternatif mungkin…?”

Belum sempat kutuntaskan kalimatku, dengan gerakan tak terduga kau meraih bahuku dengan tangan kananmu yang tak cedera dan mengguncangnya dengan keras, “Aku cacat Nisa! Apa kau tidak mengerti? Sekarang aku cacat! Aku tak kan bisa bermain biola lagi!”

Nada suaramu meninggi seiring bulir-bulir bening yang menderas dari mata sayumu, membentuk aliran sungai kecil di pipimu yang cekung.

Lantas dengan kasar kauempaskan bahuku, berbalik memunggungiku.

Aku hanya bergeming menatap ketakberdayaanmu, seperti biola tua yang tergolek membisu di sudut kamarmu itu.

Kulihat bahumu terguncang, aku tahu kau berusaha menyembunyikan tangismu. Namun seperti juga isakmu, tak pernah isakku sedalam ini.

Kesakitanmu adalah kesakitanku, Bima…

Aku berjalan ke arahmu, membuat jarak di antara kita sedekat mungkin. Penuh kehatian-hatian kusentuh bahumu.

“Aku tahu ini berat buatmu. Kau tidak cacat. Jangan menyerah dulu, Bima…”

Tiba-tiba kau berbalik dan memelukku dengan gerakan yang kaku. Lengan kirimu tak memungkinkanmu leluasa untuk memelukku. Segera saja kau membasahi pundakku dengan tangis yang tak mampu lagi kaubendung.

“Maafkan aku Nisa…”

“Jangan menyerah, Bima. Kau punya semangat. Kau punya mimpi. Kau tahu bahwa menggapai mimpi itu tak mudah. Ini belum apa-apa, Bim. Bisa jadi ini baru sandungan kecil. Masih banyak tantangan di depanmu, menunggumu…”

Kurasakan pundakku terasa dingin. Air matamu merembes, membasahi dress ungu mudaku.

“Tolong aku, Nisa…”

“Meski tak banyak yang bisa kulakukan untuk membantumu, paling tidak aku ingin kau tahu bahwa kau tak sendirian. Kau punya aku. Ada aku yang akan menjagamu. Aku di sisimu untuk menggapai mimpi-mimpimu. Nah, tunggu apa lagi? Wujudkan saja mimpimu. Jangan pernah berhenti meyakini bahwa mimpimu akan tercapai…”

Isakmu makin keras.

Dan, hei, apakah penglihatanku salah? Biola tuamu–yang sejak tadi tersandar di tepi tempat tidurmu–dawainya bergetar-getar.

Aku menyeka air yang terasa penuh di kedua mataku agar tak menghalangi pandanganku. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat, aku mengucek mata. Kali ini bukan hanya dawainya yang menggetar-getar, tali busur biolamu pun ikut bergetar.

Aku tersenyum, mungkin nyaris setengah tertawa.

“Ayo kita main biola lagi…” bisikku di telingamu. *

Nurhandayani, lahir di Tanjungkarang, 12 Juni 1986, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *