Lamongan; Nyanyian Pribumi

Judul Buku: The Lamongan Soul
Pengarang: Javed Paul Syatha
Pengantar: Haris Del Hakim
Jenis Buku: Kumpulan Sajak dan Cerpen
Penerbit: La Rose
Tebal Buku: 44 hlm; 13, 5 x 20, 5 cm
Peresensi: Imamuddin SA

Suatu sugesti tersendiri jika seseorang telah berkenan menyuarakan negeri atau kotanya. Ini membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar peduli dan bangga terhadap negeri maupun kota itu. Dan berbesar hatilah bagi negeri atau kota yang memiliki orang-orang seperti mereka.

Penyuaraan tersebut ada yang berbentuk pujian maupun kritikan. Kedua bentuk itu pada dasarnya bertumpu pada hal yang sama. Sama-sama berorientasi pada tindak peningkatan kredebelitas suatu negeri atau kota. Jika penyuaraan itu dalam bentuk pujian, janganlah serta-merta terbuai dan lupa diri. Semuanya masih membutuhkan koreksi dan instropeksi diri. Dan jika dalam bentuk kritikan, janganlah terus mengasingkan penyuaranya. Memboikot penyuaraannya. Dengan adanya sebuah kritikan, seharusnya berbanggalah. Sebab melalui penerimaan kritikan dengan lapang dada menunjukkan bahwa suatu negeri atau kota berkehendak untuk maju dan menggapai kegemilangan di muara waktu. Mengisi cela-cela kosong dan merevolusi bagian-bagian yang dianggap kurang elok di kalbu.

The Lamongan Soul merupakan sebuah kumpulan puisi dan cerpen yang kaya akan nilai lokalitas kota Lamongan. Hal ini tampaknya dimunculkan untuk membangun dan meningkatkan kredebilitas kota Lamongan di mata publik secara umum. Dengan hadirnya The Lamongan Soul, Lamongan tampaknya akan memiliki spirit dan motivasi yang tinggi dalam menyongsong era yang penuh dengan daya saing ini. Namun semuanya dikembalikan pada Lamongan sendiri, bisakah hal ini dimanfaatkannya?

Nilai lokalitas tersebut dihadirkan tidak hanya sekedar pengeksposan biasa. Kehadirannya dalam kumpulan cerpen dan puisi ini dibumbui dengan pesona imajinatif yang sangat kental. Dan bahkan menghasilkan efek pengintepretasian yang sangat mendalam.

Ikon Lamongan yang menyuarakan diri sebagai kota soto dan tahu campur menjadi pembuka dalam karya ini. Soto dan tahu campur adalah makanan khas Lamongan. Ini adalah ciri khas kota Lamongan. Ikon ini dihadirkan tampaknya untuk mengawali langkah untuk merengkuh cita-cita dan menyongsong hiruk pikuk kehidupan kota. Jika diimajinasikan, ikon soto dan tahu campur berorientasi pada sumber tenaga manusia untuk melakukan aktifitas hidup selanjutnya. Orang tidak akan kuat dan tidak akan bertenaga tanpa adanya makanan pokoknya. Begitu juga dengan Lamongan sendiri, agar kuat dan mampu bersaing dalam dunia global, prioritas utama yang harus diperhatikan adalah peningkatan lokalitas kota yang telah dimilikinya. Ini yang perlu digarap lebih utama. Inilah sarapan paginya.

Berkaitan dengan lokalitas kota Lamongan, sebetulnya kota ini memiliki bermacam wilayah yang menjadi talenta untuk dibanggakan dan menjadi modal bersaing dalam era global. Wilayah tersebut merujuk pada masalah kesenian, pariwisata, religiuitas, dan lain-lain. Dari sisi kesenian misalnya: meskipun ini hanya tersinggung secara eksplisit dan sedikit, hal ini cukup terwakili dangan adanya penyematan judul puisi ?Pangkur?. Kata tersebut adalah menjadi ikon kesenian yang lebih terfokus pada masalah kesusastraan. Walaupun pada dasarnya keseluruhan isi puisi tersebut berorientasi pada nilai lokalitas religius yang ada di kota Lamongan. Puisi tersebut mengisyarahkan bahwa pada dasarnya masyarakat Lamongan adalah masyarakat yang religius. Masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Hal itu dalam puisi yang berjudul Pangkur ditengarai dengan adanya persembahan kepada Sunan Derajat. Yaitu salah seorang dari Wali Songo.

Lewat sajak yang berjudul Pangkur itulah, diharapkan agar kota Lamongan mampu membumikan religiuitas yang telah tertanam sejak lama. Jangan sampai religiuitas itu pudar apalagi hilang dari dalam jiwa-jiwa masyarakatnya. Selain itu, secara eksplisit yang agak jauh, kota Lamongan harus mampu meningkatkan ekistensi keseniannya. Perdayakan seluruh kesenian yang ada. Kedua hal inilah berdasarkan penyematan posisi karya yang kiranya perlu diberi penekanan lebih serius dan utama agar kota Lamongan mampu bersaing di era global dan sanggup menggapai hari esok yang gilang-gemilang.

Dari sisi wisata misalnya; ada satu tempat wisata yang masih terasing dalam kota Lamongan yang butuh pemberdayaan. Wisata ini jika dikelola dengan seksama, mampu mengangkat kredebelitas kota Lamongan. Hal itu terlihat dari letaknya yang ada di bebukitan nan asri. Di sana diselimuti kesejukan dan kedamain alam sekitar yang masih alami dan bersahabat yang mampu membawa keheningan jiwa bagi para pengunjungnya. Belum lagi ditabah dengan pesona sumber air hangat yang berasal dari bebatuan kapur yang diyakini mampu menjadi perantara menyembuhkan penyakit oleh masyarakat sekitar. Selain itu, Lamongan juga memiliki lokalitas wisata yang cukup syarat untuk dibanggakan yang kini sejenak tersisihkan. Lokalitas wisata itu adalah Waduk Gondang. Tempat wisata ini kurang dapat perhatian, padahal panorama alamnya sangat menjanjikan untuk memberikan kesegaran jiwa. Hanya saja cukup butuh sedikit perhatian. Alangkah baiknya jika lokalitas seperti itu diperhatikan.

Pada cerpen yang berjudul Melankolia, setting yang diambil adalah tempat Wisata Bahari Lamongan. Tempat ini adalah tempat satu-satunya yang sekarang menjadi aset utama kota Lamongan. Sebuah tempat wisata yang dilengkapi dengan hotel yang cukup sederhana dan disuguhi oleh panorama laut yang sangat indah. Meskipun isi cerpen ini tidak secara penuh berkutan masalah tempat wisata tersebut, palingtidak pengarang telah menyuarakan bahwa saat ini kota Lamongan memiliki tempat wisata yang sangat dibanggakan dan mampu bersaing dengan wisata-wisata lain dalam taraf regional, nasional, dan bahkan internasional.

The Lamongan Soul juga mengeritik mereka yang dulu adalah warga asli Lamongan yang kini telah memperoleh kesuksesan namun lupa akan Lamogannya. Keritikan juga mengarah kepada mereka yang telah mencoreng nama baik Lamongan di mata bangsa dan negara, bahkan dunia. Selain itu juga mengeritik kepincangan-kepincangan sosial yang masih bermekaran di dalam kehidupan kota Lamongan. Kumpulan puisi dan cerpen ini seraya memotivasi serta menyemangati kepada kota Lamongan dan masyarakatnya untuk membangun peradaban dan merengkuh masa depan yang gilang-gemilang.

The Lamongan Soul terdiri dari dua puluh lima puisi dan satu cerpen. Dua puluh lima puisi tersebu adalah; Selamat Pagi Lamongan, Lamongan, Pangkur, Kehendak Pengingkaran, Nelayan, Candra Kirana, Naga Hari-Hariku, Kali Lamong, Brumbun, The Lamongan Soul, Kuasa Lamongan, Cemeti, Engkau Telah Terlupa, Nuansa Samudra, Sebuah Muara Sejarah, Kesangsian, Dilema, Onggokan Sekejap Debu, Gerbong Pembebasan, Kepada Kesangsian, Melati dari Fantasi Kecilku, Pintu Air, Lelaki Tua dan Becaknya, Tentang Dendam, dan Boom Bali. Adapu cerpennya berjudul Melankolia.

Kumpulan puisi dan cerpen ini sangat cocok untuk dibaca kalangan SLTA dan umum, terutama warga Lamongan sendiri. Pembaca akan tahu akan gambaran kearifan lokalitas kota Lamongan melalui karya ini, meskipun dari puisi-puisinya cukup menguras otak untuk dilakukan proses pemahamannya. Hal itu disebabkan oleh kesubliman bahsanya yang cukup kental. Namun bagi yang sering bergulat dalam dunia sastra khususnya puisi, itu merupakan hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Karya ini dari sisi penulisannya juga banyak yang keluar dari aturan baku penulisan bahasa. Entah itu sebagi stail bahasa atau kesalahan cetak semata. Kesalahan-kesalahan penulisan tersebut di antaranya adalah penulisan kata depan ?di? yang kerap diposisikan sebagai awalan, banyak penulisan partikel ?pun? yang digandeng, awalan ?ber? yang dipisah dengan kata dasarnya, dan lain-lain.

Sebenarnya, masih banyak muatan yang terkandung dalam karya ini. Muatan-muatan tersebut tersimpan dalam kesubliman bahasa yang dipakai dalam tiap-tiap puisinya. Kesubliman itu mampu membawa pembaca untuk mengarungi samudra imajinasi yang sangat jauh nan luas. Dan menemukan makna lain di balik kandungan teks yang tersurat. Semuanya tinggal bagaimana cara penginterpretasian dari diri pribadi pembaca masing-masing. Pembacalah yang selanjutnya memiliki hak penuh akan hal ini. Dan akhirnya, selamat menikmati. Semoga kedamaian hati selalu melingkupi biar menemukan apa yang telah menjadi misteri di balik kata bersemi.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*