Merajut Budaya Nasional

Haryono Suyono*
http://www.suarakarya-online.com/

Pada hari Sabtu, 3 Juli lalu, dalam suasana ceria kerabat Kasunanan Solo merayakan ulang tahun peresmian pengangkatan raja, atau disebut wilujengan jumenengan Ndalem SISKS Paku Buwono XIII Tedjowulan yang keenam. Bagi penduduk biasa, peristiwa pengangkatan dalam suatu jabatan tidak diperingati, kecuali kalau jabatan itu merupakan jabatan publik yang peringatannya bisa menjadi pemicu gerakan yang lebih gegap gempita.

Dalam hal peringatan masa jabatan Sinuwun Paku Buwono XIII Tedjowulan kali ini, peringatan itu disertai dengan upacara pengukuhan anugerah bagi sahabat-sahabat, keluarga, dan penggawa yang dianggap berjasa atau bekerja dengan baik. Upacara berlangsung dengan khidmat, biarpun Keraton Solo masih terpecah dalam dua kubu: ada yang di dalam keraton dan ada yang berada di luar keraton.

Bagi Kota Solo, dilihat dari upaya memelihara peninggalan nenek moyang atau budaya Jawa, peristiwa itu adalah yang kedua dalam minggu yang sama. Peristiwa pertama ditandai usaha Ibu Bupati Karanganyar, Rina Iriani, yang sejak tahun 2006 mencoba memperkenalkan dan mewajibkan setiap warganya berbahasa Jawa kromo pada setiap hari Rabu. Usaha itu diteliti dan dijadikan garapan ilmiah untuk melengkapi persyaratan akademis dalam meraih gelar doktor dalam bidang linguistik di Universitas Sebelas Maret di Kota Solo bagi bupati yang dinamis tersebut.

Biarpun hasil usaha bupati dan aparatnya belum tampak membuahkan hasil yang signifikan, tetapi usaha mempertahankan bahasa Jawa yang dianggap “tergusur” oleh pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari penduduknya, patut dihargai. Menurut Bupati Rina, yang dinyatakan lulus ujian terbuka doktor dengan predikat sangat memuaskan, bahasa bukan sekadar tutur kata dan untaian kalimat biasa, melainkan selalu diikuti sikap, tingkah laku, dan budaya masyarakatnya.

Upaya mengembangkan penggunaan bahasa Jawa kromo diyakini bisa membantu pergaulan masyarakatnya untuk lebih bertata krama dan sekaligus mengangkat kehormatan sesama dan budaya harga-menghargai kepada sesepuh atau mereka yang dituakan. Dalam menjawab pertanyaan, diberikan contoh adanya suatu demo yang karena harus menyampaikan permasalahan dalam bahasa Jawa kromo, maka suasana yang panas berubah menjadi hangat dan saling menghargai pendapat sesamanya.

Dalam minggu yang sama terdapat peristiwa kedua yang dari segi budaya mempunyai kemiripan yang dekat, yaitu peringatan ulang tahun masa jabatan SISKS Paku Buwono XIII Tedjowulan. Peristiwa itu juga sarat dengan usaha memelihara budaya keraton yang dianggap luhur dan mengandung teladan yang dianut oleh keluarga keraton dan masyarakat luas pada zamannya. Seperti diketahui, pada masa lalu semua bentuk budaya yang berhasil disajikan dan kemudian dipelihara di keraton selalu menjadi pusat acuan budaya wilayahnya yang dianggap luhur. Karena itu, peranan keraton dalam memelihara budaya itu dianggap pantas untuk tetap dilanjutkan agar peninggalan nenek moyang itu tidak punah diserang modernisasi.

Salah satu dari keteladanan itu adalah kesetiaan dan penghormatan kepada pimpinan, bagaimanapun keadaannya, yang dihargai oleh pimpinannya berupa pemberian penghargaan atau anugerah kenaikan pangkat, kedudukan, atau pemberian nama dan gelar yang dipegang teguh dengan penuh kebanggaan.

Acara sederhana tetapi khidmat itu digelar di gedung Ndalem Wuryaningratan. Gedung tersebut sekarang dijadikan Gedung Sejarah Pejuang Boedi Oetomo, yang pagi itu disulap sebagai Balai Pasowanan Agung Raja SISKS Paku Buwono.

Untuk memberikan gambaran keagungan masa lalu, Raja SISKS Paku Buwono XIII Tedjowulan memasuki “istana” di mana para tamu undangan sudah lengkap hadir dengan gagah dan berwibawa menunggang kuda, diiringi sanak keluarga dan pasukan istana secara lengkap. Keheningan, keharuan, dan kehormatan menyertai masuknya Sang Raja ke dalam ruang upacara yang ditata sangat apik dan anggun.

Setelah Raja SISKS Paku Buwono XIII Tedjowulan duduk pada dampar kencana yang disediakan, mulailah upacara pemberian penghargaan kepada mereka yang berhak menerimanya. Satu demi satu para penerima penghargaan yang terdiri dari kerabat, sahabat, dan abdi dalem dipanggil dan disebutkan anugerah, kenaikan pangkat atau penghargaan yang diterimakan oleh Sang Raja. Semua berlangsung dengan teratur dan khidmat penuh kehormatan.

Yang menarik adalah bahwa setelah selesai upacara penganugerahan penghargaan dan kenaikan pangkat, para tamu undangan dihibur dengan tarian bedaya pangkur oleh putri-putri keraton yang menari dengan sempurna, indah, dan menawan penuh makna. Di sinilah kiranya seluruh upacara perlu kita cermati, bukan sekadar sebagai ritus atau upaya untuk kembali ke sistem feodal dalam arti sempit, melainkan dalam keadaan masyarakat dan bangsa yang sedang mencari bentuk budaya dalam dunia yang berubah ini.

Dua peristiwa di Solo minggu lalu itu perlu kita lihat sebagai upaya memelihara dan mengingatkan generasi muda akan nilai-nilai luhur budaya bangsa pada masa lalu. Semua itu dapat kita rajut menjadi budaya baru yang memperkuat persatuan dan kesatuan. Seluruhnya dipadukan dari galian antarbudaya lokal yang tetap mendapat penghargaan. Budaya bangsa yang dipadukan itu pasti akan memberi semangat persatuan dan kesatuan dalam perjuangan untuk masa depan bangsa yang lebih sejahtera, damai, dan penuh kebanggaan. ***

*) Penulis adalah pengamat sosial budaya bangsa, mantan Menko Taskin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *