Dandyisme Puisi ’80-an

Beni Setia
suarakarya-online.com

TULISAN Indra Tjahjadi (Suara Karya, 18/11. 2006), dengan konteks perpuisian dekade 80-an mengapungkan tiga poin. Oleh Indra Tjahjadi diungkapkan adanya dua genre perpuisian yang dominan di dekade 1980-an. Pertama, corak puisi gelap yang dominan. Dua, corak puisi sufistik yang signifikan menggejala. Dan ketiga: posisi kepenyairan Aming Aminoedhin dalam peta perpuisian saat itu. Continue reading “Dandyisme Puisi ’80-an”

Karna Aku Maria

Ana Balqis
http://www.jawapos.com/

DIALAH perempuan itu. Tidak segan mengaku Jawa meski lama di kota-kota sebesar Paris atau Kanada atau Jepun. Kerap terbang mengelilingi dunia bersama berus dan kanvasnya.

Sejak mengenalnya, banyak waktu saya mengintai ke dalam mata hitam pekatnya. Kata gemulah nenda, lihatlah ke dalam mata lawanmu beserta selawat tiga kali pabila berkata-kata dengannya. Kelak kau dapat melihat kebenaran kerana yang ada dalam hatinya akan terpancar di mata. Continue reading “Karna Aku Maria”

Rendez-Vous

Dina Oktaviani
entertainmen.suaramerdeka.com

DIA sudah tidak tahan lagi. Beratnya sudah turun sebanyak dua belas kilo selama sepuluh bulan ini. Tapi dia masih harus menahan diri sampai pertemuan itu tiba. Baru pukul empat. Terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Dia berdebar-debar. Tapi lalu terdengar suara pintu pagar digeser; pintu pagar milik tetangga rumahnya tidak berpagar, dan dia harus kembali bekerja. Continue reading “Rendez-Vous”

Melestarikan Pantun, Menjaga Tamadun Melayu

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Menjaga kelestarian peradaban – tamadun – budaya Melayu adalah hal positif, terutama bagi penyair atau pun penulis pantun. Namun, kaidah kesusastraan Melayu harus tetap dijaga. Tujuannya, agar ?pakem? itu tak disalahpahami generasi muda pembaca buku pantun dan syair.

Hal itu diutarakan sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, salah satu pembicara dalam acara bedah buku syair dan pantun Bual Kedai Kopi karya duet Martha Sinaga dan Suryatati A Manan yang digelar di Hotel Mitra, Bandung, Sabtu (15/5). Ungkapan itu berkaitan dengan pembedahan setiap pantun dan syair Martha maupun Suryatati setelah dikaitkan dengan aturan dan pola dalam pantun. Continue reading “Melestarikan Pantun, Menjaga Tamadun Melayu”

MEMBENTANGKAN ISU SEJARAH SASTRA INDONESIA (II)

Catatan Kecil untuk Gagasan Besar

Maman S. Mahayana *

E. Ulrich Kratz (Peny.), Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000), xxxix + 980 halaman (termasuk indeks)

Kapankah kesusastraan Indonesia lahir? Inilah pertanyaan yang diajukan Ajip Rosidi yang kemudian dijadikan judul bukunya. Sesungguhnya, pertanyaan Ajip Rosidi itu tidaklah datang secara serta-merta. Ada persoalan yang melatarbelakanginya dan persoalan itu berkutat di seputar batas awal munculnya karya-karya sastra Indonesia yang memperlihatkan ciri-ciri kemodernan. Continue reading “MEMBENTANGKAN ISU SEJARAH SASTRA INDONESIA (II)”

Bahasa ยป