Sastra Kutu

Cunong N. Suraja
http://oase.kompas.com/

Ungkapan mati kutu, kutu kupret, kutu buku, dan kutu-kutu yang lain menarik perhatian untuk dianalisa mulai dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kutu yang dikatakan sebagai ?Kutu mengacu pada berbagai artropoda berukuran kecil hingga sangat kecil. Nama ini dipakai untuk sejumlah krustasea air kecil (seperti kutu air), serangga (seperti kutu kepala dan kutu daun), serta ? secara salah kaprah ? berbagai anggota Acarina (tungau dan caplak, yang berkerabat lebih dekat dengan laba-laba daripada serangga). Semua disebut “kutu” karena ukurannya yang kecil. Dengan demikian, pengertian awam istilah ini tidak memiliki arti taksonomi. Continue reading “Sastra Kutu”

Sastra Kini dan Esok

Gendhotwukir*
http://oase.kompas.com/

Sastra hari ini sepertinya sedang merayakan kemerdekaannya. Teks sastra entah dalam bentuk puisi, cerpen ataupun esai kini menemukan sebuah ruang publikasi baru yang cepat dan tidak perlu menunggu waktu berhari-hari karena sikap ketat redaktur sastra media cetak mengingat terbatasnya halaman untuk rubrik tersebut. Sastra cyber kian ramai seiring menjamurnya jejaring sosial di internet seperti milis, friendster, twitter, blogger, multiply dan akhir-akhir ini yang sedang booming yaitu facebook. Continue reading “Sastra Kini dan Esok”

Menyoal “Keberadaan” Kritik(us) Sastra

Nelson Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

Dalam buku The Sacred Word (Metheun & Co Ltd., New York, 1960) TS Eliot menulis, we might remind ourselves that criticism is an inevitable as breathing. Ya kita selalu menghormati, membutuhkan dan tidak dapat melepaskan diri dari kritik (sastra). Syukurlah, kritik sastra masih terus ditulis, meski memang telah kehilangan legitimasinya.

Legitimasi atau kehidupan kritik(us) sastra, ya, itulah yang kerap membuncahkan jagat sastra Indonesia. Banyak kajian berupa esai atau artikel yang intinya menyiratkan keresahan, kekecewaan dan keprihatinan kita menghadapi degradasi keberadaan kritik(us) sastra. Continue reading “Menyoal “Keberadaan” Kritik(us) Sastra”

Upaya Pembukuan Sastra Koran

Gunoto Saparie *
suarakarya-online.com

PADA awal perkembangannya (1945-1970-an), cerita pendek (cerpen) memang tumbuh dalam majalah. Terutama majalah kebudayaan/kesusastraan, seperti Pantja Raya, Zenith, Indonesia, Kisah, Sastra, Zaman Baru, Horison, Basis, dan lain-lain. Majalah-majalah tersebut memiliki visi-misi untuk pengembangan kebudayaan/kesusastraan. Dengan karakteristiknya ini, majalah-majalah tersebut memberikan ruang yang leluasa bagi cerpen. Longgarnya ruang ini diyakini merupakan faktor yang menyebabkan para cerpenis dapat melakukan eksplorasi dalam bidang estetika. Continue reading “Upaya Pembukuan Sastra Koran”

Bahasa ยป