Hanung Bramantyo Buat Film Kolosal Sang Pencerah

Biaya Rp 12 Milyar, Didanai Seorang Hindu
balipost.co.id

SOSOK pahlawan nasional kita sudah banyak diangkat ke layar putih, seperti Bung Karno, Soeharto, Jendral Sudirman, Tjoet Nyak Dhien, Mohamad Toha (Toha Pahlawan Bandung Selatan), Diponegoro (Pahlawan Gua Selarong) dan masih banyak lagi. Sebentar lagi, seorang pahlawan nasional yang juga pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan bakal difilmkan oleh sutradara Hanung Bramantyo dengan judul Sang Pencerah. Continue reading “Hanung Bramantyo Buat Film Kolosal Sang Pencerah”

Cita Rasa Baru Keroncong

Aguslia Hidayah
korantempo.com

Nyak Ina Raseuki dan kawan-kawan menafsirkan kembali keroncong dan mementaskannya di Salihara pekan lalu. “Pepaya, mangga, pisang, jambu// dibawa dari Pasar Minggu// di desa banyak penjualnya// di kota banyak pembelinya”

Lagu keroncong lawas itu mengantarkan sensasi lain. Sensasi yang bukan ala Mus Muyadi, Sundari Sukoco, atau Anastasia Astutie. “Sensasi keroncong yang lain” itulah yang disajikan oleh sebuah kelompok musik keroncong yang menamakan dirinya Kroncong Tenggara di Salihara pada Jumat dan Sabtu malam pekan lalu. Berbalut baju putih-putih bersetelan kain sarung, mereka memperkenalkan kolaborasi musik khazanah nusantara itu dengan ragam genre musik lainnya. Continue reading “Cita Rasa Baru Keroncong”

Sitok Perankan Sosok Hamangkubuwono VII

Benny Benke
suaramerdeka.com

SITOK Srengenge, penyair yang pernah ditempatkan namanya sebagai salah seorang Leader of Millennium dalam bidang sosial budaya dari majalah Asianweek (2000), dipercaya memerankan sosok Sri Sultan Hamangkubuwono VII.

Dalam film yang berangkat dari naskah dan penyutradaraan Hanung Bramantyo berjudul Sang Pencerah, Sitok bahkan diberi kebebasan untuk menginterpretasikan sosok Raja Jawa tersebut. “Tentu setelah melewati berbagai proses diskusi,” ujarnya. Continue reading “Sitok Perankan Sosok Hamangkubuwono VII”

Hidup Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur

Abdul Wachid BS
http://www.kr.co.id/

MATINYA kritik sastra, yang pasti disebabkan oleh tidak adanya karya sastra yang layak untuk dijadikan pembicaraan kritik sastra.

Memang, banyak faktor lain sebagai penyebabnya, antara lain (1) minat baca sastra dari masyarakat yang rendah, (3) persepsi yang salah bahwa karya sastra hanyalah produk khayalan, klangenan, dan karenanya tidak layak sebagai bagian dari sumber untuk keilmuan interdisipliner. Tidak seperti halnya di negara-negara yang sudah pesat perkembangan keilmuannya, yang memposisikan karya sastra sebagai bagian dari inspirasi keilmuan interdisipliner. Continue reading “Hidup Matinya Sastra Indonesia di Tangan Redaktur”

Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku

Raudal Tanjung Banua *
korantempo.com

CERITA ini bermula ketika aku berangkat ke suatu tempat, dan dari kaca bus yang terbuka kulihat sebatang pohon menyendiri di tengah keluasan padang. Pemandangan sekilas itu, entah mengapa, seketika membawa bus yang kutumpangi seakan berjalan ke belakang, melewati pohon-pohon dan belukar masa kecilku. Masa ketika mataku masih setengah terpejam, belum banyak melihat apa yang ada di balik tempurung kampung. Ketika kini sengaja kubuka mata, aku justru terhantar ke sebatang pohon kayu putih di keluasan padang gembala, di mana diriku dan kawan-kawan penggembala terasa kekal di sana. Continue reading “Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku”

Bahasa ยป