Sajak-Sajak TS Pinang

http://cetak.kompas.com/
Tangga

satu. kami membiasakan melangkahkan kaki kanan. ini perjalanan yang bisa panjang. kami
menengadah sebab lantai kayu di atas itu telah menunggu. dua. kami melangkah lagi, dengan
kaki kiri. dan di antara pijak satu dan dua, kami mencoba menghafal doa. lalu tiga. kami
bayangkan sungai seribu rupa, di suatu lembah, di surga. empat. lihatlah, betapa banyak yang
harus diingat. dan dalam putaran yang begini padat, mana sempat kami berpindah tempat?
lima. di telapak kaki yang kanan kini, kami teringat nama-nama. enam. kaki kiri. kami tersedak
kenangan silam. tujuh. dada kami yang gemuruh. delapan. kami tersentak, rumah kami ini
mudah tumbang: atap rumbia dan dinding papan!
sembilan. kami melihat di kaca jendela, menempel gambar rembulan.

Gelagar

gelagar itu membentang dari ubun kepala ke ujung utara di mana puncak kalderamu masih
menyala. gelagar itu menjadi jembatan antara mimpi-mimpi jalang dan totem batu yang
menjulang. gelagar itu seakan menyatukan celah bumi tersebab gegar. gelagar itu, bermula tugu
yang tumbang. bumi gemar gemetar, kami berpeluk gentar.
gelagar itu. membentang dari malam tertinggi hingga siang benderang. sebagai horizon yang
kami tapaki. hati-hati. bagai subuh mengendap mengupas matahari, kami lipat tabir matahati.

singgahlah, akan kami suguh kalian sepiala sepi, semerah anggur api. lalu kita berbincang sekhidmat sakramen suci merayakan cinta dan benci. sambil duduk kita di bentang gelagar itu, sementara di bawah sana jurang terpentang sepanjang benang layang-layang. dan langit yang membayang.

Kakus

kami tak percaya pada najis, sebab kami tidak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke
tanah. di sini setiap pagi, kami menjadi pintu bagi yang tiba di lembar lidah hendak pulang ke
hulu tanah. kami yang tiap hari memburu waktu, tiap pagi terduduk di lubang itu.
kami tak membuang limbah, hanya mengembalikannya ke tanah. dan lubang di kamar yang
pepat ini, selalu mengulang-ulang petuah: ke sana pula kau pulang, kelak di akhir hayat.

Foyer

kami sering terpaku di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu. tak ada akuarium di sini?
sudah cukup banyak ikan berenang di perut kami. di sini kami menghela jeda di sela-sela derum
nafas kami, lalu berhitung berapa langkah lagi untuk sampai di bidang ranjang, tempat kami
berdebat tentang kaki mana sebaiknya naik lebih dahulu: kiri ataukah kanan. ah, kami terlalu
sering berhitung hingga habis jemari kami, buntung oleh bilangan-bilangan setajam pisau
pancung.

di ruang ambang antara pintu dan ruang tamu ini kami sering terpaku. memandang tatap mata seseorang di lukisan dinding, sembari bertanya-tanya mengapa patung buddha itu terpejam matanya. buddha sedang samadi, katamu, dan kami begitu saja percaya. kami mengambang di antara pintu dan ruang tamu ini, bimbang antara menutup pintu di belakang kami atau melanjutkan tualang di padang kasur. tentu saja setelah menyapa patung buddha yang tertidur.

Patio

seperti pulau, biarlah di dalam rumah kami menggenang danau. sedikit ikan merah jingga dan teratai yang geming tenang, atau rumpun semanggi yang terambang. akan kami letakkan pula seonggok batuan karang dan kerakal dari sungai ingatan kami. meski kami ini pelupa, sesekali kami suka memfosilkan rindu dan air mata, tersimpan di relung batu dan kalbu kata-kata.

di danau di tengah rumah kami itu, kami menyimpan wangi ratus dan aroma kembang
harummalam, juga desir air yang meniru deras darah di pembuluh tubuh kami. kadang-kadang,

mimpi-mimpi kami suka bersampan di situ, memancing ikan-ikan merah jingga, hingga malaikat subuh menculik mereka kembali. membawa juga doa-doa sepanjang malam, ritual kami.

===
TS Pinang lahir di Semirejo, Pati, Jawa Tengah, 1971. Puisinya dimuat di beberapa antologi bersama, antara lain Antologi Bungamatahari (2006) dan Jogja 5,9 Skala Richter (2006). Saat ini tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *