(Surat Terbuka Buat Arif B Prasetya, W. Hariyanto, Fachrudin Nasrullah, Rahmat Giryadi)
S. Jai *
HAMPIR pasti tiada suatu negeri tanpa bayang-bayang penguasa. Fatalnya hal serupa terjadi pada negeri sastra -tempat berdiam puisi, prosa atau drama. Ini yang tertangkap dari sebalik ulasan kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo tentang “Jawa Timur Negeri Puisi,” Jawa Pos 25 Juli lalu.
Prosa berada di bawah bayang-bayang puisi. Sementara ekspresi penyair berada di sebalik kurungan keengganan dan kemiskinan berbahasa Indonesia. Dengan kata lain visi kepenyairan lebih berada di bawah ketaksadaran ketimbang kesadaran akan -dalam bahasa Gadamer- bildung, weltanchauung, sensus communis, judgement, taste. Continue reading “Posisi Negeri Pengarang di Jawa Timur”
