Sastra untuk Orientasi Bangsa

Abdul Aziz Rasjid*
http://www.lampungpost.com/

Orang Barat di dalam diriku telah membusuk
–Joseph Conrad, Under Western Eyes

KETIKA pihak kolonial sibuk menentukan peta geografis, geopolitis, geoekonomi, juga geokultural dengan cara membagi wilayah-wilayah kawasan Hindia-Belanda berdasarkan kepentingannya dengan mengabaikan realita sosial, politik, bahasa, adat yang mengakar di suatu wilayah; hadir roman Max Havelaar karya Multatuli, nama pena seorang asisten residen bernama Doewes Dekker. Continue reading “Sastra untuk Orientasi Bangsa”

Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta

(Tanggapan untuk Arif B. Prasetya)
W. Haryanto*
http://www.jawapos.co.id/

PANDANGAN Arif B. Prasetya tentang sastra Jawa Timur (Jawa Pos, 25 Juli 2010) bukanlah ”sesuatu yang baru”, tetapi hanyalah runutan catatan politis yang diperkenankan oleh Dewan Kesenian Jakarta terhadap sejarah Jawa Timur. Agus R. Sardjono secara eksplisit menyebut, kelisanan (orality) dalam kehidupan sastra modern Indonesia harus segera beralih menuju keberaksaraan (literacy) (pengantar buku Cakrawala Sastra Indonesia, 2004). Acuan Arif B. Prasetya pun tak jauh-jauh dari itu. Continue reading “Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta”

Negeri Fabel

Samsudin Adlawi
jawapos.co.id

SUDAH banyak sebutan untuk negeri ini. Sampai-sampai sulit mengingatnya. Memperhatikan fenomena akhir-akhir ini, julukan terbaru yang juga layak disandang negeri tercinta ini adalah negeri fabel. Fabel diambil dari bahasa Belanda. Yakni, cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya. Misalnya, cerita Kancil dan Tantri yang cukup populer di kalangan anak-anak Indonesia sejak dulu sampai sekarang. Continue reading “Negeri Fabel”

Bahasa ยป