Pemerintah, Seniman, dan Kesenian

Tri Purna Jaya
http://www.lampungpost.com/

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan pengayom masyarakat harus ikut andil dalam upaya pelestarian dan keberlangsungan proses kesenian.

Hal tersebut mengemukan pada diskusi Bilik Jumpa Seniman Mahasiswa (Bijusa) yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (20-2).

Tampil nara sumber dalam diskusi bertema Merangkul Penikmat dan Peminat Karya Seni di Lampung tersebut insan-insan seni yang sudah lama bergelut di dunia kesenian di Bandar Lampung yaitu manajemen Teater Satu Imas Sobariah, sastrawan Asaroedin Malik Zulqornain Ch. dan perupa Joko Irianta.

Imas Sobariah yang menyajikan makalah Manajemen dalam Teater mengatakan kembang-kempisnya kehidupan kesenian di Lampung disebabkan beberapa faktor, antara lain lemahnya setiap grup kesenian dalam memanajemen grup tersebut, baik itu dalam wilayah artistik ataupun nonartistik–dalam hal ini, Imas lebih menspesifikan paparannya mengenai grup-grup teater yang pernah ada di Lampung.

Manajemen tersebut, menurut Imas, sangatlah diperlukan untuk membuat sebuah grup kesenian dapat terus hidup. Kesadaran akan pentingnya manajemen organisasi yang baik, tentu saja akan melahirkan sebuah grup dengan pencapaian karya yang baik pula. “Wajib dipikirkan, bukan hanya artistik, melainkan nonartistiknya juga. Karena satu sama lain saling berkaitan,” ujar Imas.

Alhasil, akibat manajemen grup yang berantakan, kata Imas, yang menjadi salah satu konseptor Liga Teater SMA (Sekolah Menengah Atas) di Lampung tersebut, banyak grup-grup yang berguguran. “Ada yang tinggal sutradaranya. Bahkan ada yang hanya nama grupnya saja,” kata dia.

Ada beberapa catatan yang dibuat Imas mengenai permasalahan yang kerap “membungkus” grup-grup teater, semenjak ia berdomisili di Lampung pada 1994, antara lain mempunyai pola pikir dan ketergantungan terhadap segala sesuatunya menjadi tanggung jawab pemerintah; pola pikir bahwa teater itu kumuh, jorok, liar, dan membebaskan diri dari segala aturan; berteater baru hanya sebatas hobi, sehingga grup tak punya visi ke depan; terpusatnya konsentrasi pada wilayah artistik, sehingga wilayah nonartistik terabaikan; serta manajemen pambagian peran dan wilayah kerja yang kurang.

Dari catatan-catatannya tersebut, Imas yang menjadi pemateri tentang drama pada Woman Playwrights International Conference di Jakarta dan Ubud, Bali, pada 2006 tersebut, menemukan titik masalah yang paling penting. “Tidak semata-mata memikirkan produksi karya. Tapi wajib juga dipikirkan mengenai manajemen prduksinya,” kata Imas.

Hal itu, kata Imas, membuat konsentrasi hanya berpusat pada permasalahan melulu tentang produksi sebuah karya, sehingga masalah-masalah lain, misalnya publikasi, biaya, dan lain-lain, terabaikan. “Mau tidak mau, akhirnya jadi melulu mengandalkan pemerintah, misalnya soal dana,” kata Imas di hadapan sekitar 40 peserta diskusi yang terdiri dari mahasiswa, insan seni, serta penikmat seni di Bandar Lampung tersebut.

Namun, kata Imas, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap kesenian di daerahnya, karena pemerintah mempunyai tanggung jawab moral untuk mengembangkan setiap kesenian pada daerah lokalnya, baik itu kesenian tradisi ataupun modern. “Ada anggarannya tersendiri,” ujar Imas.

Meskipun demikian, Imas berpendapat hendaknya para seniman ataupun grup-grup kesenian di Lampung untuk sedikit merubah mindset-nya. “Kita tidak hanya mengandalkan pemerintah. Proses kesenian dapat terus berjalan, meski itu tanpa bantuan pemerintah,” kata dia.

Seni Rupa

Joko Irianta melalui makalah Perupa dan Apresiator banyak menceritakan suka-duka berkesenian, khususnya dalam seni lukis. “Untuk seni rupa terapan, masih bagus apresiasinya. Tapi, tidak pada seni rupa murni, khususnya seni lukis. Seni lukis hanya “laku” pada pameran-pameran,” kata Joko yang juga seorang kurator seni rupa.

Menurut pandangan Joko, ada kontradiksi. Untuk nilai apresiasi, seni lukis masih mendapat tempat di masyarakat Lampung. Namun, tidak pada sisi komersialnya. “Untuk seorang pelukis ternama di Lampung ini, lukisannya hanya laku dengan harga berkisar antara Rp2,5 juta–Rp12,5 juta. Itu pun terbatas pada pameran saja,” kata dia.

Hal tersebut, menurut Joko, membuat banyak pelukis-pelukis Lampung yang sebenarnya memiliki potensi dan bakat yang diakui oleh dunia lukis nasional. “Ada beberapa pelukis yang sering diajak pameran dengan level nasional, Koliman dan Nurbaito salah satunya,” kata dia.

Mirisnya, imbuh Joko, di Lampung sendiri apresiasi–dalam hal ini dari sisi komersil–terhadap karya-karya pelukis asal Lampung masih minim. “Kolektor lukisan di Lampung tidak diketahui. Jadi, selama ini hanya dengan sistem door-to-door,” ujar dia.

Untuk hal tersebut, menurut Joko, ia dan beberapa pelukis serta rekan, bersedia membantu jika ada pelukis-pelukis Lampung yang ingin mengadakan pameran. “Kalau ada yang mau pameran, kami bersedia membantu memanajemeni. Sebab, untuk membuat sebauh pameran seni lukis tidaklah sederhana. Harus menarik dan berkonsep jelas. Mulai dari tema sampai kuratornya,” kata Joko.

Apresiasi, menurut Joko, tidak melulu hanya berkutat pada laku atau tidaknya suatu lukisan. “Uang itu hanya sebagai “akibat”. Apresiasi itu bisa juga dari mengamati, mengkritisi, atau pun menuliskannya agar khalayak bisa memahami seni rupa/lukis tersebut,” ujar Joko.

Joko mencatat, perlu motivasi berlebih untuk bisa menghidupkan minta atau apresiasi terhadap kesenian dari warga Lampung, dalam konteks Joko adalah seni lukis. “Karena banyak bibit-bibit potensial di sini. Memahami seni rupa itu bertingkat-tingkat atau berulang-ulang,” kata dia.

Berkaitan dengan apresiasi masyarakat terhadap seni/kesenian, A.M. Zulqornain mengatakan jika ingin sebuah seni/kesenian bisa “laku” atau diminati, hendaknya membuat sesuatu yang unik. Terpenting lagi, kata Zulqornain, warna lokal. Karena warna lokal tersebut menyangkut nilai-nilai tradisi.

“Ekspolitasilah nilai-nilai kearifan lokal yang ada. Itu perlu saat ini. Dan, saya lihat sekarang, masih belum belum kelihatan eksploitasi itu,” kata dia.

Namun, kata Zulqornain, kesenian hendaknya dikembalikan ke hakikat asalnya, yakni “rasa”. “Seni itu “rasa”. Antilogika,” ujar dia.

Alhasil, dengan melihat kondisi yang sedang terjadi sekarang di dunia kesenian Lampung, baik itu modern ataupun tradisi, pemerintah tidak boleh menutup mata, karena pemerintah adalah pengayom dan pembimbing masyarakat dan bukanlah penguasa an sich.

Di pihak para penggiat seni, hendaknya tidak selalu menggantungkan “nasib”-nya kepada pemerintah. Sebab, tanpa bantuan pemerintah, proses berkesenian akan tetap berjalan. Oleh sebab itu, para penggiat seni harus terus berkesenian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *