Puisi-Puisi Denny Mizhar

Bulan Sabit di Balik Jendela

kau yang mengancamku dari balik jendela tak juga beranjak pergi. menerangi tak sempurna setapak hatiku. mengantung-gantung di pohon trembesi tempat aku menunggu bila matahari berlahan angslup di tepi barat rumah yang aku huni.

kau menghampiriku memberi kisah tak pernah tuntas menjadi kenang purnama. hanya pancarkan cahaya merah berkilauan membuatku silau.

(aku kembali pertayakan sepi yang bening)

kututup jendela. kau menahan dengan lancip sabit. menusuk suratan hati yang telah bercahaya kembali.

Malang, Juli 2010

Waktu Pisau Menikam Tubuh

detak rindu
melodi pilu

dari angka-angka ganjil
di dinding tubuh runtuh

mengepak
jejak waktu
memburu
menikam
resah kalbu

mawar di mata melahan jatuh
menggerimis darah berwarna ungu

jarum jam beku
sejarah tertulis
menebar amis

lukisan kupu-kupu di pipi
bermetamoforsif menjadi ulat dungu
merambat mengelilingi pusaran waktu

hilang satu
darah beku
hilang dua
kepala pecah
hilang tiga
leher patah
hilang empat
dada terbelah
hilang lima
perut mengembung
hilang enam
setengah tubuh
tak dapat dirasa

pisau masih mewaktu
dalam angka raga
hendak berdetak-detak
tetapi kalah
menyiasati jiwa

Malang, 2010

Memulangkan Resah
:lis

i
pada kata yang meretakkan gelisah
aku membuka lebar rongga sukma

segala desah tentang air mata
mengalir pada muaranya

bias cahaya menelusup di kediaman duka
memberi terang pada kegelapan rasa
sebab aku telah membasuh darah
yang meluber dari patahan hati merah muda

ii
hai, gadis bermata sayu
keluarlah dari ruang sunyimu
pandanglah gemerlapan lampu kota
hingga hilang segala resah

sebab aku tak mau gelisah
melihatmu murung memikirkan cinta
letakkan saja pada tempatnya
simpan rapat segala lara

:semakin membayang semakin tak dapat hilang semakin dekat. oh, semakin aku yakin. kau rupanya dan kau akhirnya. aku pun diam dalam puisi mengukuhkan diri memulangkan resah

Malang, Juli 2010

Lonceng Malam

aku adalah rindu
berdenting melengking
memanggil kekasih
di balik sepi

menyibak pekat malam
arungi angin berdesir
merinding pada hening
mengigil pada bunyi

aku adalah kekasih
tak dapat berlari
dari peluk tubuh
dari basah kata
dari suara resah

Malang, 2010

Sajak Untuk Aku

Hai, aku. Lihatlah kunang-kunang yang kau simpan tak berkerlipan. Lepaskanlah pada udara bebas agar ia dapat melesat pada ketinggian. Biarkan langit menggapai segala asanya yang ia endapkan.

Hai, aku. Tak usah lagi kau tulis jejak lukamu yang membuatnya tak betah tinggal denganmu walau hanya mencium bau anyir darahmu. Rebahkanlah ia jauh dari tubuhmu yang penuh darah dari duka masa lalumu hingga kini masih belum mengering.

Hai, aku. Selami sukmamu sedalam kau membaca Tuhanmu. Agar harum mawar menebar wewangian kebahagiaan yang lama ia idam-idamkan. Tak usah kau kunci egomu dengan gembok yang kuat hingga tak ada lagi cela untuk keluar.

:Sebab aku memandangmu, wahai kunang-kunangku dengan kebebasan membiaskan venus menuju rumahNya. Berkerliplah di gelap malam di taman kamboja hingga sepi menjadi riang tanpa kelam.

Malang, 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *